Sunday, 10 August 2014
Kejarlah Daku Kau Kutangkap
Kejar-mengejar. Itulah bagian seru dari hubungan pria dan perempuan. Pedekate, katanya. Fitrahnya, pria sangat senang mengejar. Wanita sangat suka dikejar. Terutama oleh orang yang disukai. Bukan hanya itu deringkali, pria menilai dirinya dari kemampuannya mengejar. Yang dia ukur dari respon positif wanita yang dikejar. Begitu pula wanita, seringkali menilai dirinya dari kejaran pria. Afirmasi yang dibutuhkan pria dan wanita berbeda, namun saling melengkapi.
Sejauh pengamatan saya, keharmonisan dan kebahagiaan dalam hubungan pria dan wanita ini sangat ditentukan oleh proses kejar mengejar. Teman saya, Farah Mafaza, mengutarakan hal menarik yang menentukan bagaimana sepasang pria dan wanita bisa jatuh cinta.
“Kuncinya mah di cowo. Seberapa tangguh cowo dapetin cinta cewe.”
Tangguh. Ya. Untuk mengejar, pria harus mengambil risiko. Mengambil langkah pertama, dengan risiko tidak dianggap. Inisiatif menatap dan senyum kepadanya, dengan risiko diacuhkan. Inisiatif mengajaknya mengobrol, padahal tak tahu apa yang harus diobrolkan.
Seringkali, takut gagal inilah yang membuat pria ragu untuk mengejar. Bagi pria, salah satu hal yang menakutkan adalah dipermalukan karena tidak bisa melakukan sesuatu. Tidak semua pria merasa percaya diri dalam mengejar wanita. Dalam pikirannya, pria merasa akan dipermalukan jika ia sudah berusaha mendekati wanita dan gagal.
Misalnya saja ketika ingin mengajak wanita mengobrol. Pria sering tak tahu apa yang ingin diobrolkan. Atau bisa saja ia tahu harus bicara apa, tapi khawatir wanita tak akan menyukai isi obrolannya. Ada pula masalah lainnya, jika sang pria sangat menyukai seorang wanita, lidahnya menjadi sangat kelu ketika berada di dekatnya. Saya coba bahas lebih dalam tentang lidah kelu ini.
Dalam Mars and Venus on a Date, John Gray mengutarakan bahwa pria cenderung bekerja dengan menggunakan satu bagian otaknya saja. Semakin kuat perasaan pria, semakin tak bisa ia berpikir dan berbicara. Ia akan menjadi sangat gugup karena mengantisipasi ketidaktahuannya tentang apa yang harus dia katakan.
Namun yang jarang pria pahami, wanita sebenarnya menganggap gugupnya pria itu menarik. Wanita merasa tersanjung ketika ada pria yang mengambil risiko menjadi gugup untuk mendekatinya. Pria yang tidak takut (setidaknya mencoba walau takut) mendekati wanita umumnya mendapat banyak poin di mata wanita. Walau terbata-bata saat berbicara, di mata wanita pria ini tampak menjadi seorang pemberani.
Saya ini termasuk pria yang tak punya bakat alami dalam berbicara—apalagi dengan wanita. Sejak kecil saya ini pendiam. Dulu setiap kali naksir seorang perempuan, saya jadi diam mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Bagi saya, ungkapan bahwa wanita yang disukai itu seperti udara itu menipu. “Kau adalah darahku.kau adalah jantungku,” kata Andra the Backbone, namun berada di dekatnya justru membuatku mematung, seperti tak ada udara, seperti sulit bernapas.
Memahami bagaimana otak saya bekerja dan juga bagaimana wanita memandang pria yang berani mengambil inisiatif langkah pertama inilah yang membantu saya nekat mendekati wanita yang saya sukai. Walau teman-teman saya sering meledek karena sejauh ini belum pernah ada yang berhasil :p.
Fakta tentang bagaimana pria dan wanita ini yang membuat saya sangat setuju dengan pendapat Ridwan Kamil. Dalam akun ask.fm-nya, Ridwan Kamil ditanya, “Pernah menerima cinta seseorang lalu menyesal?” Ia pun menjawab, “Saya kan laki-laki. Laki-laki itu menembak bukan ditembak. Paham?” Ya. Lelaki itu mengejar bukan dikejar.
Jika peran laki-laki itu mengejar, lalu bagaimana dengan wanita? Apakah wanita hanya pasif saja menunggu dikejar? Wanita itu dikejar, namun bukan pasif menunggu. Justru wanita yang memotivasi pria untuk terus mengejar, wanita itu perannya menangkap yang mengejar. Dan wanita punya kebebasan untuk menentukan siapa yang berhak untuk dia tangkap, dan siapa yang dia acuhkan begitu saja.
John Gray memberikan analogi yang bagus tentang bagaimana seharusnya wanita bersikap dalam proses kejar-mengejar. Wanita perlu berpikir layaknya sedang shopping—belanja. Ketika sedang berkeliling mall, wanita bebas mendekati baju yang dia suka, menentukan kriteria baju yang dia inginkan, tanpa perlu membuktikan pada pelayan toko bahwa dia ingin membeli bajunya. Baginya, sah-sah saja kalau tak jadi membeli dan pergi ke toko lain, atau kembali lagi jika ia mau.
Peran wanita adalah merespon pada hal-hal yang ditawarkan oleh pria. Jika suka, ia tangkap. Jika tak suka, tinggal bilang “Kita jadi teman saja ya.” Hati pria itu unik, jika ditolak maka hatinya akan patah. Namun hati itu makhluk langka yang semakin serng ditolak, justru menjadi semakin kuat.
Kejarlah daku kau kutangkap. Hubungan antara pria dan wanita menjadi menarik karena pria dan wanita menjalankan peran yang berbeda namun saling melengkapi ini.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment