-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Wednesday, 11 July 2012

Kisah Pemuda yang Memutuskan Menjadi Petani

No comments :


Di tengah lahan pertanian organik di daerah Cipanas Puncak, tampak Kang Maryadi, yang biasa disapa Kang Iyod, sedang memanen bayam sambil mengajarkan beberapa pemuda bercocok tanam. Bayam dan beberapa sayuran lainnya ini akan dikirimkan ke Kemchicks keesokan harinya. Kang Iyod ini adalah koordinator pertanian organik The Learning Farm (TLF), salah satu pemuda yang jalan hidupnya berubah semenjak mengenal yayasan dengan nama lengkap The Learning Farm Karang Widya ini.

Awal Mula

Semenjak lulus SMA di Bogor, Kang Iyod memutuskan untuk mulai mencari nafkah. Tidak memiliki banyak pilihan dalam mencari pekerjaan, ia pun bergabung dengan seniornya menjadi kontraktor bangunan. Selama satu setengah tahun, Kang Iyod bekerja dari satu proyek ke proyek yang lain di sekitar Jawa Barat. Pada tahun 2006, seniornya membubarkan kelompok kontraktor bangunan itu. Kang Iyod mulai mencari pekerjaan lain yang akan dilakoninya.

Pemuda rentan adalah anak-anak yang terancam terjebak dalam lingkaran kemiskinan, kekerasan, tindak kriminal, obat-obatan terlarang, ataupun HIV/AIDS. Mulanya TLF mendidik pemuda rentan dari berbagai kota, umumnya anak-anak jalanan. Namun setelah ditelusuri, sebenarnya banyak anak jalanan ini yang sebenarnya pemuda desa yang silau dengan gemerlap kota besar. Oleh karena itu untuk mencegah bertambahnya pemuda rentan, selain mendidik anak-anak jalanan TLF bekerja sama dengan LSM-LSM lokal dalam merekrut calon peserta pendidikan dari berbagai daerah.


Ia pun mendengar kabar bahwa ada yayasan yang menerima pemuda rentan yang memiliki motivasi untuk belajar pertanian organik selama beberapa bulan. Ya, belajar. Perlu diketahui bahwa di lingkungan Kang Iyod, belajar adalah hal yang agak dijauhi. Orang-orang di sekitarnya enggan untuk mempelajari hal-hal yang baru, walau dengan belajar itu dapat membuka peluang kehidupan yang lebih baik.

Mengajukan Diri

Untuk melamar ke TLF ini, ia meminta rekomendasi dari kelompok tani di daerahnya. Dengan bekal kepercayaan dari kelompok tani di Bogor, Kang Iyod mengajukan diri untuk belajar pertanian organik di The Learning Farm. Program The Learning Farm saat itu dirancang untuk berjalan selama 6 bulan, dengan peserta anak-anak jalanan dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari barat hingga ke Indonesia timur. Ia pun bergabung bersama sekitar 30-an anak jalanan lainnya mempelajari secara langsung cara-cara bertani organik sebagai peserta The Learning Farm angkatan ketiga di Cisarua, Bogor.

Seminggu Pertama

Selama di asrama, Kang Iyod berinteraksi dengan anak-anak jalanan dari berbagai daerah. Budaya anak-anak jalanan yang cukup keras membuat Kang Iyod tidak betah tinggal dan belajar bersama di The Learning Farm. Seminggu pendidikan berjalan, Kang Iyod memutuskan untuk berhenti belajar di The Learning Farm, keluar dari asrama dan kembali ke daerah asalnya.

“Around here, however, we don’t look backwards for very long

We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we’re curious

And curiousity keeps leading us down new paths”
Walt Disney

Kita membutuhkan kerendahan hati untuk mempertanyakan baik buruknya keputusan yang telah kita ambil. Lebih dari itu, kita membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita.


Di rumahnya Kang Iyod kembali menjalani rutinitasnya sehari-hari. Melihat Kang Iyod yang kembali ke rumahnya, kelompok tani yang mempromosikan Kang Iyod ke The Learning Farm mulai mempertanyakan alasan Kang Iyod kembali pulang. berhari-hari kembali ke daerahnya, ia pun merasa jenuh dengan rutinitasnya. Pada hari kelima, ia memutuskan kembali ke asrama The Learning Farm Karang Widya, mencoba beradaptasi dengan lingkungan asrama. Ia ingin belajar untuk masa depan yang lebih baik.

Belajar di TLF

TLF menerapkan disiplin bagi seluruh siswa-siswinya. Jadwal mereka diatur, berbeda dengan kehidupan anak jalanan yang lebih leluasa. Ada memang keraguan, bisakah para pemuda rentan ini mengikuti disiplin yang diterapkan di asrama TLF? Ternyata bisa. Kang Iyod dan teman-temannya menjadi terbiasa beraktivitas sejak subuh hari. Mulai jam setengah enam pagi seluruh siswa harus membersihkan asrama. Jam tujuh pagi dilakukan apel untuk mempersiapkan aktivitas sepanjang hari. Dilanjutkan dengan kegiatan terjun ke lahan pertanian, bercocok tanam hingga jam dua belas siang.

Makan siang pun harus dilakukan bersama-sama. Setelah makan siang anak-anak boleh beristirahat hingga jam satu siang. Jam satu, anak-anak berkumpul dan fasilitator Pak Ridwan dan Pak Saryoto mengajarkan teori bertani organik. Di kelas ini, anak-anak juga mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi saat terjun di lapangan. Dengan metode ini, anak-anak lebih cepat menangkap materi karena sudah tervisualisasikan dalam pikiran mereka.

Selepas kelas pada sore hari, anak-anak memiliki waktu bebas. Kadang digunakan untuk datang ke lahan lagi, belajar keterampilan lain seperti komputer, ataupun mengobrol dengan teman lainnya. Jam sepuluh malam, anak-anak sudah harus tidur agar siap menghadapi aktivitas keesokan harinya. Rutinitas ini wajib diikuti oleh seluruh penghuni asrama kecuali pada hari minggu. Mulai sabtu malam hingga esoknya, jadwal kegiatan seluruh anak dibebaskan.

Mungkin timbul pertanyaan, apakah mereka dapat bertahan belajar di asrama, dengan seluruh disiplin yang dierapkan? Ternyata mereka bisa. Awalnya sulit, namun seminggu dua minggu anak-anak ini bisa beradptasi.

Ada pula pengunjung yang mempertanyakan. Apakah anak-anak ini tidak ada yang kabur? Karena memang asrama TLF tidak tertutup rapat, anak-anak TLF dapat keluar masuk asrama dengan leluasa. Ternyata dalam sejarahnya, belum ada anak yang melarikan diri. Ada memang yang merasa tidak betah dengna kehidupan di asrama dan memutuskan untuk keluar dari asrama dan tidak belajar di TLF lagi, namun jumlahnya sedikit. Kebanyakan anak merasa kerasan setelah tinggal cukup lama di asrama.

Bertani organik menuntut anak-anak ini untuk lebih banyak berpikir mengenai tanaman. Jika dalam metode konvensional mengusir hama tanaman disemprotkan dengan insektisida ataupun pestisida, dalam metode organik petani harus mencari musuh alami dari setiap hama. Contohnya saja di sekitar lahan ditanami tanaman lavender untuk mengusir serangga-serangga. Selain itu anak-anak juga belajar membuat ekstrak daun tembakau untuk menjadi pestisida nabati. Pestisida nabati atau pesnab ini lebih ramah lingkungan karena cara kerjanya mencegah hama datang bukan membunuh hama yang sudah ada.

Selain itu, anak-anak ini belajar pula standar sayuran organik agar layak jual. TLF menyuplai sayuran ke Kemchicks tiga kali seminggu dan anak-anak ini yang mempersiapkan dan menyeleksi sayuran-sayuran yang akan dikirim. Sisa dari sayuran itu digunakan sebagai pakan kelinci dan kambing yang diternakkan di sekitar lahan pertanian.

Tidak semua anak-anak yang dibina di TLF adalah warga negara Indonesia. Jackie, seorang pemuda asal Timor Leste, kini belajar juga di TLF bersama teman-teman lainnya. Tak ada perbedaan perlakuan yang ia terima selama belajar di sini, baik dari teman-temannya ataupun dari fasilitator. Hanya saja setiap sebulan sekali ia perlu datang ke Jakarta untuk memperpanjang visanya.

Kehidupan Pasca TLF

Banyak yang mempertanyakan, apa yang bisa didapat dari 6 bulan di TLF? Apakah bisa mengubah anak-anak yang kecanduan alkohol menjadi pekerja keras. Tujuan utama dari TLF sebenarnya adalah merangsang pemuda rentan untuk mengalami perubahan sikap. Sikap-sikap negatif seperti premanisme, tawuran, dan kecanduan obat-obatan diubah menjadi sikap yang positif yakni keinginan untuk berkarya.

Bercocok tanam membuat pemuda-pemudi ini memiliki kebanggaan atas diri mereka sendiri, bahwa tangan mereka dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain. Ada salah satu peserta The Learning Farm yang terbiasa mencari gara-gara. Ia selalu memukul orang-orang yang ditemuinya, siapapun. Begitu pun saat mulai belajar di The Learning Farm, hampir setiap peserta pernah ia pukul. Ada saja masalah yang timbul. Namun, setelah seminggu bercocok tanam, ia menyadari bahwa tangannya bisa melakukan lebih banyak hal yang berguna dibandingkan menghajar orang. Selain itu, kebiasaan minum alcohol pun sudah bisa ia tinggalkan. Ada rasa bangga dalam dirinya bahwa ia bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain.

“Basketball to me is more than just a game. It’s been a teacher of life”
Michael Jordan

Bagi pemuda-pemudi ini, bercocok tanamlah yang mengajari mereka kehidupan, tentang siklus kesuksesan. Namun sebenarnya setiap hal yang kita tekuni, profesi yang kita jalani, yang bermanfaat bagi orang lain dapat mengajari kita tentang kehidupan. Michael Jordan belajar tentang kehidupan dari bola basket. Begitu pun kita dan pekerjaan kita. Keseriusan dan ketulusan kita untuk terus belajar dalam bidang yang kita geluti akan memberikan timbal balik berupa pemahaman akan arti hidup.


Banyak hal yang ia pelajari selama berada di The Learning Farm. Bercocok tanam secara organik memerlukan lebih banyak perhatian dibandingkan dengan metode konvensional. Belajar bercocok tanam mengajari mereka tentang kehidupan, tentang siklus kesuksesan. Tidak ada tanaman yang langsung berbuah ketika ditanam, semuanya membutuhkan proses dan usaha agar benih dapat tumbuh dengan baik dan dapat dipanen pada waktunya. Begitu pula dalam kehidupan manusia, tak ada orang yang dapat memperoleh hal-hal yang ia inginkan tanpa usaha. Semuanya butuh waktu dan pengorbanan.

Bercocok tanam membuat Kang Iyod dan teman-temannya untuk menjadi tidak egois. Mereka menjadi lebih memikirkan lingkungan di sekitar mereka, benih yang mereka tanam membutuhkan perhatian agar dapat tumbuh dengan baik.

Selepas 6 bulan, Kang Iyod pun lulus dari pendidikan The Learning Farm dan mendapatkan tawaran untuk bekerja di pabrik di Karawang. Budaya disiplin selama di lahan pertanianlah yang ia bawa ke tempat kerjanya yang baru. Ia bekerja di Karawang selama 4 tahun hingga akhirnya pada tahun 2011 ia dipanggil oleh yayasan The Learning Farm untuk menjadi koordinator lapangan, membina juniornya, pemuda-pemudi peserta pendidikan.

Ada pula teman-teman Kang Iyod, sesama alumni The Learning Farm, yang mulai terjun ke masyarakat memperkenalkan pertanian metode organik. Petani sudah terbiasa bercocok tanam menggunakan pupuk sintetis walaupun mengurangi kualitas dari tanah serta menyemprotkan pestisida dan insektisida walaupun menjadikan sayuran yang dipanen menjadi beracun dan membunuh hewan-hewan yang bermanfaat bagi kesuburan tanah seperti cacing misalnya.

Para alumnus The Learning Farm ini kembali ke daerahnya masing-masing, mengajak para petani untuk mulai menggunakan pupuk organik dan pestisida nabati. Tentu saja, ada penolakan para petani yang mereka hadapi. Cara bertanam modern yang dimulai sejak masa orde baru sudah menjadi semacam pakem dalam bercocok tanam. Diperlukan usaha ekstra untuk meyakinkan para petani untuk menerapkan metode organik ini. Namun para alumnus ini merasa bahwa perubahan ini layak untuk diperjuangkan agar masyarakat menjadi lebih sehat dan sejahtera.

No comments :

Post a Comment