Wednesday, 29 May 2013
Bekerja dalam Kesunyian
Konon, di dunia pengobatan Timur dahulu, jika seseorang yang sakit mendatangi tabib/dokter, maka tabib/dokter harus membungkukkan diri di depan pasien dan meminta maaf. Alasannya, dokter hendaknya bertanggung jawab mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Mungkin hal ini terasa aneh, namun sejatinya memiliki arti yang sangat mendalam, bagaimana tidak, seorang penyembuh atau seorang dokter seharusnya memiliki tugas untuk membuat orang-orang menjadi sehat dan mencegah mereka menjadi sakit, bukannya malah menjadi pahlawan kesiangan yang mengobati setelah penyakit timbul.
Dr. Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin
Bukan hanya di dunia kedokteran zaman sekarang saja sebenarnya yang lebih memfokuskan diri jadi pahlawan kesiangan daripada mencegah datangnya "penyakit." Dalam kehidupan sehari-hari juga tampaknya sering terjadi kita berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang ada daripada mencegah masalah itu muncul.
Benar juga perkataan Jack Sim (pendiri World Toilet Organization, organisasi yang menyebarkan sanitasi bersih ke daerah tertinggal) dalam salah satu seminarnya, yang isinya kurang lebih "kita cenderung berusaha untuk mengatasi masalah daripada mencegahnya karena mengatasi masalah itu gampang diukur dan bisa dirayakan tingkat keberhasilannya. Berbeda dengan mencegah masalah, tidak ada orang yang akan memberikan ucapan selamat."
Mengubah cara pandang ini cukup sulit. Naluri manusia cenderung mengejar pujian dan penghargaan, baik dari orang lain maupun kepuasan diri sendiri, daripada bekerja keras dalam kesunyian. Namun seperti Rasulullah dan para Sahabat yang bekerja dalam kesunyian untuk membentuk peradaban paling gemilang yang pernah ada, bekerja dalam kesunyian inilah yang benar-benar berarti dalam hidup.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
Well written :)
ReplyDeleteBegini, sebenarnya sebagian besar penyebab penyakit itu secara eksternal adalah virus dan bakteri, namun keduanya tidak akan berpengaruh ke metabolisme manusia ( Homo sapiens) manakala sistem imunitasnya normal. Virus dan bakteri bisa menjadi patogen karena ekosistem yang sudah tidak seimbang, awalnya dari sanitasi. Ketika populasi Homo sapiens punya kepadatan tinggi di sebuah area, dan sanitasi tidak diperhatikan, di situ awal mula epidemi ( outbreak) terjadi.
Industri farmasi untung besar karena penjualan antibiotik, dan penjualan utama memang dari segmen itu. Sales revenue global, untuk industri farmasi itu cuma dua : Antibiotik dan Vaksin, untuk segmen patogen bakteri dan virus, dari sejak Perang Dunia II grafiknya jelas terlihat.
Sales endorser utama dari supply chain antibiotik dan vaksinasi industri farmasi adalah dokter, nah, kelihatan kan polanya ? Di sini ada hubungan transaksional sebab akibat, siapa yang merasa lebih paham, dan siapa yang merasa tidak paham soal patologi.
Etika kedokteran memang seharusnya seperti di atas, namun yang seharusnya terjadi, jauh dari teori yang sebelumnya selalu diajarkan di pendidikan formal, motifnya banyak, tapi yang utama adalah ekonomi dan otoritas, dari pihak dokter sendiri.
Kalau masyarakat konsumen cerdas, mereka akan berusaha mencari 2nd opinion, dan mencari tahu dari berbagai pakar, tentang kondisi tubuhnya, jika dirasa ada penyakit.