-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Monday, 27 May 2013

Ancaman Upah Buruh Murah di Myanmar, Apa Hubungannya dengan Kita?

No comments :
Membaca Indonesia Finance Today hari ini (27/05/2013), ada berita yang sudah diduga akan terjadi. “Perusahaan Jepang berencana mendiversifikasi basis produksi karena kenaikan upah tenaga kerja di Thailand, Malaysia, dan Indonesia.” “Perusahaan-perusahaan Jepang mulai gencar masuk ke Myanmar karena upah tenaga kerja termurah di Asia.” “Beban total gaji tahunan bagi pekerja di Myanmar di bidang manufaktur sebesar US$ 1.100 per tahun,” tulis Dyah Yossie dalam artikel “Jepang Tertarik Upah Murah di Myanmar.”

Fenomena ini memang sudah terbaca sejak adanya kenaikan upah minimum yang cukup drastis, hingga 2,2 juta rupiah per bulan. Jauh lebih tinggi dari upah buruh Myanmar—yang hanya 900 ribu rupiah sebulannya. Dalam The World is Flat, Thomas Friedmann menjelaskan efek dari globalisasi ini, setiap orang bisa mendapatkan informasi dengan lebih mudah. Termasuk dalam kasus ini pengusaha-pengusaha yang ingin mendapat competitive advantage, berupa upah buruh yang lebih murah. Berita kenaikan upah buruh di Indonesia mereka peroleh dalam sekejap. Mereka juga bisa mendapat informasi negara lain yang menawarkan upah buruh yang lebih rendah, sehingga bisa segera memutuskan untuk diversifikasi basis produksi ke negara dengan timbal  balik investasi yang lebih menguntungkan. Efek diversifikasi basis produksi ini tentu saja makin banyak pengangguran di negeri ini.

Lalu, apakah solusi bagi terancamnya lapangan kerja ini adalah diturunkannya kembali upah minimum buruh? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita menengok pernyataan mantan CEO P&G, A.G. Lafley, dalam buku Playing to Win: How Strategy Really Works.

“The low-cost player doesn’t necessarily charge the lowest prices. Low-cost players have the option of underpricing competitors, but can also reinvest the margin differential in ways that create competitive advantage. Mars is a great example of this approach. Since the 1980s, it has held a distinct cost advantage over Hershey’s in candy bars. Mars has chosen to structure its range of candy bars such that they can be produced on a single super-high-speed production line. The company also utilizes less-expensive ingredients (by and large). Both of these choices greatly reduce product cost. Hershey’s and other competitors have multiple methods of production and more-expensive ingredients and hence higher cost structures. Rather than selling its bars at a lower price (which is nearly impossible because of the dynamics of the convenience-store trade), Mars has chosen to buy the best shelf space in the candy bar rack in every convenience store in America. Hershey’s can’t effectively counter the Mars initiative; it simply doesn’t have the extra money to spend. On the strength of this investment, Mars moved from a small player to goliath Hershey’s main rival, competing for overall market share leadership.”

Sebagai cost leader, Mars punya pilihan untuk menurunkan harga cokelatnya di pasaran, namun mereka lebih memilih untuk menginvestasikan margin yang mereka miliki untuk mendapat spot terbaik untuk menjual cokelatnya. Begitu pula dengan buruh, upah yang mencapai lebih dari 2 kalinya buruh Myanmar, harus dikompensasikan dengan daya tawar yang lain. Memang agak sulit menutup kelebihan upah yang melebihi 100%, namun masih harus dicoba mencari strategi lain agar bisa unggul dari Myanmar. Misalnya dengan tidak berdemonstrasi agar pabrik bisa beroperasi penuh. Meningkatkan kapasitas agar laju produksi perhari meningkat. Situasi politik dalam negeri yang lebih stabil agar pengusaha-pengusaha lebih tenang berinvestasi—dalam hal ini mungkin kita masih bisa lebih unggul karena Myanmar lebih rawan konflik. Selain itu bisa juga dengan meningkatkan kepastian aturan dan hukum agar biaya investasi lebih bisa diprediksi. Ada banyak alternatif lain untuk menjadi cost leader, upah rendah hanya salah satu alternative.

Ancaman kehilangan pekerjaan ini bukan hanya ada pada buruh-buruh pabrik, bisa juga terjadi pada kita. Dalam satu billboard iklan Altium Solutions, perusahaan desain elektronik di Amerika Serikat, tertulis, “1,000,000 people overseas can do your job. What makes YOU so special?” Kompensasi yang kita terima dari profesi kita bukanlah taken for granted. Ada banyak orang lain yang ingin mendapat pekerjaan kita sekarang dengan gaji yang lebih rendah. Untuk itu, kita perlu meningkatkan kapasitas kita setiap saat. Kelebihan kompensasi yang kita terima bisa digunakan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan di luar, membeli buku yang relevan dengan pekerjaan kita sehari-hari, atau mengikuti perkumpulan-perkumpulan yang mendukung aktivitas pekerjaan kita. Dengan ini, kita bisa menjadi cost leader Menutup pembahasan ini, saya kutip kembali pernyataan A.G. Lafley tentang cara menjadi cost leader.
“… You don’t get to be a cost leader by producing your product or service exactly as your competitors do, and you don’t get to be a differentiator by trying to produce a product or service identical to your competitors’.”

“… Many companies like to describe themselves as winning through operational effectiveness or customer intimacy. These sound like good ideas, but if they don’t translate into a genuinely lower cost structure or higher prices from customers, they aren’t really strategies worth having.”

No comments :

Post a Comment