Monday, 19 August 2013
Latihan Lari Keliling Tasikmalaya
Udara kota yang mendingin, lebih dingin daripada Bandung. Itulah kesan pertama saat turun dari bus Bandung-Tasikmalaya. Tasik kota santri ini dulu dijuluki kota bersinar. Tampaknya julukan ini harus diganti, kesejukan sangat terasa. Bahkan saat siang hari, terasa sekali uap-uap air yang dingin iikut terhisap saat bernapas. Mirip seperti saat berada di tengah-tengah kolam renang. Namun jadi masalah bagi saya yang tidak tahan dingin.Proporsi lemak yang minim dalam badan membuat saya kedinginan dan bersin-bersin saat tiba di kota yang dulu terkenal dengan sinar mataharinya yang terik. Yak, tiba saatnya untuk menyesuaikan diri. Kebiasaan berlari mulai digiatkan, mumpung liburan, sambil mengejar target tanggal 25 Agustus ini bisa sampai finish di Independence Day Run.
Uniknya, saya sempat hanya tidur 2 jam karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Bukan pekerjaan yang urgen sebenarnya, namun karena flownya sedang dapat, saya coba selesaikan saat itu juga. Jarang-jarang dapat inspirasi.
Seumur hidup saya, salah satu hal yang tidak bisa ditolerir adalah jam tidur. Saya tidak bisa tidur sebentar, butuh 6 jam kira-kira. Itu sudah jadi pakem sehari-hari. Jika dipaksakan tidur kurang, pikiran malah jadi tidak fokus dan butuh waktu lebih lama untuk mengerjakan satu pekerjaan. Ini sudah jadi asumsi yang melekat dalam diri.
Namun mumpung masih mendapat udara segar dan juga agar badan bisa terkondisikan dengan udara dingin, saya paksakan untuk lari pagi keliling kota hingga ke kampung-kampung. “Wah, ternyata kota kelahiran saya sudah berkembang sangat pesat,” itu yang terlintas dalam benak saya saat mengarungi jalanan. Banyak UKM bermunculan, restoran saung yang menarik untuk makan bersama, distro-distro yang mirip dengan yang di Bandung, dan juga toko-toko sepatu buatan sendiri. Sayangnya lokasi mereka masih di pelosok, sulit bagi turis untuk menemukannya. Berbeda dengan UKM Garut yang memiliki lokasi strategis, padahal tempat-tempat di Tasik ini tidak kalah menariknya dengan Garut.
Kembali ke masalah lari. Biasanya saya hanya lari kira-kira 40 menit kalau di Jakarta atau Bandung. Itu pun sudah kepayahan. Namun pagi ini saya bisa lari sampai 2 jam, dengan ritme lari yang sama. Bahkan selama setengah jam terakhir saya sempat balapan dengan kretek alias andong yang sedang kosong.
Hal ini mematahkan 2 asumsi yang saya miliki, bahwa saya tidak bisa tidur sebentar dan tidak bisa lari lebih lama dari satu jam. Ada perubahan mindset yang saya alami, yah walau perubahannya masih sederhana, belum bermanfaat banyak bagi orang lain. Namun perubahan mindset yang besar ini dimulai dari yang kecil-kecil bukan?
Masalah mindset dan asumsi ini membuat saya teringat akan konsep yang dikemukakan Clifton Taulbert dalam Who Owns the Ice House? Konsepnya berbunyi seperti ini:
We all make assumptions about the world around us. We make assumptions based on our experiences and observations....
We also make suppositions about our own abilities: about where we fit in, what we are capable of, and what we deserve. Yet, here too, we often do so without ever really challenging these ideas. And by doing so we may be accepting limitations—limitations that are actually self-imposed...
It is essential to be conscious of our decisions. We must be willing to rethink old ideas and challenge assumptions. We must be willing to test the limits of our current beliefs and ideas about who we are and what we are capable of.
Ya, kita punya banyak asumsi yang mengungkungi diri kita. Kakek Jamil menyebutnya kotak korek api. Yang membuat kita membatasi diri kita untuk belajar. Namun buku Ice House mengingatkan bahwa tugas kita setiap harinya adalah mengenali asumsi-asumsi yang kita miliki lalu mengujinya untuk menentukan apakah kondisi riilnya sesuai dengan pikiran kita.
Saat Ramadhan lalu, saya mengikuti Halo Fit Night Run 10 K. Walau sudah lumayan sering berlari dengan jarak tersebut, ternyata kondisi dalam kompetisi itu berbeda. Pace lari kita menjadi terpacu melihat orang lain, hingga akhirnya kecepatan jadi meningkat dan badan kepayahan. Asumsi saya akan sulit untuk ikut kompetisi dengan jarak lebih dari 10K. Namun saya ingin menguji asumsi tersebut, di Independence Day Run nanti saya akan mengambil 17 K. Untuk menguji asumsi yang saya miliki, because it is man’s duty to take initiative, to take the risk.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment