Tuesday, 14 May 2013
Mengatasi Kutukan Sumber Daya Alam
Paradoks negeri kaya: kutukan sumber daya alam
Ironis masyarakat di wilayah yang kaya akan sumber daya alam, seringkali berada dalam kondisi yang kurang sejahtera secara rata-rata. Salah satu contohnya adalah negeri kita sendiri, Indonesia. Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan potensi sumber daya alam. Dalam hal biodiversitas darat, Indonesia terkaya kedua setelah Brazil. Jika digabungkan dengan kekayaan lautnya, Indonesia merupakan negeri dengan biodiversitas terkaya di dunia.
Indonesia dilalui garis khatulistiwa sehingga mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun secara proporsional sehingga dapat ditanami tumbuhan sepanjang tahun, dilalui jalur gunung api yang disebut Ring of Fire sehingga tanahnya subur. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia dan wilayah lautnya memiliki Zona Ekonomi Eksklusif sehingga batas wilayahnya pun semakin luas. Kekayaan minyak dan barang tambang seperti batu bara, emas, perak, besi, dan berbagai logam lainnya pun melimpah.
Namun masyarakat Indonesia kurang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di luar kekayaan alam yang melimpah tersebut. Produk unggulan negeri ini sebagian besar adalah kekayaan alam, yang semakin lama semakin menipis. Bahkan beberapa kekayaan alam tersebut belum dapat diberdayakan menjadi sumber daya alam.*
Hasilnya, saat ini Indonesia merupakan importir minyak bumi padahal mengekspor gas alam. Mengimpor beras padahal tanahnya luas dan subur. Mengimpor ikan yang diambil negeri lain dari laut Indonesia. PDB Indonesia berada pada peringkat 100-an, di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Memiliki 250 juta penduduk yang membutuhkan berbagai sarana seperti transportasi dan komunikasi namun belum bisa memenuhinya melalui produksi negeri sendiri. Jadilah Indonesia lahan yang menggiurkan bagi negeri-negeri lain yang bisa surplus dalam memproduksi kebutuhan-kebutuhan tersebut, target mereka bukan hanya memenuhi kebutuhan dalam negerinya namun memproduksinya secara berlebih untuk dipasarkan di negeri lain, terutama Indonesia.**
Paradoks ini tidak terjadi hanya di Indonesia. Terjadi pula di negeri-negeri lain. Umumnya dikenal dengan nama sindrom Belanda.*** Sejauh ini, paradoks ini berlaku pula untuk negeri-negeri yang miskin kekayaan alam. Negeri-negeri miskin kekayaan alam ini mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakatnya dengan memberikan barang dan jasa bagi negeri-negeri lain, sebut saja Korea Selatan dan Jepang. Tanpa kekayaan alam yang berarti mereka dapat menjadi negara yang adidaya secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Banyak kekayaan alam menjadi pemalas
Sebenarnya pernyataan di atas tidak masuk akal secara logika, tidak ada hubungannya antara kekayaan alam dengan kemalasan pemiliknya. Namun hal inilah yang terjadi di negeri ini. Penduduk Indonesia tidak kesulitan memenuhi kebutuhan primernya. Matahari di nusantara bersinar sepanjang tahun sehingga tanaman pangan dapat tumbuh setiap saat, tanpa memerlukan perencanaan seperti masyarakat subtropis yang kesulitan menanam saat musim dingin. Pohon-pohon bertebaran tanpa perlu ditanam. Perairan darat dan laut kaya akan ikan sehingga relatif mudah mengambilnya.
Dengan berbagai kemudahan tersebut, masyarakat Indonesia seperti terninabobokan oleh kemudahan yang Allah berikan. Nenek moyang kita tidak perlu repot-repot mencari bahan pangan, di sekitar mereka sudah banyak makanan yang berlimpah. Usaha yang masyarakat Indonesia berikan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya lebih sedikit dibandingkan masyarakat negeri lain.
Bukan untuk meminta cobaan, namun manusia memerlukan kesulitan agar kekayaan terbesar yang ia miliki dapat dipergunakan semaksimal mungkin. Kesulitan yang mampu untuk ia atasi dengan mengekstrarentangkan kemampuan di dalam dirinya. Dengan kesulitan itulah, manusia akan merasakan kemudahan setelahnya, sehabis mengatasi kesulitan tersebut.
Esensi Menjadi Manusia
Kutukan tersebut timbul karena kita kurang menyadari esensi kita sebagai manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang mampu berinisiatif untuk mengubah kondisi bukan hanya dirinya, namun seluruh lingkungan di sekitarnya. Potensi ini memang sesuai dengan asalnya manusia, yaitu untuk memimpin Bumi dengan menjadi makhluk yang paling bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya, baik sesama manusia, makhluk hidup lainnya, maupun alam tempat dia menetap.
Agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, ia setidaknya perlu memiliki tiga pola pikir. Pola pikir yang pertama adalah ia harus merasa tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Untuk itu ia perlu mengembangkan kompetensi yang ia miliki. Ia tidak pernah merasa cukup baik sehingga selalu meningkatkan kapasitas dirinya.
Pola pikir kedua adalah ia selalu ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi orang-orang di sekitarnya. Ia mencari masalah-masalah yang ada di masyarakat yang belum terpenuhi lalu memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan itulah ia bisa menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain.
Hal ketiga yang perlu ia tanamkan adalah segala pencapaian dirinya bukanlah karena dirinya semata. Seluruh pencapaian dirinya merupakan karunia dari Ar-Rahman, Allah Yang Maha Pemurah. Ia tidak memandang hidup sebagai perjuangan, namun sebagai anugerah dari Yang Mahakuasa. Tugasnya hanyalah memaksimalkan anugerah yang ia terima. Ia juga perlu menyadari bahwa Allah menurunkan karunia melalui masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu ia berusaha untuk mengembalikan dan memberikan kembali karunia yang ia terima untuk masyarakat. Dengan berbekal paradigma inilah kita mulai membangun Indonesia.
Belajar dari Bangsa Kepiting
Terdapat suatu eksperimen yang dilakukan terhadap sekelompok kepiting. Kepiting-kepiting dimasukkan ke dalam suatu wadah. Secara naluriah, setiap kepiting berusaha untuk keluar dari dalam wadah. Tak peduli selicin apapun wadah tersebut, mereka tetap mencoba keluar dari wadah dengan kepayahan. Namun, setiap kali ada kepiting yang hampir mencapai puncak wadah, tinggal selangkah lagi untuk keluar, kepiting yang lain langsung mencapit kepiting tersebut sehingga terjatuh dan kembali terjerembab dalam dasar wadah. Alhasil, tak satu kepiting pun berhasil untuk keluar.
Apakah kita sebagai bangsa Indonesia seperti bangsa kepiting dalam ilustrasi tersebut? Saya tidak ingin mengatakan ya untuk pertanyaan tersebut. Sebagai manusia, kita mempunyai potensi yang jauh lebih besar daripada kepiting. Namun memang ada satu bagian dari naluri kita yang kurang meneropong jauh, apakah arti sebenarnya dari persaingan yang kita ciptakan, persaingan antarkepiting yang tidak sehat.
Saya bukannya menganggap bahwa persaingan itu tidak perlu. Persaingan untuk memberikan yang terbaik itu sangatlah perlu. Rasa iri terhadap keberhasilan orang lain dan hasrat untuk bersaing adalah poin yang esensial dalam menciptakan dunia yang lebih baik, jika dilakukan secara sportif. Tidak ada artinya mencoba menjatuhkan orang yang sudah mencapai puncak tertentu. Tugas kita adalah melampaui puncak yang telah dilampaui orang lain dan untuk itu tidaklah perlu menjatuhkan orang lain.
Paradigma ini perlu untuk ditanamkan ke dalam benak setiap orang. Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia perlu memandang orang-orang di sekitar kita sebagai partner menuju kehidupan yang lebih baik. Keberhasilan yang telah dicapai oleh orang lain kita jadikan sinyal bahwa yang kita lakukan belumlah cukup. Sinyal bahwa kita masih bisa mengekstrarentangkan kapasitas diri kita untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik dan lebih memuaskan.
Paradigma ini juga akan menghasilkan pribadi-pribadi yang mementingkan kerja sama dan sinergi.
Salah satu contoh yang menarik adalah cara produsen permen di Jepang. Setiap produsen memiliki masalah dalam hal transportasi, yang biayanya terlalu tinggi. Hal ini disebabkan truk-truk yang mengangkut produk setiap pabrik tidak penuh. Terjadilah inefisiensi biaya. Untuk memecahkan masalah ini, para produsen pun berembuk. Mereka sepakat untuk bersama-sama menggunakan truk-truk sehingga jika salah satu truk dari satu produsen belum terisi secara penuh, truk tersebut akan diarahkan menuju produsen berikutnya sehingga truk dapat terisi dengan maksimal. Dengan cara ini, biaya transportasi seluruh produsen dapat ditekan dan keuntungan pun meningkat.
Pelajaran yang menarik dari para produsen permen tersebut. Secara kasat mata, seluruh produsen permen adalah kompetitor, mereka mengincar pasar konsumen permen yang relatif sama. Namun mereka dapat membedakan dalam hal apa mereka seharusnya berkompetisi, yakni memasarkan sebanyak mungkin permen kepada segmen pasar mereka. Di luar itu, setiap produsen dapat bekerja sama dengan produsen lainnya menciptakan sinergi. Sinergi inilah yang akhirnya menyebabkan seluruh pemain sama-sama menang.
Inilah bedanya manusia dan kepiting. Manusia memiliki kesadaran untuk membedakan pada bidang apa ia memilih untuk bekerja sama dan pada bagian apa ia memilih untuk berkompetisi. Dengan bekerja sama, ia akan lebih kompetitif dalam cakupan dunia yang lebih luas. Walaupun ia memilih untuk berkompetisi, ia akan berkompetisi secara sportif yakni dengan memberikan layanan yang terbaik untuk masyarakat. Untuk kedua hal tersebut, tercipta sinergi yang menguntungkan masyarakat.
Hal inilah yang perlu kita lakukan dalam memandang kompetitor kita, terutama di dalam negeri. Yang terlihat secara sekilas sebagai kompetitor ternyata mampu meningkatkan daya saing kita di pasar yang lebih luas.
Memaksimalkan Potensi Indonesia
Kutukan kekayaan alam ini bukan berarti tidak bisa diakhiri. Di Amerika Selatan, terdapat bentangan alam yang dikenal dengan Soylandia. Kondisi alam di sana mirip dengan Indonesia. Namun mereka mampu memproduksi kacang kedelai yang tidak mereka konsumsi untuk dipasarkan ke seluruh dunia, salah satunya Indonesia. Bahkan Brazil, yang merupakan bagian besar dari Soylandia, kini menjadi poros kekuatan ekonomi baru dalam BRICS.
Hal yang perlu dicatat adalah Soylandia mengenal potensi kekuatan mereka. Penggunaan potensi tersebut secara surplus memberikan nilai tambah tersendiri bagi masyarakat di wilayah tersebut. Oleh karena itu, kita perlu mengenal lebih dalam potensi kekuatan Indonesia. Kutukan kekayaan alam ini dapat diubah menjadi berkah bagi masyarakat Indonesia bila kita mau mengelolanya dengan baik.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment