-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Saturday, 28 June 2014

Wanita Mengomel Itu Tanda (Masih) Cinta

No comments :

Bagaimana sih sebenarnya yang terjadi di dalam kepala sepasang kekasih ketika bertengkar? Saya coba jelaskan lewat tafsir lagu IU lagi. Lagu ini judulnya Jansori, kalau diterjemahkan jadi Nagging alias Omelan.

Kalau dalam lagu Good Days dan Every End of the Day, kita hanya belajar tentang pola pikir wanita. Dalam lagu Nagging ini IU duet dengan penyanyi pria, Seulong. Alhasil saya belajar bukan hanya bagaimana wanita berpikir, tapi juga memperjelas bagaimana saya sebagai pria berpikir terutama ketika menghadapi omelan wanita.

Sebelum masuk ke pembahasannya, yuk kita nikmati dulu lagu Nagging ini. Seperti biasa ada subtitlenya juga, jadi yang tak mengerti bahasa Korea seperti saya masih bisa paham maknanya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=G50oLWBJAZ0]


Omelan wanita bisa macam-macam. Di bait pertama ini IU mengutarakan yang sesuai dengan budaya di  sana.

Stop being out so late
Try not to drink so often
You don't listen to me like a 10 year old child

Salah satu kebiasaan pria di Korea adalah mabuk. Yang kita alami tentu saja berbeda.  Sebagai jomblo, saya baru mengalami omelan dari Paduka Ratu Ibu Suri, seperti, “Itu kamar masih berantakan,” “Lampu tadi belum kamu matiin.”

Kalau yang sudah punya pasangan bisa macam-macam.

“Kamu jauh lebih perhatian sama motor kamu ya  daripada sama aku.”
“Kayaknya waktu kamu ngejar-ngejar aku ngga kayak gini deh. Sekarang kamu udah ga pernah ngajak aku jalan-jalan.”
“Kamu tuh terlalu sibuk sama organisasi, kamu udah ga peduli sama aku lagi.”
“Itu ngelirik cewe lainnya ga cukup ya cuma sekali?”

Apa contohnya terlalu lebay? Jujur saya perlu banyak mikir buat ngasih contoh tentang omelan wanita ini. Mungkin yang sudah pengalaman bisa ngasih contoh yang memang pernah terAtau bisa juga omelan seperti di novel Jomblo-nya Adhitya Mulya. Omelan Neng Rita ke  Kang Agus.

“Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka,yang paling deket sama kamu itu… tukang maenin cewek!”

Saya mengamati banyak wanita yang mengomel merasa seperti IU, “You don’t listen to me like a 10 year old child.” Masalahnya: wanita merasa pria tida mendengarkan. Nah, ini terjadi karena ada perbedaan definisi tentang mendengarkan.

Pria merasa begitu ia mendengar suara wanita itu sudah mendengarkan. Sementara bagi wanita, mendengarkan itu berarti fokus 100% pada wanita. Arah tubuh menghadap wanita, mata menatap ekspresi wajah wanita, dan merespon dengan menunjukkan simpati atas hal yang terjadi pada wanita.

Biasanya respon pria ketika wanita mengomel itu seperti perkataan Seulong ini.

I can only laugh
Who are you calling a child?
Really, I can only laugh

Ketika mendengar omelan wanita, biasanya pria berpikir, “Ini kan masalah kecil, kok sampai dipermasalahkan sih?” Pria merasa heran akan wanita yang sedikit-sedikit mengomel. “Kok dia ngomel terus sih? Ngga cape apa?”

Hal ini sebenarnya terjadi karena aliran darah yang mengalir ke otak bagian emosional wanita 8 kali lebih banyak daripada darah yang mengalir ke otak pria pada bagian yang sama. Maka  dari itu, tidak heran kalau pria merasa wanita itu  lebay ketika mengomel. Pria baru akan mengomel dengan intensitas desibel suara  yang sama jika masalahnya sudah 8 kali lebih besar dari yang dialami wanita.

Maka dari itu, tak heran sebenarnya jika Seulong membalas omelan IU dengan kalimat, “Let’s stop! I only hear you nagging.” Well, this is his mistake. Bagi wanita, seringkali yang terpenting itu bukan masalahnya, tapi perasaannya terhadap masalah tersebut. Maka agar masalah tentang perasaan ini bisa diatasi, wanita perlu membicarakan tentang perasaannya (Duh kalimatnya belibet).

Intinya, karena masalahnya ada di perasaannya. Meminta wanita untuk berhenti mengomel itu justru memperbesar masalah yang ada. Ketika wanita mengomel, ia ingin didengarkan. Wanita ingin lawan bicaranya fokus pada perasaannya, bukan pada permasalannya.

Are you eating at the right time
Are you staying away from girls
I want to be beside you all day
That's how I feel

Bait di atas ini menunjukkan motif lainnya wanita mengomel, yaitu merasa insecure akan hubungan dengan kekasihnya. Salah satu survei di Amerika Serikat menunjukkan setiap 9 dari 10 wanita yang sudah menikah dan berusia kurang dari 45 tahun merasa tidak yakin akan cinta suaminya. Setidaknya seminggu sekali, terlintas pikiran dalam benak wanita, “Apakah ia masih mencintaiku?” “Jika ada wanita lain yang menggodanya, akankah ia tetap memilihku?”

Perasaan insecure ini seringkali memicu adanya omelan. Mungkin agak aneh bagi pria. Pria berpikir, “Kita belum putus, tentu saja saya masih mencintainya.” Namun jika pria tidak menunjukkan atau mengatakannnya langsung pada wanita, sang wanita tidak akan merasa dicintai. Wanita bukan hanya butuh cinta dari pria yang ia kasihi, wanita butuh merasa dicintai. Bahkan setelah pria dan wanita sudah menikah, wanita masih butuh pengakuan dari pria.

Lanjut ke baris lainnya. “You don’t know how it feels for me to say those things.” Bagi wanita, dorongan untuk mengomel itu besar, namun bukan berarti tidak berat. Saat wanita mengomel dan pria melawan, wanita kadang merasa jadi pihak yang bersalah karena memulai pertengkaran dan merusak hubungan. Padahal niat awal hanya ingin membicarakan satu masalah.

Sebenarnya pria patut bersyukur kalau pasangannya masih mengomel. Bagi wanita, hal terpenting itu perasaannya, apa yang dia pikirkan. Wanita hanya mau memikirkan orang yang berarti bagi dirinya. Ia mengomel karena ingin pasangannya memperbaiki diri, seperti yang IU bilang, “From 1 to 10, those are words to make you better. But since you don’y listen to me, it’s only sound like a nag to you.”

Omelan juga tanda bahwa sang wanita masih mencintai pasangannya. Wanita masih peduli terhadap pasangannya. Dalam dirinya, wanita secara tidak sadar berpikir, “Gue mau repot ngomel-ngomel kayak gini karena gue masih sayang sama lo.” Seperti kata IU berikut  ini.

This nagging is said from my heart not just randomly
I can’t help but keep nagging even if you hate it

A nagging that wouldn’t be told if I want to break up.
Deep inside my heart, I always think about you

A nagging that can only be told if we are in love

Maka dari itu, inilah pentingnya mensyukuri kalau wanita mengomel. Itu tandanya wanita  masih mencintai pria. Itu tandanya pria masih terus mengisi relung hati si wanita. (Duh)

Wajar jika pria berpikir, “Duh omelannya ga enak banget sih di telinga gue. Kayaknya gue punya banyak salah banget ke dia deh. Padahal kan……” Saat muncul pemikiran seperti ini, pria sebaiknya memainkan logikanya, “Omelannya mungkin gak enak didengar, tapi ini berarti dia masih sayang sama saya.”

Jika masih sulit untuk refleks berpikir seperti itu, para pria dapat mencontoh teladan dari Khalifah Umar. Setiap kali istrinya sedang mengomel pada Umar. Umar hanya diam mendengarkan. Tidak mengucapkan apa pun.  Ketika ditanya mengapa Umar hanya diam saja, begini jawaban beliau.

”Wahai saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya (kemarahan istri), karena itu memang kewajibanku. Istrikulah yang memasak makanan, membuatkan roti, mencucikan pakaian, dan menyusui anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya.”

"Di samping itu, hatiku merasa tenang karena itulah aku tetap sabar atas perbuatan istriku.”

”Oleh karena itu, sabarlah wahai saudaraku. Ini hanya sebentar!”

Umar ini perangainya keras ditambah dengan otaknya yang cerdas. Baginya mudah untuk melawan omelan istrinya, Umar sangat pandai berargumen. Namun Umar mengerti kebutuhan istrinya untuk didengarkan. Lebih dari itu, Umar merasa dirinya layak untuk diomeli, wajib baginya menangani omelan istrinya dengan sabar.

Mungkin di dalam benak Khalifah Umar, terlintas juga pemikiran yang dikatakan Seulong di akhir lagu ini.

Even if you’re angry, even if you yell at me.
Your nagging is just so sweet to me.

Jadi, ketika diomeli, tahu kan apa yang seharusnya pria lakukan?


No comments :

Post a Comment