Sunday, 11 November 2012
Memberi Makna pada Sejarah
Beberapa tahun yang lalu, ada “sinetron” Indosiar yang saya tonton. Judulnya Dae Jang Geum. Well, memang bukan sinetron Indonesia tapi drama Korea yang didubbing oleh Indosiar. Serial ini mengisahkan perjalanan tabib wanita pertama di dinasti kerajaan Korea. Butuh seorang wanita tangguh untuk bekerja di dunia pengobatan klasik yang umumnya didominasi oleh pria, inilah angle yang diambil oleh serial ini. Selain berbagai intrik kerajaan lainnya tentunya.
Pada bagian akhir cerita, Jang Geum keluar dari istana lalu bertemu seorang wanita hamil di pedalaman hampir tak berpenghuni. Air ketuban wanita ini sudah pecah dan kondisinya kritis, ia tidak bisa melahirkan secara normal. Akhirnya Jang Geum, wanita luar biasa ini dengan peralatan seadanya dan tanpa bantuan seorang pun melakukan operasi caesar hingga akhirnya ibu dan bayinya bisa disembuhkan.
Saat menontonnya, saya merasa ‘wow.’ Entah bagian ini benar atau tidak. Memang tidak ada yang menyaksikan peristiwa sebenarnya tentang operasi ini selain Jang Geum, sang ibu hamil, dan si bayi (yaah, yang ketiga tampaknya tidak bisa masuk hitungan). Namun menariknya adalah bagaimana Negeri Ginseng yang sedang naik daun ini mencoba memberi makna pada perjuangan leluhurnya. Karena memang sinetron, memang tidak semua peristiwa dalam serial itu memang seperti itu (tidak ada buku sejarah yang menceritakan tiap adegan bukan?). Interpretasi tim pembuat film memberi makna terhadap peristiwa yang mereka ceritakan ulang.
Cerita Dae Jang Geum ini mengingatkan saya akan kuliah yang diberikan oleh Roby Muhamad pada kelas Akademi Berbagi Jakarta (tepatnya tanggal 1 November 2012) tentang sejarah dan prediksi peristiwa sosial. Pada kelas itu, Roby menekankan bahwa suatu peristiwa itu sendiri sebenarnya tidak begitu memiliki makna yang signifikan. Suatu peristiwa menjadi bermakna tergantung bagaimana orang-orang di masa depan memaknai peristiwa tersebut. Bingung kan yah? Roby memberi contoh yang membuat saya mengerti konsep ini.
Saat ini di berbagai literatur dan juga pandangan banyak orang, peristiwa Revolusi Perancis dipicu, mencapai momentumnya, lewat penyerangan penjara Bastille. Simbol pengekangan ekspresi dan aktivitas masyarakat oleh tiga belenggu: kerajaan, tuan tanah/bangsawan, dan dogma. Namun di mata orang-orang pada saat penyerangan Bastille berlangsung, tidaklah seperti itu.
Peristiwa Bastille bermula dengan ditangkapnya segerombolan penjahat oleh polisi namun orang-orang ini tidak terima ditahan. Mereka memberontak dan balik menyerang para polisi hingga akhirnya polisi-polisi takluk. Di kantor polisi, gerombolan ini menemukan setumpuk senjata. Setelah mereka periksa, ternyata senjata-senjata ini tidak memiliki amunisi. Mereka pun berpikir di mana bisa mendapatkan peluru ataupun bubuk mesiu untuk bisa ‘memberdayakan’ senjata yang baru mereka temukan. Satu kata yang mereka sepakati: Bastille. Penjara semacam Nusakambangan pada masa Orde Baru atau Guantanamo pada saat ini.
Penyerangan Bastille ini tidak terkontrol. ‘Kenakalan’ geng dicampur dengan luapan kemarahan masyarakat dan tahanan menyebabkan pembantaian di dalam benteng. Darah menggenangi penjara. Banyak korban tertumpah. Penjara diambil alih dengan hukum rimba. (peristiwa Bastille ini diilustrasikan ulang dengan sangat baik oleh Christopher Nolan dalam The Dark Knight Rises, pemberontak yang dipimpin Bane menyerang penjara Gotham hingga akhirnya luapan penjahat-penjahat yang ditangkap tanpa diadili terlebih dahulu menguasai meja hijau kota.)
Melihat pemberontakan yang terlalu biadab, para pemimpin Revolusi Perancis kebingungan. Bastille ini memang simbol penindasan rakyat. Pengambilalihan Bastille sejalan dengan arah revolusi dan bisa menjadi momentum untuk menggerakkan rakyat. Namun, pembantaian ini terlalu kejam untuk dijadikan momentum revolusi. Banyak debat dan perundingan dilakukan. Hingga dua minggu setelahnya, barulah para pemimpin revolusi menyatakan penyerangan Bastille adalah titik awal revolusi dan menggunakannya untuk menggulingkan penguasa lama, membentuk sistem yang kini kita kenal sebagai demokrasi.
Begitulah, orang-orang pada hari penyerangan melihat penyerangan ke penjara Bastille namun tidak melihat hal tersebut sebagai peristiwa yang mengubah Perancis. Orang-orang yang ada pada dua minggu kemudianlah yang memberikan makna. Menggaungkannya di tengah masyarakat. Membuat berbagai tulisan, menyebarkan gosip di masyarakat, menggaungkan berbagai orasi hingga masyarakat Perancis bergerak melawan tirani. Makna yang dibuat para penggerak revolusi Perancis itu terus diwariskan ke berbagai generasi ke bermacam negara. Kini, kita masih memaknai penyerangan Bastille sebagai pemicu Revolusi Perancis dan titik awal lahirnya demokrasi. Proses pemaknaan inilah yang dijadikan orang-orang Korea untuk menghidupkan perjuangan tabib Jang Geum di generasi kini dan mendatang.
Bukan hanya revolusi Perancis ataupun film Dae Jang Geum, sejarah negeri ini (dan berbagai negara lainnya) juga memiliki pola pemaknaan yang sama. Penculikan jenderal dalam G30S dimaknai oleh tentara (yang dipimpin oleh kamu-tahu-siapa) sebagai pengkhianatan terhadap NKRI dan menggunakannya untuk mengambil alih pemerintahan dan menggerakkan kaum nasionalis dan agamis untuk melibas komunis.* Saat masa Orde Baru pula, penguasa menggunakan makna ini untuk melanggengkan kekuasaannya, lewat film luar biasa mahal G30SPKI. Begitu pula penembakan 4 Mei 1998, pada hari penembakan itu berlangsung belumlah dimaknai sebagai momentum reformasi. Baru setelah sang presiden turunlah, hari tersebut dimaknai mendalam dan para korban dijadikan Pahlawan Reformasi.
Bangsa yang besar itu berisi orang-orang yang menghargai sejarahnya. Bagi saya, menghargai sejarah itu memberikan makna terhadap peristiwa-peristiwa di masa lalu. Menghargai sejarah itu memberi makna terhadap perjuangan ‘para raksasa,’ pahlawan-pahlawan, yang mendahului kita. Dengan memberi makna, semoga kita bisa ikut berdiri di atas pundak para raksasa dan menjangkau pencapaian-pencapaian pada batas terluar kemampuan kita. Selamat Hari Pahlawan!
*) pada saat itu dihembuskan isu bahwa pengikut PKI itu atheis yang antiagama. Namun saya sendiri sebenarnya ragu komunis Indonesia (terutama para petani) itu atheis juga, seperti di negara asalnya. Para petani, yang elit PKI jadikan basis perjuangan, adalah para pahlawan yang menopang kebutuhan fisik utama leluhur kita, mengisi perut. Petani-petani ini sedang kelaparan juga di tengah negara yang memang miskin saat itu. Mereka hanya merasa PKI cukup memperhatikan mereka, bukan berarti atheis juga.
No comments :
Post a Comment