Thursday, 24 April 2014
Imajinasi dan Detail dalam Retail Business
Ada sebagian orang yg memulai bisnis dengan teori. Yang saya maksud di sini bukan dengan membaca buku ataupun belajar di bangku kuliah, namun dengan melakukan hal teoretis, salah satunya membuat business plan. Merancang target dan segmen pasar, diferensiasi, atau positioning.
Dalam kelas #AkberJKT13 berjudul "Building A Retail Business," Paulina Pungky menuturkan untuk memulai bisnis memerlukan imajinasi. Ketika memutuskan untuk menawarkan produk ataupun jasa, si pengusaha perlu memikirkan siapa yang membelinya. Bukan hanya sekadar rentang usia ataupun menentukan kelas A, B, C. Lebih dari itu, yakni mengimajinasikan karakteristik pembeli, seperti baju apa yang mereka pakai, musik favorit mereka, kebiasaan mereka di malam hari.
"Pembeli ingin diperlakukan seperti manusia," ujar Paulina Pungky. Manusia yang punya kebebasan untuk memilih, bukan untuk didikte oleh produsen dan dilayani sesuai manual book perusahaan.
Hal ini senada dengan gagasan Seth Godin dalam We Are All Weird. Orang-orang semakin enggan membeli produk yang dirancang untuk mass consumption. Mengapa? Karena masyarakat semakin kaya. Bukan sekaya Chairul Tanjung memang, tapi cukup kaya untuk bisa memilih. Untuk menolak 1 produk dan memilih yang lain. Semata-mata karena itulah keinginan mereka. Masyarakat butuh produsen yang mampu memberikan layanan yang lebih personal, lebih menyentuh. Dan masyarakat mau membayar lebih untuk itu.
Imajinasi merupakan alat yang sangat berguna untuk membuat bisnis menjadi lebih personal, lebih menyentuh, bukan sekadar transaksi. Imajinasi membuat bisnis menjadi tampak menarik, kita menjadi bebas berkreasi untuk benar-benar membantu orang lain, menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar menjual barang dan mengejar transaksi.
Untuk itu, sudah selayaknya kita mencintai bisnis yang kita jalani. Bisnis inilah yang membuat kita menjadi benar-benar manusia. Bisnis yang memberi arti pada hidup. And the consequence is we have to deal with the devil. The devil is detail.
"Pengusaha harus tahu berapa omzet setiap harinya, produk mana yang laku terjual, produk mana yang tidak, apakah sudah sesuai proyeksi atau belum," kata Paulina Pungky. Paulina sering menguji pengusaha dengan bertanya, "Berapa omzet kamu hari ini?" Ia kesal kalau si pengusaha menjawab, "Belum direkap sama adminnya."
Seorang pengusaha haruslah menjadi orang yang paling mencintai bisnisnya. Rasa cinta ini ditunjukkan dengan mengerti detail bisnis, salah satunya lewat memahami perkembangan penjualan. Paulina mengutarakan ketika ia bekerja di perusahaan multinasional, ia harus melaporkan detail penjualan dari tiap toko ke pimpinan perusahaan. Jika perusahaan besar saja mengontrol seperti itu, apalagi perusahaan kecil.
Ada cerita menarik tentang detail yang diceritakan Paulina dalam #AkberJKT13 ini. Brodo, produsen sepatu lokal yang sedang naik daun, bisa sukses karena serius menangani detail penjualan. Memang bukan hanya ini penyebab keberhasilan mereka, namun perhatian terhadap detail yang membuat mereka konsisten tumbuh.
Brodo memantau penjualan produk setiap harinya, produk apa saja yang laku, setiap konsumen pernah membeli produk apa saja. Pengusahanya tahu catatan omzet tiap harinya.
Bahkan Brodo sampai berani menarik kerja sama penjualan dengan beberapa toko. Alasannya tampak sederhana. Toko-toko tak bisa melaporkan produk yang terjual tiap harinya, alasannya rekap penghitungan hanya dilakukan tiap minggu. Langsung saja produk di toko mereka tarik dan hanya berjualan via online.
Brodo tahu untuk bisa bersaing mereka harus paham tren yang ada di pasar. Jika sepatu tipe A mulai tidak laku, maka tipe itu bisa segera berhenti diproduksi lagi. Kontrol yang penuh terhadap arus penjualan membuat Brodo bisa lebih gesit menyesuaikan diri terhadap perubahan tren.
Bisnis itu ada untuk membantu orang lain, karenanya perlu dijalankan dengan serius. Serius mengimajinasikan cara bisnis kita membantu orang. Serius memperhatikan detail perubahan yang terjadi pada pasar, pada orang lain.
sumber gambar: @akberjkt
Dalam kelas #AkberJKT13 berjudul "Building A Retail Business," Paulina Pungky menuturkan untuk memulai bisnis memerlukan imajinasi. Ketika memutuskan untuk menawarkan produk ataupun jasa, si pengusaha perlu memikirkan siapa yang membelinya. Bukan hanya sekadar rentang usia ataupun menentukan kelas A, B, C. Lebih dari itu, yakni mengimajinasikan karakteristik pembeli, seperti baju apa yang mereka pakai, musik favorit mereka, kebiasaan mereka di malam hari.
"Pembeli ingin diperlakukan seperti manusia," ujar Paulina Pungky. Manusia yang punya kebebasan untuk memilih, bukan untuk didikte oleh produsen dan dilayani sesuai manual book perusahaan.
Hal ini senada dengan gagasan Seth Godin dalam We Are All Weird. Orang-orang semakin enggan membeli produk yang dirancang untuk mass consumption. Mengapa? Karena masyarakat semakin kaya. Bukan sekaya Chairul Tanjung memang, tapi cukup kaya untuk bisa memilih. Untuk menolak 1 produk dan memilih yang lain. Semata-mata karena itulah keinginan mereka. Masyarakat butuh produsen yang mampu memberikan layanan yang lebih personal, lebih menyentuh. Dan masyarakat mau membayar lebih untuk itu.
Imajinasi merupakan alat yang sangat berguna untuk membuat bisnis menjadi lebih personal, lebih menyentuh, bukan sekadar transaksi. Imajinasi membuat bisnis menjadi tampak menarik, kita menjadi bebas berkreasi untuk benar-benar membantu orang lain, menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar menjual barang dan mengejar transaksi.
Untuk itu, sudah selayaknya kita mencintai bisnis yang kita jalani. Bisnis inilah yang membuat kita menjadi benar-benar manusia. Bisnis yang memberi arti pada hidup. And the consequence is we have to deal with the devil. The devil is detail.
"Pengusaha harus tahu berapa omzet setiap harinya, produk mana yang laku terjual, produk mana yang tidak, apakah sudah sesuai proyeksi atau belum," kata Paulina Pungky. Paulina sering menguji pengusaha dengan bertanya, "Berapa omzet kamu hari ini?" Ia kesal kalau si pengusaha menjawab, "Belum direkap sama adminnya."
Seorang pengusaha haruslah menjadi orang yang paling mencintai bisnisnya. Rasa cinta ini ditunjukkan dengan mengerti detail bisnis, salah satunya lewat memahami perkembangan penjualan. Paulina mengutarakan ketika ia bekerja di perusahaan multinasional, ia harus melaporkan detail penjualan dari tiap toko ke pimpinan perusahaan. Jika perusahaan besar saja mengontrol seperti itu, apalagi perusahaan kecil.
Ada cerita menarik tentang detail yang diceritakan Paulina dalam #AkberJKT13 ini. Brodo, produsen sepatu lokal yang sedang naik daun, bisa sukses karena serius menangani detail penjualan. Memang bukan hanya ini penyebab keberhasilan mereka, namun perhatian terhadap detail yang membuat mereka konsisten tumbuh.
Brodo memantau penjualan produk setiap harinya, produk apa saja yang laku, setiap konsumen pernah membeli produk apa saja. Pengusahanya tahu catatan omzet tiap harinya.
Bahkan Brodo sampai berani menarik kerja sama penjualan dengan beberapa toko. Alasannya tampak sederhana. Toko-toko tak bisa melaporkan produk yang terjual tiap harinya, alasannya rekap penghitungan hanya dilakukan tiap minggu. Langsung saja produk di toko mereka tarik dan hanya berjualan via online.
Brodo tahu untuk bisa bersaing mereka harus paham tren yang ada di pasar. Jika sepatu tipe A mulai tidak laku, maka tipe itu bisa segera berhenti diproduksi lagi. Kontrol yang penuh terhadap arus penjualan membuat Brodo bisa lebih gesit menyesuaikan diri terhadap perubahan tren.
Bisnis itu ada untuk membantu orang lain, karenanya perlu dijalankan dengan serius. Serius mengimajinasikan cara bisnis kita membantu orang. Serius memperhatikan detail perubahan yang terjadi pada pasar, pada orang lain.
sumber gambar: @akberjkt
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment