-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Sunday, 24 March 2013

Gaya Memimpin Lincoln & Habibie

No comments :
Tahun 2012 lalu, Steven Spielberg memproduksi film drama sejarah Lincoln, yang diadopsi dari buku Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln karya Doris Kearns Goodwin. Ketika meneliti untuk membuat buku tersebut, Goodwin mempelajari bahwa salah satu hal yang membuat Lincoln menjadi pemimpin besar adalah ia memiliki kapasitas untuk mendengarkan pendapat dari berbagai sudut pandang.
Dalam pemerintahannya, ia menciptakan iklim diskusi yang nyaman bagi anggota kabinetnya untuk memberikan sanggahan atas pendapat yang ada. Lincoln memberikan jaminan kepada menteri-menterinya bahwa mereka tidak akan dipecat atau dikucilkan jika memberikan pendapat yang berbeda. Pada waktu yang sama, ia tahu kapan harus menghentikan diskusi dan mengambil keputusan terbaik setelah mendengarkan berbagai pendapat.
Kemampuan ini dimiliki juga oleh Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie. Dalam siding kabinet era Habibie, semua menteri dirangsang untuk berani berbicara, bahkan dianjurkan untuk mengkritik presiden. Dialog, perdebatan, dan kritik dibuka seluasnya. Bahkan hingga gebrak-gebrak meja. Setelah berbagai pendapat keluar, barulah diambil keputusan terbaik. Hasilnya menteri-menteri era Habibie antusias mengikuti rapat.
Dalam buku Good to Great, Jim Collins menyebutkan bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya memiliki visi. Pemimpin yang hebat mampu menciptakan iklim dimana setiap orang bisa menyampaikan kebenaran tanpa ragu dan mendiskusikan fakta-fakta yang terasa pahit untuk dibicarakan. Pemimpin hebat ini tidak membuka kesempatan bagi orang-orangnya untuk asal setuju dengan pendapatnya.
Pemimpin hebat menyadari bahwa karisma yang ia miliki bisa jadi menghambat orang-orangnya untuk “menyerang” pendapatnya. Ia menyadari bahwa setiap orang bisa jadi punya pendapat yang lebih baik. Ia sangat memahami perbedaan antara kesempatan untuk mengatakan “terserah kemauan Bapak saja” dengan kesempatan bagi setiap orang untuk didengar. Itulah sebabnya ia menciptakan budaya dimana setiap orang dapat didengar dan, terutama, agar kebenaran dapat digaungkan.

No comments :

Post a Comment