-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Wednesday, 3 September 2014

Memahami Pria dan Wanita bersama Feldhahn

No comments :
Dua bulan terakhir ini, saya senang mendalami karya Shaunti Feldhahn dan suaminya, Jeff. Memahami manusia. Membuka kesalahpahaman kita tentang sesama manusia. Ini inti isi buku-buku Feldhahn. Buku pertamanya, For Women Only, membahas hal-hal yang disalahpahami wanita tentang pria. Contohnya saja kecenderungan pria untuk melirik wanita lain yang tampak menarik dan apa yang bisa wanita lakukan untuk menanganinya.

Uniknya, Feldhahn menulis bukunya berdasarkan hasil riset dan survey. Biasanya, Feldhahn mewawancara 400 orang agar datanya terkumpul dengan baik. Hal ini membuat tulisan-tulisannya bukan hanya berdasarkan dugaan saja, tapi tervalidasi juga dengan menggali isi pikiran banyak orang.

Sejauh ini ada 6 buku Feldhahn yang sudah saya baca. Berikut ini pelajaran yang saya dapat dari 2 buku pertama.

For Men Only

Dari judulnya bisa kita tebak, For Men Only membahas hal-hal yang disalahpahami pria tentang wanita. Banyak pria merasa tak mengerti wanita. Wanita itu terlalu rumit katanya. Kadang tiba-tiba marah tanpa tahu penyebabnya. Ini terjadi karena pria menganggap pola pikir wanita itu sama dengan pria. Padahal sebenarnya berbeda.

Ada 7 kesalahpahaman yang Feldhahn bahas dalam buku ini. Salah satunya tentang mengapa pria sering menganggap sikap wanita tidak konsisten. Pria melihat perilaku wanita tak rasional. Namun yang tak pria pahami, sebenarnya setiap perilaku wanita itu ada alasan yang masuk akal di baliknya. Dengan memegang asumsi ini saja, seorang pria akan jauh lebih memahami pasangannya.

Jika kamu seperti saya, seorang pria yang tidak sensitif (kita kan bukan testpack ya). Ada 4 langkah yang bisa kita gunakan jika wanita terlihat marah atau kesal:
  1. Jika dia marah, selalu asumsikan bahwa bisa jadi kamulah penyebab dia marah (memang tidak selalu, tapi tetaplah asumsikan bahwa kamulah penyebabnya. Jika memang bukan kamu penyebabnya, dia akan merasa kamu sangat perhatian. Ini jadi nilai lebih di mata wanita.)
  2. Mintalah dia memberi tahu jika kamu melakukan hal yang buruk baginya.
  3. Jika wanita berkata, “saya gapapa kok,” asumsikan bahwa bukan itu yang sebenarnya ingin dia katakan, kecuali jika ia terlihat bahagia kembali dan tidak marah seperti yang kamu kira.
  4. Selalu kejar si wanita—tentu saja dengan gentle namun tetap persistent—sampai dia menerimamu dan menunjukkan apa yang sebenarnya dia rasakan.  Kamu bisa mengatakan padanya, “Saya tahu kamu bilang kamu baik-baik saja, tapi kelihatannya mungkin saya melukai perasaanmu. Bisakah kamu membantu saya memahami apa yang sebenarnya saya lakukan padamu?”

Ya, 4 langkah ini tampaknya masih mungkin untuk dilakukan pria-pria tak sensitif. Bagi yang belum punya pasangan pun,  ini bisa digunakan untuk bisa lebih memahami wanita di sekitar kita.

For Men Only dibuat dengan mewawancara 400 wanita  yang sudah menikah. Buku ini cocok bagi pria-pria yang sudah menikah yang lebih ingin memahami isi pikiran istrinya dan tentu saja membuat istrinya jauh lebih bahagia.

For Women Only

Ini buku  pertama Feldhahn yang membahas kesalahpahaman manusia. Seperti judulnya, yang dibahas adalah hal-hal tentang pria yang tak dipahami wanita. Dibuat dengan meriset lebih dari 400 pria  yang sudah menikah, cocok sekali untuk wanita yang ingin memahami suaminya. Walau wanita yang masih jomblo pun pasti dapat banyak insight dengan membaca buku ini.

Ada 7 poin yang dibahas dalam buku ini. Salah satunya adalah tentang romantisme. Banyak wanita yang menganggap pria romantis itu langka. Pria romantis menjadi seperti barang eksklusif.  Yang tak wanita pahami, setiap pria itu punya sisi romantis yang besar. Seperti wanita yang berangan-angan dijemput pangeran berkuda putih—atau mungkin pria berjaket kulit naik moge, atau pria berimej lain yang ada dalam impian masa kecil wanita—pria juga punya impian romantis tersendiri.

Masalahnya, mengapa  jarang ada pria yang menunjukkan sisi romantisnya? Penyebabnya karena 3 keragu-raguan yang ada dalam diri pria.

Keraguan #1: “Saya ga jago dalam hal romantis”

Jarang pria yang tahu romantisme yang diinginkan pasangannya itu seperti apa. Ketidaktahuan ini membuat pria takut dipermalukan jika ia mencoba lalu gagal membuat  pasangannya terkesan. Terlebih lagi jika sang pria sedang punya masalah di tempat kerjanya, ia akan lebih ragu untuk melakukan hal romantis pada pasangannya.

Keraguan #2: Kegagalan masa lalu

Jika seorang pria pernah inisiatif melakukan hal-hal romantis lalu gagal, hal ini akan menghantuinya terus menerus. Karena pria merasa kurang jago dalam hal-hal romantis, pria menjadi sangat sensitif jika pasangannya menggodanya—yang pria tangkap sebagai ejekan.

Ada perkataan seorang pria dalam buku ini yang menjelaskan poin ini. “Saya menghabiskan banyak sekali waktu mencari hadiah ulang tahunnya, dan saya sangat bersemangat untuk ini. Ketika  istriku membukanya, ia tersenyum, berkata, “Thanks, sweetheart,” menciumku di pipi, lalu mengajak makan malam di luar. Kesan yang saya dapat, hal yang saya lakukan ternyata belum benar baginya. Lain kali lebih baik saya tidak usah berusaha sekeras itu, ambil aman saja.”

Respon seperti ini saja pria bilang tidak cukup dan membuatnya ragu untuk mencobanya lagi. Apalagi kalau si wanita tidak merespon sama sekali. Tidak heran kan kalau banyak pria yang kapok mencoba romantis?

Keraguan #3: Sulit mengubah cara berpikir

Di tempat kerja, pria dituntut untuk bekerja dengan cepat dan menjadi tangguh. Sementara dalam romantisme, pria harus menjadi gentle. Untuk bisa beralih peran dari tangguh menjadi romantis, pria butuh masa transisi. Inilah jawaban mengapa pria sering nonton tv sepulang kerja, ia butuh itu untuk transisi. Jika pasangannya mengerti hal ini dan memberinya waktu untuk beristirahat, sang pria akan menjadi lebih bahagia dan hadir sepenuhnya di rumah.

Itu 3 keraguan yang dimiliki pria. Lalu apa yang bisa wanita lakukan untuk membuat pasangannya lebih merasa romantis. Ada dua sebenarnya, yang kedua tak akan saya bahas di sini karena isinya tentang hubungan badan. Yang pertama tentang apa yang pria anggap romantis: bermain bersama.

Bagi pria, bermain bersama pasangannya adalah hal yang sangat sangat romantis. pernyataan pria ini sangat menjelaskan poin ini.

“Kebanyakan pria yang sudah menikah tak mau meninggalkan istrinya untuk melakukan guy things. Mereka ingin melakukan guy things bersama istrinya. Pria ingin istrinya menjadi teman bermainnya. Ini tak ada bedanya dengan berkencan. Bagi  pria, bagian yang paling seru adalah melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama.

“Wanita yang bersenang-senang ketika bermain menghabiskan waktu bersama suaminya itu sangat menarik. Jika kamu melihat wanita bermain game bersama suaminya, saya jamin pria-pria lain akan merasa cemburu. Pergi  keluar dan bersenang-senang bersama seringkali pudar setelah menikah karena adanya beban tanggung jawab, sementara pria masih ingin bermain bersama istrinya.”

Dua buku yang menarik kan yah? Di postingan berikutnya akan saya bahas 4 buku lainnya dari Feldhahn. See you

No comments :

Post a Comment