Wednesday, 26 September 2012
Corat-Coret Sana-Sini: Di Dalam Ruang Makan
Dalam drama Kekkon Dekinai Otoko, Abe Hiroshi berperan menjadi Kuwano Hiroshi. Arsitek berumur 40 tahun yang tidak tertarik sama sekali dalam hubungan antar manusia. Ia sering mengalami masalah dalam menghadapi klien, sikap keras kepalanya seringkali berseberangan dengan keinginan klien. Namun masih cukup banyak yang meminta desainnya karena hasilnya memuaskan.
Saat interview untuk satu pekerjaan, saya beberapa kali diwawancara di restoran. Saya senang-senang saja bertemu pewawancara di sana, toh makannya ditraktir. Namun setelah diterima, saya diberi tahu alasan mewawancarai calon karyawan di tempat makan.
Perut seringkali menjadi bagian tubuh yang menyita seluruh pikiran seseorang. Begitu kebutuhan perut tercukupi, seringkali baru kita bisa beraktivitas* dengan konsentrasi penuh. Secara tak sadar, aktivitas makan akan mengalihkan konsentrasi kita terhadap berbagai masalah yang sedang kita hadapi.
Kita menjadi lebih defenseless saat makan. Tubuh kita menjadi lebih jujur ketika sendok sedang meluncur ke mulut. Barrier dalam pikiran kita pelan-pelan mencair, sifat asli kita akan lebih mungkin muncul. Oleh karena itu, ketika interview peluang pelamar untuk merekayasa jawaban menjadi lebih kecil.
Ketika makan, kita juga lebih terbuka untuk menerima pendapat orang lain. Mungkin inilah penyebab banyak pebisnis mencoba mendapatkan proyek dengan mengajak makan. Banyak kesepakatan yang bisa dihasilkan di ruang makan.
Banyak juga ide-ide yang bermula dari ruang makan, seringkali diskusi non formal sambil ngemil malah lebih efektif dalam mencari ide daripada diskusi panjang di ruang rapat.
Joko Widodo sangat mengerti filosofi perut dan makan ini. Saat ingin mengembaikan taman kota Solo menjadi pusat kegiatan masyarakat yang nyaman, Joko Widodo mengajak para PKL makan bersama. Dibutuhkan 52 kali makan bersama, namun menjadi prestasi yang bagus dalam mengajak orang bekerja sama. PKL rela pindah ke tempat yang ditentukan pemerintah kota. Taman kota pun kembali anggun.
Saat mencari pemimpin, salah satu cara mencari pemimpin yang baik bisa dilihat dari kebiasaan makannya. Apa yang biasa mereka makan, kapan saja mereka makan, dengan siapa saja mereka makan.
Ketiganya termasuk orang yang mapan, orang-orang yang terpandang dan sangat mampu menghidupi diri. Namun mereka mendahulukan kepentingan orang lain sebelum dirinya. Hanya makan setelah semua orang bisa makan.
Hushain bin Ali ra. memberi contoh yang baik dalam menjadi pemimpin tanpa mahkota. Beliau seringkali terlihat makan di jalanan bersama orang-orang miskin. Padahal beliau adalah cucu sekaligus anak dari kepala Negara. Hasilnya beliau menjadi orang yang sangat disegani warganya. Beliau juga menjadi orang yang dikagumi banyak pemimpin besar saat ini.
Bagi pemimpin, kebiasaan makan seperti ini sebenarnya akibat dari kepedulian mereka atas kepentingan orang lain. Bentuk yang nampak dari hati mereka yang tidak menganggap kepemimpinan itu for granted, tetapi beban berat yang harus mereka tanggung.
SBY juga pernah mengekspos acara makan bersama keluarga. Kita sebenarnya bisa menilai kepemimpinannya dengan tayangan singkat itu.
Banyak hal yang bisa kita pelajari hanya dari kebiasaan makan seseorang. Kemampuan memperhatikan kebiasaan makan orang lain akan jadi skill yang cukup berguna untuk menilai orang lain. Lebih utama, memperhatikan kebiasaan makan diri sendiri bisa jadi modal baik untuk mengevaluasi diri sendiri.
*) pada mayoritas orang, memang mengenyangkan perut seringkali menjadi salah satu bagian utama hidup mereka. Namun ada beberapa pengecualian, begitu kita meniatkan beribadah perut ini bisa tergeser prioritasnya. Contohnya saja saat beribadah shaum, atau pemimpin yang baru mau mengisi perutnya setelah seluruh rakyatnya kenyang. Justru di masa-masa seperti inilah produktivitas mereka menjadi maksimal.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment