-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Monday, 24 November 2014

Return of Superman #47: That’s How Love Began

No comments :
Tema episode ini menarik. Bagaimana cinta dimulai. Bagi Ilkook, rasa cinta pada istrinya muncul pada pandangan pertama. Ilkook bercerita, “Wartawan gosip ngecomblangin kami. Saat pertama melihatnya (istrinya), saya merasa, ‘Wow. She’s the one.’…. Saya berpikir untuk menikahinya setelah kencan pertama…..”

“Kami bertemu tanggal 15 Agustus, saat hari kemerdekaan (Korea),” lanjut Ilkook, “Hidup saya akhirnya termerdekakan.”

Lain pula dengan pasangan Tablo-Hyejeong. Hyejeong-lah yang mula-mula suka pada Tablo. Di memori handphone-nya ia menyimpan nomor kontak Tablo dengan nama “Milikku.” Faktor apa yang membuat Hyejeong memilih Tablo? “Kayaknya saya butuh seorang teman untuk menghabiskan sisa hidup,” kata Hyejeong.

Lalu bagaimana dengan Tablo? Apa yang membuatnya memilih Hyejeong? “Rasanya wanita ini ingin membantu menggapai mimpiku. Dia membuatku merasa seperti itu,” katanya Tablo. Dua faktor penentu yang  menarik: mencari teman sepanjang usia sekaligus saling mendukung untuk mewujudkan impian.

Yang lebih menarik lagi hasil didikan pasangan ini, Haru. Saat ditanya, apa itu cinta? Haru menjawab, “Ketika ayah bilang, ‘aku suka kamu,’”

“Ketika ayah membuatku tertawa, itulah cinta,” lanjut Haru. Masih tak percaya saya kalau ini diucapkan anak 4 tahun.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=zmVISHZyTzc] Di episode berteme That’s How Love Began ini saya belajar beberapa hal lainnya juga. Ini diantaranya:

Mendaki Gunung Bersama

[caption id="attachment_103" align="aligncenter" width="730"]Hwijae membawa Seoun dan Seojun hiking Hwijae membawa Seoun dan Seojun hiking[/caption]

Soal  melatih mental anak, Hwijae jagonya. Kali ini ia mengajak Seoun dan  Seojun mendaki gunung. Membuat dua bocah kecil ini menguji kemampuan fisik, dan yang pasti mental, mereka sendiri. Seoun dan Seojun mendaki dengan cukup intens hingga akhirnya Seoun menyerah, lanjut Seojun beberapa saat kemudian.

Pemberian tantangan seperti ini memang perlu dilakukan. Mengekstrarentangkan kemampuan anak. Membuatnya menyadari batasan kemampuan diri, lalu melampauinya. Lain kali si kembar ini akan bisa menyelesaikan pendakian mereka.

Latihan Memakai Baju

Kali ini Daehan, Minguk, Manse belajar skill baru: memakai baju sendiri. Bagi orang dewasa, memakai baju terlihat sederhana. Namun menjadi tantangan yang cukup sulit bagi anak usia dua setengah tahun. Memang perlu kesabaran seperti Ilkook untuk membuat batita belajar menggunakan baju sendiri. Patut dicoba kalau membesarkan batita.

Membuat Kado Bersama untuk Ibu

Untuk ulang tahun istrinya, Ilkook menyiapkan kado bersama ketiga anaknya. Jus anggur petikan sendiri yang disertai kartu ucapan dengan cap tangan ketiga anaknya. Selebrasi yang romantis. Namun ketika Ilkook ditanya, “Kamu romantis ya?” Ia menjawab, “Ngga ah. Saya harus seperti ini supaya kehidupan rumah tangga saya lebih mudah.”

Ilkook tidak merasa hal yang ia lakukan sesuatu  yang “Wah.” Namun seperti sudah keharusannya sebagai suami. Bisa dibilang ini bentuk rasa syukurnya karena punya pasangan seperti istrinya.

Dalam buku The Surprising Secrets of Highly Happy Marriages, Shaunti Feldhahn menunjukkan hasil penelitiannya tentang hal-hal yang membedakan pasangan suami istri yang bahagia. Salah satunya adalah selalu berusaha untuk mengimbangi hal yang dilakukan pasangan.

Pasangan yang tidak bahagia akan cenderung mengungkit-ngungkit hal yang ia lakukan lalu menuntut pasangannya untuk melakukan hal yang menurutnya sepadan. “Saya kan sudah mengurus anak seharian. Kok kamu ngga berkorban buat hubungan kita sih?” Kata-kata seperti ini yang dilontarkan pasangan tak bahagia.

Namun pasangan yang bahagia cenderung mengamati hal-hal yang dilakukan pasangan, lalu berusaha untuk membalas pengorbanan pasangan tersebut, tanpa diminta. Ini dilakukan semata-mata sebagai rasa syukur karena pasangannya telah mau menikah dengannya. Seperti Ilkook, suami istri yang bahagia merasa beruntung bisa hidup bersama pasangannya.

Dari lubuk hatinya berkata, “The fact that I get to live with him/her over the course of my lifetime is one of the biggest scams I’ve pulled off.”

Mendidik Anak Pertama: “He’s the one that hold on to the end.”

Ilkook mendidik anak pertamanya, Daehan, secara berbeda. Daehan selalu diberi tanggung jawab lebih. Salah satunya Daehan selalu diminta memegang saudaranya. “Dia anak sulung,” kata Ilkook menjelaskan alasannya, “He’s the one that hold on to the end.” Seiring bertambahnya usia, beban Daehan secara sosial memang akan lebih banyak daripada Minguk dan Manse.

Hal ini mengingatkan saya akan kata-kata ibu saya. Saat bapak meninggal, ibu saya bilang, “Kita engga punya uang, tapi Kakang dan adik-adik harus sekolah sampai lulus kuliah.” Sebagai anak pertama, saya sendiri juga merasakan beban anak pertama di keluarga itu memang berbeda. Singkat cerita, syukurlah sekarang saya dan kedua adik saya sudah bisa kuliah dan adik yang terakhir sebentar lagi lulus.

Latihan mental sejak dini menjadi diperlukan. Hal yang dilakukan Ilkook ini bisa ditiru.

The Terrible Two

Saat bermain cat, Daehan ogah-ogahan. Ia tidak nyaman cat yang lengket menempel di tangannya. sampai akhirnya ia tidak sengaja menempelkan tangannya ke sofa—meninggalkan noda yang sulit dihilangkan. Ilkook marah dan melarangnya menyentuh sofa.

Namun larangan Ilkook justru membuat Daehan mengotori sofa lagi. Ilkook tambah marah, Daehan makin semangat meninggalkan jejak tangan di sofa. Tambah lagi, Minguk dan Manse ikut-ikutan mengotori sofa.

Ternyata, fenomena ini ada pada semua  anak usia dua tahun. Di Barat ada istilah Terrible Two—anak usia 2 tahun cenderung melawan kata-kata orang tuanya. Semakin orang tua menekan anak, seperti melarang, anak justru makin ingin melanggar perintah.

Mintalah anak 2 tahun untuk melakukan sesuatu, ia akan melakukan kebalikannya. Berikan satu mainan, ia akan minta dibelikan mainan lain. Coba gendong ketika ia enggan, sang anak akan meronta minta diturunkan. Turunkan ia dari pangkuan, anak akan mengamuk minta digendong.  Apa yang sebenarnya terjadi pada anak?

Menginjak usia 2 tahun, anak mulai belajar konsep diri sebagai individu. Sebelumnya ia menganggap dirinya hanya bagian dari lingkungan sosial saja—pembelajarannya dominan dari mengamati lingkungan. Selepas dua tahun, anak mulai memiliki kebutuhan akan identitas diri. Anak mulai menganggap pentingnya konsep kebebasan.

Anak usia 2 tahun ingin dianggap sebagai entitas yang independen. Ia akan mencoba berbagai hal untuk mengeksplorasi seberapa banyak hal yang boleh ia lakukan. Ketika anak 2 tahun menolak mengikuti perintah orang tuanya, kita perlu memandangnya bukan karena anak ingin memberontak. Anak sebenarnya sedang berusaha untuk mengumpulkan informasi.

Aksi melawan sang anak adalah sarananya belajar tentang batasan kebebasan yang sebenarnya bisa anak peroleh. Dengan menguji batasan perilaku (dan juga tentu menguji batasan kesabaran orang tua), anak belajar banyak tentang cara dunianya bekerja—dalam hal apakah anak bisa memegang kendali sepenuhnya, dan dalam hal apa anak harus menurut pada orang tuanya.

Bagaimana cara mengatasi terrible two  ini? Konsisten. Orang tua perlu konsisten akan aturan yang diterapkan pada anak. Dengan konsisten, anak akan belajar lebih cepat di fase ini. Hal lain yang bisa diterapkan adalah memberi anak pilihan. Ketika meminta anak untuk mandi, jangan bilang, "Nak, mandi yuk!" Kemungkinan besar dia akan menolak. Alih-alih, tanyakan, "Mau mandi 5 menit lagi atau 10 menit lagi?"

Orang tua masih perlu siap-siap untuk menghadapi masa memberontak lagi. Kelak  saat anak tumbuh remaja,  fase memberontak seperti saat anak usia 2 tahun ini akan kembali lagi. Saat remaja nanti akan bertambah lagi tantangannya karena peer pressure akan berperan juga. Tentu perlu belajar banyak  untuk mendampingi anak melewati masa ini dan ia bisa menjadi dewasa.

Membawa Anak ke Tempat Kerja

“Dia bisa bertemu banyak orang dari berbagai usia. Dan selama dia bergaul dengan mereka, kurasa dia banyak belajar secara sosial. Saya ingin terus membawanya kemana-mana,” kata Tablo ketika menjelaskan alasan sering membawa Haru ke “kantornya.”

Interaksi Haru dengan banyak orang dewasa di tempat orang tuanya bekerja ini sangat mengembangkan potensi Haru. Ia sangat terbiasa bergaul dengan berbagai macam orang.

We time. Couple time. Family time

[caption id="attachment_102" align="aligncenter" width="730"]Tablo, Hyejeong, dan Haru selalu bermain bersama Tablo, Hyejeong, dan Haru selalu bermain bersama[/caption]

“Jarang sekali ada waktu untuk kita berdua karena si kembar,” kata Jeongwon. Kabarnya, banyak pasangan suami istri yang menjadi renggang setelah punya anak. Mengurus bayi itu sangat merepotkan. Menguras banyak waktu dan tenaga. Couple time yang dulunya bisa dijadwalkan menjadi harus curi-curi waktu.

Hal yang dilakukan Jeongwon dan Hwijae menarik untuk mengatasi masalah ini. Mereka mengulang fase kejar-mengejar yang biasa mereka lakukan semasa pacaran dulu. Jeongwon meminta Hwijae menebak tempat kenangan mereka berdua. Dengan petunjuk yang terbatas, Hwijae bersama Seoun dan Seojun mencari Jeongwon.

Couple time memang harus diusahakan. Bahkan ketika percikan emosi menggebu itu hilang karena sudah terlalu terbiasa bersama. “The book of love is long and boring,” kata Peter Gabriel. Membangunnya bersama-sama  yang membuatnya menarik. Membuat we time, couple time, family time.

Pasangan yang paling jago membangun we time ini tentu saja Hyejeong dan Tablo. Keputusan Hyejeong menikahi Tablo memang sesuai harapannya. Mereka berdua benar-benar menjadi seperti teman. Sama-sama senang bermain bersama. Tentu asyik bisa bermain  terus bersama pasangan.

Keluarga, tempat cinta berasal. Tempat cinta diuji. Tempat cinta tumbuh dewasa. Ini pelajaran yang saya dapat dari episode kali ini, bagaimana dengan kamu?

No comments :

Post a Comment