-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Monday, 7 July 2014

Entrepreneurship & Kemakmuran, Pemicu Daya Saing Indonesia

No comments :

Tahun 2014 ini adalah yang kedua kalinya saya mencoblos, ikut serta dalam regenerasi kepemimpinan nasional. Pemilu Presiden 2014-2019 kali ini lebih menarik daripada pemilu sebelumnya. Antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi meningkat. Salah satu poin menarik adalah semua kandidat memiliki latar belakang pengusaha alias entrepreneur.

Ya, isu entrepreneurship sedang hangat-hangatnya di Indonesia, anak-anak muda seakan tidak mau ketinggalan mengikuti training atau seminar tentang entrepreneurship. Dan saya pun merasakan  menjadi seorang entrepreneur seolah menjadi profesi yang menjadi cita-cita oleh beribu anak muda ditanah air.
“Entrepreneurship is a mindset, bukan profesi” kata-kata itu sering saya dengar dari Sandiaga Uno.

Selama bekerja di Indonesia Setara 2 tahun terakhir, saya sempat beberapa kali menimba ilmu dari Pak Sandi. Jika saya melihat dari kacamata Pak Sandi selama ini, beliau memimpikan karya-karya orang Indonesia bisa unggul di mata dunia. Pak Sandi sering menekankan pentingnya bangsa Indonesia memiliki brand yang populer. Brand yang meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional.

“Brand Indonesia apa yang paling terkenal di dunia? Sayangnya Bali. Bali itu hasil karya Tuhan, seharusnya ada perusahaan-perusahaan Indonesia yang dapat kita banggakan di dunia internasional,” sering Pak Sandi mengulang-ulang keprihatinannya ini. Pak Sandi bermimpi ketika kita mendarat di Changi, London, ataupun New York,  akan ada billboard-billboard dengan produk karya anak bangsa.
Sayangnya tumbuhnya brand-brand di Indonesia akan terhambat jika pemerintah di Indonesia tidak memperbaiki dengan cepat. Pak Sandi sering mengungkapkan belum baiknya pelayanan pemerintah terhadap dunia usaha.

“Untuk memulai usaha di Indonesia dibutuhkan waktu 48 hari dan pengusaha  perlu mengikuti  10 prosedur. Sedangkan di Malaysia hanya butuh 6 hari untuk memulai usaha dan prosedur yang dibutuhkan hanya 3. Dengan Malaysia saja kita kalah cepat, apalagi dengan Singapura yang hanya 1 jam jadi,” kata Pak Sandi dalam salah satu speechnya.

“Waktu antre dan administrasi di Tanjung Priok itu rata-rata 9 hari, sementara di Thailand hanya 5 hari dan di Singapura hanya 1 hari. Belum lagi Terminal handling charges itu termasuk tertinggi ” ujar Pak Sandi dalam kesempatan yang sama. “Ditambah lagi biaya operasional truk di Indonesia 50% lebih tinggi daripada rata-rata Asia.”

Tentu saja hal seperti ini membuat dunia usaha lebih sulit bersaing di dunia internasional. Karena dunia usaha jauh lebih membutuhkan kemudahan administrasi dan infrastruktur yang baik daripada insentif modal. Daya saing Indonesia menjadi lemah.

Untuk mencapai Indonesia yang memiliki daya saing, peran pemimpin negeri ini sangatlah penting. Lalu pemimpin seperti apa yang bisa mencapai impian tersebut. Hal ini membawa saya kepada buku The Coming Jobs  War karya Jim Clifton, pimpinan lembaga survey internasional, Gallup. Dalam buku tersebut, Clifton menjelaskan tantangan yang akan dihadapi setiap negara dan cara mengatasinya.

Berdasarkan pengalaman puluhan tahun menganalisis berbagai survei internasional, Clifton mengungkapkan bahwa inti masalah yang menentukan kemajuan atau kemunduran suatu negara adalah gross national wellbeing alias tingkat kemakmuran. Gross national wellbeing adalah pemicu dari penentu majunya negara. Begitu masyarakat suatu negara makmur,  akan terjadi ledakan penciptaan lapangan kerja, entrepreneurship, dan inovasi.

Hal ini senada dengan pendapat yang dilontarkan oleh salah satu kandidat presiden, Prabowo Subianto. “Kemakmuran rakyat adalah pertahanan terbaik bangsa ini,” kata Prabowo dalam salah satu debat capres. Adanya penekanan akan hal ini secara berulang-ulang oleh Prabowo setidaknya menunjukkan keseriusan capres nomor 1 ini untuk mencapainya. Prioritasnya jelas. Prioritasnya tepat, sesuai hasil kajian Clifton dan Gallup.

Prabowo juga tahu caranya. Dapat dilihat beberapa kali Prabowo mengangkat orang-orang terbaik, yang walau bukan berasal dari partainya. Lihat saja Ridwan Kamil, Ahok, bahkan Arya Bima yang jelas-jelas sering mengkritik Prabowo. Keterbukaan Prabowo untuk merekrut orang-orang terbaik dalam pemerintahan akan mempercepat bangkitnya daya saing bangsa ini. Kemampuan dan kemauan untuk memilih orang yang tepat di posisi yang tepat adalah kunci untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menghambat percepatan daya saing bangsa ini.

Tak heran Pak Sandi memilih untuk mendukung pasangan Prabowo Hatta secara terang-terangan. Sesuai artikel yang ditulis Pak Sandi, Prabowo mampu menjadi pemimpin yang membantu rakyat, untuk bisa bersaing dan unggul di dunia internasional.

No comments :

Post a Comment