Saturday, 11 April 2015
Jurnal Fasil Kejar Aurora: Bermain Berhitung, Memangku Anak, dan Dongeng Boneka Tangan
Ada 3 aktivitas yang saya lakukan di Kejar Aurora hari ini:
bermain berhitung, mengangkat anak, dan bermain boneka tangan
Bermain berhitung
Pemainan ini terinspirasi dari serial drama Jepang,
Dragonzakura. Drama yang saya tonton saat SMA dulu sangat menginspirasi saya
dalam hal prinsip dan metode mengajar. Belajar itu harus menyenangkan. Tapi jangan sampai terjebak jadi hanya haha-hihi. Harus tetap ada
pembelajaran yang didapat.
Salah satu metode belajar dalam Dragonzakura adalah
menggunakan kartu remi untuk belajar berhitung. Metode ini menantang bagi anak
sekaligus melatih kemampuan berhitungnya dengan lebih cepat.
Metode berhitung dengan kartu remi ini cocok untuk anak yang
kemampuan berhitungnya masih belum lancar. Berikut ini cara bermainnya:
1.
Sediakan satu set kartu remi, lalu ambil hanya
kartu As dan kartu bernomor 2-10
2.
Kocok kartu
3.
Keluarkan satu kartu, misal yang keluar kartu 8
hati, minta anak untuk menyebutkan angka pada kartu tersebut
4.
Setelah itu keluarkan kartu berikutnya, minta
anak untuk menjumlahkan kartu pertama dan kartu kedua. Misal yang keluar 4 wajik, maka anak harus menyebut
12 yakni hasil dari 8 ditambah 4
5.
Keluarkan kartu berikutnya, lalu minta anak
untuk menjumlahkan lagi hasil sebelumnya dengan angka pada kartu tersebut.
Misal yang keluar 2 hati, maka anak harus menyebut 14, hasil dari 12 ditambah 2
6.
Terus keluarkan kartu satu per satu sampai semua
kartu di tangan habis
7.
Jika hasil perhitungan anak tepat, hasil
penjumlahan seluruh kartu akan menjadi 220
8.
Untuk kartu As dihitung sebagai angka 1
9.
Akan lebih menarik jika waktu anak menghitung
diukur dengan stopwatch dan dilombakan dengan teman-temannya
Biasanya hasil dari permainan ini akan terlihat kira-kira
setelah 10 kali bermain. Kemampuan anak dalam berhitung akan meningkat lumayan
banyak.
Namun ada yang cukup mengejutkan di Kejar Aurora hari ini.
Salah satu anak ternyata punya kemampuan berhitung yang cukup bagus. Uji,
seorang anak kelas 1 SD, sudah lumayan lancar menghitung mulai dari kartu
pertama sampai selesai, di angka 216 (satu kartu angka 4 di set saya hilang).
Menemukan bakat anak di momen-momen seperti ini menurut saya
priceless. Di pertemuan berikutnya
kami di Kejar Aurora bisa mulai mengembangkan bakat Uji di bidang matematika
ini. Semoga saja bisa membuat Uji lebih termotivasi untuk belajar ke depannya.
Memangku anak
Ada sekitar 10 anak yang saya ajak berhitung dengan kartu
remi hari ini. Apa yang membuat anak-anak ini mau repot-repot berhitung?
Tentu saja karena ada insentifnya. Apa yang menjadi motivasi
anak? Ini yang saya ucapkan sebelum bermain kartu, “Main berhitung bareng saya
yuk! Nanti kalau berhasil saya angkat ya.” Anak-anak pun semangat mengantre
untuk ikut bermain.
Ada beberapa pilihan mengangkat yang disukai anak-anak: gaya pesawat, diangkat ke atas pundak,
digendong di punggung, dan dipegang di ketiaknya lalu diangkat.
Kebanyakan anak sangat suka diangkat seperti ini. Bukan
hanya diangkat, tapi juga dibawa jalan-jalan saat diangkat. Bahkan berlari
kalau bisa, lalu diputar-putar. Dibawa naik turun. Anak akan sangat senang jika
ada orang dewasa yang melakukan hal ini untuknya.
Mengapa anak suka saat dipangku? Mungkin karena menantang
bagi mereka. Mungkin juga karena mereka bisa memandang sekitar dari angle yang lebih tinggi. Namun penjelasan
menarik ada di lirik lagu “Dance with My Father.”
Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then
Spin me around till I felt asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure I was loved
Anak ingin merasa dicintai oleh orang di sekitarnya. Dengan
ada orang dewasa yang mau bermain bersama mereka, mengangkat-angkat mereka
sampai kelelahan. Anak merasa dicintai.
Perasaan merasa dicintai saat anak masih kecil inilah, yang
mungkin akan membantu anak di saat mereka dewasa bahwa mereka akan selalu punya
harapan. Bahwa mereka layak untuk dicintai apa adanya, namun bukan seadanya.
Bermain boneka tangan
Boneka tangan sangat membantu untuk mengakrabkan diri dengan
anak. Ini yang membuat saya selalu membawa boneka tangan di tas. Kalau mau
kenalan dengan anak-anak, cukup pakai boneka tangan dan ia akan lebih nyaman
berinteraksi dengan kita.
Dari boneka tangan ini, saya menemukan potensi baru
lagi. Namanya Martha, sekarang kelas 1 SMP. Sejak pertama bertemu rasa percaya
dirinya memang sudah tinggi. Tidak ragu untuk berpendapat.
Martha pinjam 2 boneka tangan yang saya bawa, si gajah dan
si bebek. Lalu ia mengarang cerita dengan 2 intonasi yang berbeda untuk gajah
dan bebek.
Bebek: “Kamu tahu ga? Aku lagi senang lho!”
Gajah: “Senang kenapa emangnya Bek?”
Bebek: “Aku senang soaPlnya kemarin aku kepeleset?”
Gajah: “Kenapa senang kepeleset? Itu kan sakit, biasanya
sedih kalau kepeleset.”
Bebek: “Soalnya kepeleset ke hati kamu.”
Duh, ceritanya bikin mau muntah. Habis beres itu cerita,
saya dan Martha muntah bareng-bareng (haha :p). Orisinalitas dan rasa percaya
diri ini yang mahal. Jarang ada anak yang survive
masuk SMP dan masih punya hal ini.
“In learning you will teach, and in teaching you will learn,”
begitu kata Phil Collins. Ini refleksi yang saya dapat dari Kejar Aurora hari
ini. Yang saya terima jauh lebih banyak dari sedikit yang saya berikan.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment