Wednesday, 14 August 2013
Awal dari Kisah Mengajar Ron Clark
Semasa bersekolah, Ron Clark tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi guru. Saat masih kecil Ron pernah bercita-cita menjelajahi makam-makam kuno di Mesir, berkeliling dunia sebagai wartawan, atau menjadi mata-mata di negara lain. Dulu ia menganggap menjadi guru itu pekerjaan yang membosankan dan tidak menantang.Kini pandangan Ron Clark terhadap profesi guru berubah 180 derajat. Baginya tidak ada pekerjaan yang lebih menegangkan daripada membesarkan anak-anak. Setiap tindakannya sangat berpengaruh terhadap masa depan sang anak. Waktu yang Ron Clark habiskan bersama anak-anak dan usahanya mengajari mereka adalah hal yang sangat dia syukuri. Ia tidak bisa membayangkan mengerjakan hal lain selain mengajar. Ron Clark telah menjadi salah satu guru yang menginspirasi banyak orang. Kisahnya mengajar di salah satu daerah yang rawan kekerasan, Harlem, New York, telah difilmkan. Ron Clark juga punya sekolahnya sendiri, bernama Ron Clark Academy. Selain itu ia menulis beberapa buku yang menjadi panduan banyak guru dan orang tua dalam mengajar dan membesarkan anak-anak.
Saat Ron Clark menginjak kelas 3 SMA, ia berdiskusi dengan kedua orang tuanya untuk menentukan pendidikan kuliahnya. Kedua orang tuanya termasuk pekerja keras, tetapi tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai anaknya kuliah. Walau begitu ayahnya berkata, “Ron, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, itu tanggung jawab kami sebagai orang tua. Tugasmu hanyalah berkonsentrasi dalam belajar.”
Ron Clark tidak ingin terlalu membebani orang tuanya dengan biaya kuliah yang terlalu tinggi. Ketika itulah ia mendapat informasi program Teaching Fellow Scholarship, beasiswa dengan ikatan dinas mengajar selama 4 tahun di North Carolina setelah lulus kuliah. Saat itu ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru. Ron Clark hanya berpikir beasiswa ini akan sangat meringankan beban keuangan keluarganya.
Rencananya ia akan menggunakan uang beasiswa untuk biaya kuliahnya, tetapi setelah lulus tidak akan menjadi guru. Ron Clark memilih untuk membayar biaya penalti. Uang untuk membayar biaya penalti akan ia dapatkan dari pekerjaan lain yang ia pikir lebih ia sukai.
Selama kuliah, Ron Clark menemukan bahwa ia sangat menyukai petualangan. Beberapa hal yang ia sebut “petualangan” telah menyeretnya ke dalam masalah. Bersama temannya yang ia panggil Bri, Ron Clark pernah berlari melintasi lapangan football, dengan badan dan pakaian yang dicat warna ungu, saat pertandingan yang disiarkan televisi nasional sedang berlangsung. Kenakalannya ini menimbulkan kehebohan, Ron dan Bri dikejar polisi yang mengamankan pertandingan.
Ketika bekerja sambilan di restoran cepat saji, Ron Clark bermain petak umpat dan bersembunyi di dalam oven yang sedang menyala. Hampir saja ia terpanggang kalau tidak ada yang menemukannya terkunci di dalam. Ron Clark memiliki fobia terhadap ketinggian. Namun selama masa kuliah ia menantang dirinya untuk bungee jumping, mendaki gunung, memanjat tebing, dan terbang parasailing.
Saat lulus kuliah, Ron Clark masih ia tidak berminat untuk menjadi guru. Bahkan ia tidak merasa ingin bekerja. Ron Clark ingin mengalami lebih banyak petualangan. Ia pindah ke London dan bekerja sebagai pelayan restoran. Setelah enam bulan bekerja, ia menjadi backpacker mengelilingi Eropa hingga akhirnya menetap di Rumania dan tinggal bersama orang-orang gipsy yang memberinya tikus sebagai makanan sehari-hari. Makanan ini membuatnya jatuh sakit hingga akhirnya memutuskan kembali ke rumahnya di North Carolina.
Kedua orang tua Ron Clark sangat senang melihat anaknya pulang, tetapi Ron Clark tidak ingin lama-lama tinggal di rumah. Bri berencana untuk tinggal di pantai di California dan Ron Clark sudah tidak sabar untuk pindah bersamanya. Ibu Ron Clark berusaha agar anaknya tetap tinggal. Ia mengatakan bahwa Ron dibutuhkan di sekolah setempat, Snowden Elementary School, karena guru kelas lima di sana meninggal. Sangat sulit untuk mencari guru baru di Aurora karena hanya berisikan 600 orang penduduk dan letaknya cukup jauh dari kota lainnya.
Memang ada guru pengganti yang akan mengajar di kelas lima selama sebulan, tetapi setelah itu tidak ada guru yang akan mengajar mereka. Ron Clark merasa sangat kasihan terhadap anak-anak yang telah kehilangan guru. Namun ia masih tidak tertarik untuk mengajar di sana. Ia berkata pada ibunya, “Saya tidak akan mau mengajar di sekolah ini.” “Setidaknya bicaralah dulu dengan kepala sekolah,” balas ibunya, lalu mengancam jika Ron tidak mau mengajar di sana, ibu dan ayahnya akan berhenti mengirimkan uang untuk membiayai petualangannya.
Setelah dibujuk ibunya, Ron Clark akhirnya mau datang ke Snowden Elementary School walau masih tidak tertarik untuk mengajar. Ia nekat akan pergi ke California. Masalah uang bisa ia cari cara setelah tinggal di sana, pikirnya. Kebetulan tantenya, Carolyn, bekerja di sekolah sebagai sekretaris. Ia berpikir setidaknya bisa pamit kepada tantenya sebelum pindah.
Setelah mengunjungi tantenya, Ron Clark menemui kepala sekolah. Kepala sekolah berusaha meyakinkan Ron Clark untuk mau mengajar di Snowden. Ia mengajak Ron Clark berkeliling sekolah sambil menjelaskan kelas yang akan ia pegang jika setuju untuk mengajar di sana. Ia menuturkan betapa anak-anak sangat membutuhkan guru baru serta menjelaskan beberapa masalah belajar yang anak-anak hadapi dan kebutuhan sekolah untuk memperoleh nilai ujian yang tinggi.
Selama kepala sekolah menjelaskan, Ron Clark berpura-pura terlihat tertarik. Hingga akhirnya ketika akan memasuki kelas lima, seorang anak laki-laki menatapnya dengan polos dan berkata, “Apakah Bapak akan menjadi guru baru kami?” Ron Clark merasa sangat tersentuh. Ia merasakan kepercayaan sang anak terhadapnya dan juga kegembiraan yang terpancar dari wajah sang anak. Saat itulah panggilannya datang, ia pun segera membalas, “Ya, saya pikir begitu.”
Sebelum benar-benar terjun di kelas, Ron Clark diminta untuk mengamati cara guru pengganti, Mrs. Waddle, mengajar. Di dalam kelas, Ron Clark melihat Mrs. Waddle marah karena ada seorang anak yang belum bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Mrs. Waddle segera menggambar tiga buah lingkaran di papan tulis dan menyuruh sang anak untuk menempelkan hidungnya di lingkaran tengah dan menempelkan satu jari dari masing-masing tangan di dua lingkaran yang terluar. Mrs. Waddle menyuruhnya diam di depan papan tulis dengan posisi tersebut lalu menanyakan pertanyaan yang sama ke anak yang lain. Begitu anak berikutnya menjawab sesuai dengan keinginan Mrs. Waddle, sang guru mengangkat tangan sambil bernyanyi kegirangan.
Sebelum menyerahkan tongkat estafet wali kelas kepada Ron Clark, Mrs. Waddle mencoba untuk memberikan “nasihat.” Mrs. Waddle menatap Ron Clark dan berkata, “Mr. Clark, Anda pasti bisa bekerja dengan baik. Selama Anda bisa memengaruhi kehidupan satu anak di kelas, Anda telah sukses sebagai guru.”
Ron Clark sangat tidak setuju akan “nasihat” Mrs. Waddle. Pendidikan seharusnya meningkatkan kualitas kehidupan setiap murid. Mentalitas guru “sukses” setelah bisa mengubah satu anak itu tidak cukup.
Selama menjadi guru, Ron Clark menyadari bahwa ia hanya punya waktu satu tahun untuk memberikan perbedaan yang berarti bagi setiap anak di kelasnya sehingga ia bekerja sangat keras untuk mengajar. Mengenang tahun pertama menjadi guru, Ron Clark mengaku tidak tahu banyak ketika memasuki kelas dan mengambil alih perwalian dari Mrs. Waddle. Namun ia menyadari hidupnya akan menjadi lebih baik. Ia telah menetapkan diri untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk muridnya. Inilah awal dari cerita mengajar Ron Clark.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment