Tuesday, 30 December 2014
Jangan Main Sendirian Dong!
Play is the highest form of research.
Dalam Return of Superman episode 49, Hwijae membawa mainan ke taman. Di sana ada orang tua lainnya juga yang membawa anak-anaknya. Seoeon dan Seojun bermain bersama balita-balita sebayanya. Belajar berbagi mainan, belajar bermain bersama.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=wcIqqwdOvNM&w=560&h=315]
“Ketika orang tua merawat anak-anaknya, pagi dan siang berlalu sangat cepat. Seperti keajaiban. Melihat anak-anak berbicara dan bermain bersama. Weekend akan jadi jauh lebih menyenangkan kalau tiap keluarga (pergi ke taman) membawa satu mainan,” kata Hwijae.

Mengajak anak bermain bersama dalam komunitas memang menyenangkan. Belum lagi pelajaran yang didapat pun berkali lipat. Ini yang membuat saya suka bermain bersama anak-anak dalam komunitas. Mengamati perkembangan seorang anak saja bisa membuat terharu. “Wah bisa juga saya jadi satu fragmen yang mengubah sebagian kecil hidup seseorang,” pikir saya tiap kali melihat seorang anak belajar saat saya temani. Tidak heran kalau Hwijae bilang waktu berjalan dengan cepat saat bermain bersama anak-anak.
Mungkin ini yang membuat saya semangat jadi relawan bermain bersama anak-anak. Mulai dari kegiatan mingguan Rumah Zakat saat SMA lanjut ke Polisi Lingkungan Cilik SD Pelesiran saat kuliah. Begitu pun setelah bekerja, saya ikut belajar di Sanggar Dreamdelion Cerdas hampir setahun. Dan sekarang bermain bersama anak-anak juga di Happy Play.
Terlalu sayang hidup ini kalau dilewatkan tanpa bermain. Ada yang menganggap kalau bermain itu kurang bermanfaat. Mungkin karena bermain itu dianggap hanya main-main saja. Mungkin itu yang membuat banyak orang dewasa tak mau bermain bersama anak-anak. Padahal bermain itu bisa jadi ajang untuk tumbuh bersama—berkembang bersama. Semoga ini hanya prasangka buruk saya saja.
Eko Nugroho, pakar game design yang juga volunteer Happy Play pernah berpesan, “Kita perlu belajar bermain dengan serius!” Ya, serius. Serius bukan berarti menghilangkan efek menyenangkan dalam bermain. Tapi bermain yang disertai persiapan, bermain yang disertai mengambil hikmah, bermain yang disertai saling memperhatikan perkembangan sesama.
Tentu menyenangkan kalau bisa serius bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan tetangga, dengan teman, atau rekan kerja. Atau mungkin kita tidak perlu menjangkau sejauh itu. Mungkin cukup dengan sesama anggota keluarga. Orang-orang dekat yang sering terasa jauh. Satu pertanyaan dari Eko Nugroho yang cukup reflektif, “Kapan terakhir kali duduk di meja makan untuk bermain bareng sesama anggota keluarga?”
Yuk, kita main bersama!
Monday, 1 December 2014
Return of Superman #48: Dads Are The Toughest Men in The World
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=A4SXMca_yik]
Menjadi Tangguh Itu Masalah Proses, Bukan Hasil
[caption id="attachment_107" align="alignleft" width="300"]
usaha yang diberikan itu lebih penting dari hasil yang didapat[/caption]“Kita masuk finish paling terakhir tapi gak papa. Kita melakukannya cukup baik,” kata Tablo setelah mengikuti balapan selancar di lumpur. Mulanya Tablo melaju paling depan. Tubuhnya yang ringan membuatnya bisa melaju dengan cepat. Sayang saat berbalik arah, Tablo agak kewalahan. Akhirnya ia tersusul oleh ayah-ayah lainnya.
Yang menarik adalah komentar Tablo setelah mengalami kekalahan. “Tak mengapa kalah, asalkan kita melakukan yang terbaik.” Tak perlu menyesal jika hasil yang kita dapatkan lebih buruk daripada orang lain. Yang bisa kita kendalikan sepenuhnya itu usaha kita. Usaha orang lain sama sekali tidak bisa kita kontrol. Oleh karena itu, tugas kita adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa.
Jika kita sudah melakukan yang terbaik, tak ada yang perlu kita sesali kalau memang hasilnya tidak begitu bagus. Kita tidak perlu merasa nilai diri kita jatuh karena kalah. Begitu juga, kita tidak perlu merasa diri kita menjadi lebih berharga jika menang.
Walau memang wajar muncul perasaan kecewa jika kalah, atau merasa bangga jika menang. Namun kondisi eksternal itu tidak perlu menentukan nilai diri kita. Jika sudah melakukan yang terbaik, kita tak akan merugi sama sekali. Lalu dari mana kita tahu kalau kita sudah melakukan yang terbaik? Benak masing-masing yang bisa menjawab. Begitu mulai mencari-cari alasan, kita akan tahu kalau sebenarnya usaha kita belum maksimal.
Dalam buku Mindset: Psychology of Success, Carol Dweck menyebutkan salah satu ciri orang ber-fixed mindset, yakni terkena somebody-nobody syndrome. Orang-orang ini merasa nilai dirinya ditentukan oleh hal-hal eksternal.
Ia khawatir akan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Seperti hasil akhir pertandingan atau pujian orang lain. “Kalau saya kalah dalam pertandingan ini, tidak ada artinya diri ini.” “Lebih banyak orang yang menghargai karyaku daripada karyanya dia. Saya pasti lebih baik darinya.” itu yang dipikirkan orang bersindrom ini. If I win, I’ll be somebody; if I lose, I’ll be nobody.
Bahayanya, orang yang terkena sindrom ini akan merasa sangat hancur jika ia kalah. Ia akan enggan mencoba jika hasilnya tak sesuai harapannya. Begitu pula jika ia menang, ia akan merasa berbangga diri dan rentan merasa cukup. Akibatnya ia akan berhenti belajar, atau belajar tapi tidak sekeras sewaktu berjuang dulu. Hal eksternal apa pun yang terjadi padanya, baik menang ataupun kalah, orang yang terkena somebody-nobody syndrome tidak akan pernah mengeluarkan potensi terbaiknya.
Sebaliknya, perkataan Tablo ini menunjukkan orang yang memiliki growth mindset. Hasil akhir memang tak sesuai harapan, namun ini tidak menentukan nilai dirinya. Kalah bukan berarti segalanya. Ia masih bisa latihan lalu mencoba lagi. Kalau ia menang, ia tahu kalau menambah latihan akan membuatnya lebih baik lagi. Bukan hanya dalam permainan ini, tapi dalam segala aspek kehidupan.
Mia Hamm, salah satu pemain sepak bola wanita terbaik, pernah berkata, “After every game or practice, if you walk off the field knowing that you gave everything you had, you will always be a winner.” Inilah yang membuat seseorang menjadi tangguh. Bukan hasil akhir, tapi usahanya. Proses yang ia pilih, yang ia jalani.
Kamulah yang Membuatku Bertahan Saat Menyerah Menggoda
[caption id="attachment_111" align="alignleft" width="300"]
support keluarga adalah motivasi seorang ayah[/caption]Agak cheesy ya subjudulnya. Namun ini yang menjelaskan perasaan Choo Sunghoon pada episode ini. Bukan hanya dia, tapi perasaan semua pria di dunia. Apa yang membuat seorang pria terus berjuang? Di balik setiap pria hebat ada wanita yang luar biasa. Istrinya Shiho, dan juga anaknya Sarang, yang menguatkannya untuk terus bertarung.
Sunghoon mau berlatih setiap hari. Pergi sebelum Sarang bangun dan pulang setelah Sarang tidur. Butuh disiplin untuk bisa melakukan itu. Namun ia tahu, jika saat pertandingan nanti ia menjadi bisa melakukan yang terbaik—menunjukkan penampilan primanya—Shiho dan Sarang akan menyambutnya dengan wajah tersenyum.
Hal ini sebenarnya yang menjadi alasan pria bekerja keras. Ia ingin menjadi seseorang yang diandalkan oleh keluarganya. Tak mengapa ia banyak berkorban, asalkan keluarganya dapat hidup sesuai harapannya. Secara naluri, pria akan menilai dirinya berdasarkan hal ini, kemampuannya memberi nafkah bagi keluarganya.
Dalam buku For Women Only, Shaunti Feldhahn menunjukkan bahwa 7 dari 10 pria selalu merasakan beban mencari nafkah ada pada pundaknya. Semakin besar kemampuannya untuk memberi nafkah, pria akan merasa semakin tangguh. Itu yang membuat seorang pria tahan menanggung tekanan di tempat kerja. Rasa malu karena tak bisa menjadi andalan keluarga terlalu besar untuk mereka korbankan.
Hal yang menarik dari karakteristik pria ini adalah semakin besar dukungan keluarganya, terutama istri, ia akan bekerja lebih keras. Dukungan seperti apa yang pria harapkan? Tentu bermacam-macam. Namun yang utama adalah sambutan penuh senyum dan kebahagiaan dari pasangannya. Layaknya Shiho dan Sarang yang menyambut kemenangannya, setiap pria menginginkan hal yang serupa dari istrinya. Inilah yang membuat pria menjadi semakin tangguh.
Go the Distance,lagu Michael Bolton yang menjadi soundtrack film Disney Hercules menggambarkan bagaimana harapan pria ini.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=gkbUr2rMSsk]
Go the Distance
I have often dreamed, of a far off place
Where a hero's welcome, would be waiting for me
Where the crowds will cheer, when they see my face
And a voice keeps saying, this is where I'm meant to be
I'll be there someday, I can go the distance
I will find my way, if I can be strong
I know ev'ry mile, will be worth my while
When I go the distance, I'll be right where I belong
Down an unknown road, to embrace my fate
Though that road may wander, it will lead me to you
And a thousand years, would be worth the wait
It might take a lifetime, but somehow I'll see it through
And I won't look back, I can go the distance
And I'll stay on track, no, I won't accept defeat
It's an uphill slope, but I won't lose hope
Till I go the distance, and my journey is complete
But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart
Like a shooting star, I will go the distance
I will search the world, I will face its' harms
I don't care how far, I can go the distance
Till I find my hero's welcome, waiting in your arms
Ya. Setiap pria mengharapkan hero’s welcome yang hanya untuknya diberikan oleh orang yang paling ia cintai. Ini yang membuatnya terus memperbaiki diri. Untuk melihat orang yang ia kasihi menunggunya dengan senyum penuh bangga di garis finish. Tak peduli keringat yang harus ia simbahkan dalam perjalanannya.

Ayah menjadi orang paling tangguh di dunia bukan karena prestasi atau pengakuan orang-orang di sekitar. Ayah menjadi orang paling tangguh karena ia melakukan yang terbaik. Seorang ayah akan berusaha untuk melakukan yang terbaik karena ada keluarga yang selalu mendukungnya. Istri dan anak yang tak mau ia kecewakan.
Monday, 24 November 2014
Return of Superman #47: That’s How Love Began
“Kami bertemu tanggal 15 Agustus, saat hari kemerdekaan (Korea),” lanjut Ilkook, “Hidup saya akhirnya termerdekakan.”
Lain pula dengan pasangan Tablo-Hyejeong. Hyejeong-lah yang mula-mula suka pada Tablo. Di memori handphone-nya ia menyimpan nomor kontak Tablo dengan nama “Milikku.” Faktor apa yang membuat Hyejeong memilih Tablo? “Kayaknya saya butuh seorang teman untuk menghabiskan sisa hidup,” kata Hyejeong.
Lalu bagaimana dengan Tablo? Apa yang membuatnya memilih Hyejeong? “Rasanya wanita ini ingin membantu menggapai mimpiku. Dia membuatku merasa seperti itu,” katanya Tablo. Dua faktor penentu yang menarik: mencari teman sepanjang usia sekaligus saling mendukung untuk mewujudkan impian.
Yang lebih menarik lagi hasil didikan pasangan ini, Haru. Saat ditanya, apa itu cinta? Haru menjawab, “Ketika ayah bilang, ‘aku suka kamu,’”
“Ketika ayah membuatku tertawa, itulah cinta,” lanjut Haru. Masih tak percaya saya kalau ini diucapkan anak 4 tahun.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=zmVISHZyTzc] Di episode berteme That’s How Love Began ini saya belajar beberapa hal lainnya juga. Ini diantaranya:
Mendaki Gunung Bersama
[caption id="attachment_103" align="aligncenter" width="730"]
Hwijae membawa Seoun dan Seojun hiking[/caption]Soal melatih mental anak, Hwijae jagonya. Kali ini ia mengajak Seoun dan Seojun mendaki gunung. Membuat dua bocah kecil ini menguji kemampuan fisik, dan yang pasti mental, mereka sendiri. Seoun dan Seojun mendaki dengan cukup intens hingga akhirnya Seoun menyerah, lanjut Seojun beberapa saat kemudian.
Pemberian tantangan seperti ini memang perlu dilakukan. Mengekstrarentangkan kemampuan anak. Membuatnya menyadari batasan kemampuan diri, lalu melampauinya. Lain kali si kembar ini akan bisa menyelesaikan pendakian mereka.
Latihan Memakai Baju
Kali ini Daehan, Minguk, Manse belajar skill baru: memakai baju sendiri. Bagi orang dewasa, memakai baju terlihat sederhana. Namun menjadi tantangan yang cukup sulit bagi anak usia dua setengah tahun. Memang perlu kesabaran seperti Ilkook untuk membuat batita belajar menggunakan baju sendiri. Patut dicoba kalau membesarkan batita.
Membuat Kado Bersama untuk Ibu
Untuk ulang tahun istrinya, Ilkook menyiapkan kado bersama ketiga anaknya. Jus anggur petikan sendiri yang disertai kartu ucapan dengan cap tangan ketiga anaknya. Selebrasi yang romantis. Namun ketika Ilkook ditanya, “Kamu romantis ya?” Ia menjawab, “Ngga ah. Saya harus seperti ini supaya kehidupan rumah tangga saya lebih mudah.”
Ilkook tidak merasa hal yang ia lakukan sesuatu yang “Wah.” Namun seperti sudah keharusannya sebagai suami. Bisa dibilang ini bentuk rasa syukurnya karena punya pasangan seperti istrinya.
Dalam buku The Surprising Secrets of Highly Happy Marriages, Shaunti Feldhahn menunjukkan hasil penelitiannya tentang hal-hal yang membedakan pasangan suami istri yang bahagia. Salah satunya adalah selalu berusaha untuk mengimbangi hal yang dilakukan pasangan.
Pasangan yang tidak bahagia akan cenderung mengungkit-ngungkit hal yang ia lakukan lalu menuntut pasangannya untuk melakukan hal yang menurutnya sepadan. “Saya kan sudah mengurus anak seharian. Kok kamu ngga berkorban buat hubungan kita sih?” Kata-kata seperti ini yang dilontarkan pasangan tak bahagia.
Namun pasangan yang bahagia cenderung mengamati hal-hal yang dilakukan pasangan, lalu berusaha untuk membalas pengorbanan pasangan tersebut, tanpa diminta. Ini dilakukan semata-mata sebagai rasa syukur karena pasangannya telah mau menikah dengannya. Seperti Ilkook, suami istri yang bahagia merasa beruntung bisa hidup bersama pasangannya.
Dari lubuk hatinya berkata, “The fact that I get to live with him/her over the course of my lifetime is one of the biggest scams I’ve pulled off.”
Mendidik Anak Pertama: “He’s the one that hold on to the end.”
Ilkook mendidik anak pertamanya, Daehan, secara berbeda. Daehan selalu diberi tanggung jawab lebih. Salah satunya Daehan selalu diminta memegang saudaranya. “Dia anak sulung,” kata Ilkook menjelaskan alasannya, “He’s the one that hold on to the end.” Seiring bertambahnya usia, beban Daehan secara sosial memang akan lebih banyak daripada Minguk dan Manse.
Hal ini mengingatkan saya akan kata-kata ibu saya. Saat bapak meninggal, ibu saya bilang, “Kita engga punya uang, tapi Kakang dan adik-adik harus sekolah sampai lulus kuliah.” Sebagai anak pertama, saya sendiri juga merasakan beban anak pertama di keluarga itu memang berbeda. Singkat cerita, syukurlah sekarang saya dan kedua adik saya sudah bisa kuliah dan adik yang terakhir sebentar lagi lulus.
Latihan mental sejak dini menjadi diperlukan. Hal yang dilakukan Ilkook ini bisa ditiru.
The Terrible Two
Saat bermain cat, Daehan ogah-ogahan. Ia tidak nyaman cat yang lengket menempel di tangannya. sampai akhirnya ia tidak sengaja menempelkan tangannya ke sofa—meninggalkan noda yang sulit dihilangkan. Ilkook marah dan melarangnya menyentuh sofa.
Namun larangan Ilkook justru membuat Daehan mengotori sofa lagi. Ilkook tambah marah, Daehan makin semangat meninggalkan jejak tangan di sofa. Tambah lagi, Minguk dan Manse ikut-ikutan mengotori sofa.
Ternyata, fenomena ini ada pada semua anak usia dua tahun. Di Barat ada istilah Terrible Two—anak usia 2 tahun cenderung melawan kata-kata orang tuanya. Semakin orang tua menekan anak, seperti melarang, anak justru makin ingin melanggar perintah.
Mintalah anak 2 tahun untuk melakukan sesuatu, ia akan melakukan kebalikannya. Berikan satu mainan, ia akan minta dibelikan mainan lain. Coba gendong ketika ia enggan, sang anak akan meronta minta diturunkan. Turunkan ia dari pangkuan, anak akan mengamuk minta digendong. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak?
Menginjak usia 2 tahun, anak mulai belajar konsep diri sebagai individu. Sebelumnya ia menganggap dirinya hanya bagian dari lingkungan sosial saja—pembelajarannya dominan dari mengamati lingkungan. Selepas dua tahun, anak mulai memiliki kebutuhan akan identitas diri. Anak mulai menganggap pentingnya konsep kebebasan.
Anak usia 2 tahun ingin dianggap sebagai entitas yang independen. Ia akan mencoba berbagai hal untuk mengeksplorasi seberapa banyak hal yang boleh ia lakukan. Ketika anak 2 tahun menolak mengikuti perintah orang tuanya, kita perlu memandangnya bukan karena anak ingin memberontak. Anak sebenarnya sedang berusaha untuk mengumpulkan informasi.
Aksi melawan sang anak adalah sarananya belajar tentang batasan kebebasan yang sebenarnya bisa anak peroleh. Dengan menguji batasan perilaku (dan juga tentu menguji batasan kesabaran orang tua), anak belajar banyak tentang cara dunianya bekerja—dalam hal apakah anak bisa memegang kendali sepenuhnya, dan dalam hal apa anak harus menurut pada orang tuanya.
Bagaimana cara mengatasi terrible two ini? Konsisten. Orang tua perlu konsisten akan aturan yang diterapkan pada anak. Dengan konsisten, anak akan belajar lebih cepat di fase ini. Hal lain yang bisa diterapkan adalah memberi anak pilihan. Ketika meminta anak untuk mandi, jangan bilang, "Nak, mandi yuk!" Kemungkinan besar dia akan menolak. Alih-alih, tanyakan, "Mau mandi 5 menit lagi atau 10 menit lagi?"
Orang tua masih perlu siap-siap untuk menghadapi masa memberontak lagi. Kelak saat anak tumbuh remaja, fase memberontak seperti saat anak usia 2 tahun ini akan kembali lagi. Saat remaja nanti akan bertambah lagi tantangannya karena peer pressure akan berperan juga. Tentu perlu belajar banyak untuk mendampingi anak melewati masa ini dan ia bisa menjadi dewasa.
Membawa Anak ke Tempat Kerja
“Dia bisa bertemu banyak orang dari berbagai usia. Dan selama dia bergaul dengan mereka, kurasa dia banyak belajar secara sosial. Saya ingin terus membawanya kemana-mana,” kata Tablo ketika menjelaskan alasan sering membawa Haru ke “kantornya.”
Interaksi Haru dengan banyak orang dewasa di tempat orang tuanya bekerja ini sangat mengembangkan potensi Haru. Ia sangat terbiasa bergaul dengan berbagai macam orang.
We time. Couple time. Family time
[caption id="attachment_102" align="aligncenter" width="730"]
Tablo, Hyejeong, dan Haru selalu bermain bersama[/caption]“Jarang sekali ada waktu untuk kita berdua karena si kembar,” kata Jeongwon. Kabarnya, banyak pasangan suami istri yang menjadi renggang setelah punya anak. Mengurus bayi itu sangat merepotkan. Menguras banyak waktu dan tenaga. Couple time yang dulunya bisa dijadwalkan menjadi harus curi-curi waktu.
Hal yang dilakukan Jeongwon dan Hwijae menarik untuk mengatasi masalah ini. Mereka mengulang fase kejar-mengejar yang biasa mereka lakukan semasa pacaran dulu. Jeongwon meminta Hwijae menebak tempat kenangan mereka berdua. Dengan petunjuk yang terbatas, Hwijae bersama Seoun dan Seojun mencari Jeongwon.
Couple time memang harus diusahakan. Bahkan ketika percikan emosi menggebu itu hilang karena sudah terlalu terbiasa bersama. “The book of love is long and boring,” kata Peter Gabriel. Membangunnya bersama-sama yang membuatnya menarik. Membuat we time, couple time, family time.
Pasangan yang paling jago membangun we time ini tentu saja Hyejeong dan Tablo. Keputusan Hyejeong menikahi Tablo memang sesuai harapannya. Mereka berdua benar-benar menjadi seperti teman. Sama-sama senang bermain bersama. Tentu asyik bisa bermain terus bersama pasangan.
Keluarga, tempat cinta berasal. Tempat cinta diuji. Tempat cinta tumbuh dewasa. Ini pelajaran yang saya dapat dari episode kali ini, bagaimana dengan kamu?
Sunday, 16 November 2014
Return of Superman #46 Raising Kids Makes Life A Joy
Ada yang tidak saya ketahui sebelum bertemu anakku
Hal-hal yang takkan kupahami jika saya tak pernah membesarkannya
Kebahagiaan membesarkan anak-anak
Kebahagiaan yang muncul dari memperhatikannya tumbuh dan berubah tiap harinya
Tak peduli betapa pun sulitnya,
Satu perbuatan menggemaskan dari sang anak
Memberikan kekuatan yang kita butuhkan, terasa seperti keajaiban
Itulah mengapa membesarkan anak itu sangatlah berharga
Mengamatinya tumbuh sepertiku saat menghabiskan waktu bersama
Inilah mengapa membesarkan anak itu sangat membahagiakan
Cara Mendekati Anak-Anak
Mun Dongwan, paman Seoun dan Seojun datang berkunjung lagi. Tentu saja ia berharap bisa banyak bermain dengan 2 keponakannya. Sayangnya, 2 bayi kembar ini tampak dingin. Padahal beberapa bulan sebelumnya Seoun dan Seojun sangat suka bermain dengan pamannya ini.
Tentu saja hal ini membuat Dongwan kecewa. “Saya merasa dikhianati,” katanya. Pengalaman seperti ini pernah juga saya alami. Bermain bersama anak-anak dan bersenang-senang bersama. Lalu beberapa waktu tidak bertemu. Saat bertemu kembali sang anak menganggap saya seperti orang asing. Perasaan Dongwan ini membuat saya teringat kembali momen itu.
Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu penyebabnya apa. Entah sang anak yang sudah lupa, atau ia butuh waktu untuk bisa merasa nyaman kembali dengan kita. Namun Dongwan punya caranya tersendiri untuk membuat anak mau bermain lagi dengannya: merangsang rasa ingin tahu anak. Dongwan bermain-main menggerakkan lampu senter. Seoun langsung berpikir, “Apa itu?” dan mulai mengejar-ngejar lampu senter. Mereka pun menjadi akrab kembali.
Tiap anak punya rasa ingin tahu yang besar. Untuk bisa akrab dengannya kita harus memicu rasa ingin tahunya itu. Pelajaran ini pertama kali saya dapat dari Butet Manurung. Dalam buku Sokola Rimba, Butet menjelaskan tentang caranya menjadi akrab dengan anak-anak di pedalaman Jambi. Saat awal bertemu ia akan cuek dengan sang anak, untuk bisa memicu rasa penasarannya. Setelah itu ia akan memperlihatkan hal menarik pada anak. Beberapa lama kemudian mereka menjadi akrab.
Tentu saja hal yang memicu rasa ingin tahu tiap anak itu berbeda. Seoun sangat penasaran akan cahaya lampu senter. Sementara Seojun tidak. Hal ini yang membuat bermain dengan anak-anak menarik. Tiap anak punya rasa ingin tahu yang berbeda, mendekatinya pun perlu cara yang berbeda pula. Tidak bisa dipukul rata. Merepotkan memang. Namun setelah berhasil, kebahagiaan yang kita dapat berkali-kali lipat.
Memasak Bersama Anak
Salah satu kegiatan belajar yang bisa dilakukan anak sejak dini adalah memasak. Sarang diajak memasak membuat kimchi dan kentang bakar oleh ibu dan kakek neneknya. Aktivitas yang Sarang lakukan memang masih sederhana, memasukkan kol ke mangkok dan juga kentang ke perapian. Namun dengan feedback positif berupa pujian akan membentuk imej dalam dirinya bahwa ia bisa memasak kalau mau berusaha.
Menonton film anak
Salah satu dilemma ketika mendidik batita adalah dalam menentukan tontonan yang baik untuk mereka. Banyak acara televisi yang belum layak untuk anak-anak tonton. Bahkan acara yang tampaknya dirancang untuk anak-anak pun bisa jadi punya pengaruh yang buruk. Walau begitu, tontonan yang tepat akan membantu pembelajaran anak.
Daehan, Minguk, dan Manse sangat menyukai Robocar Poli. Bagi Ilkook, serial kartun ini sangat membantunya dalam membesarkan ketiga anak kembarnya ini. Acara favorit yang sama membuat ketiganya lebih rukun ketika Robocar Poli diputar. Tema Robocar Poli yang berkutat pada nilai saling tolong-menolong membuat Daehan, Minguk, Manse mengembangkan permainannya sendiri. Salah satu anak akan berteriak “Tolong saya!” lalu dua anak lainnya akan bergegas menyelamatkannya. Cara unik dari film dalam membantu anak bersosialisasi dengan sesamanya.
Dengan mengetahui tontonan yang disukai anak juga bisa menjadi bahan diskusi. Dalam episode sebelumnya Ilkook dan ketiga anaknya melihat ke luar jendela lalu mengamati mobil-mobil di jalan. Tentu saja, tidak semua film anak punya efek positif seperti ini, bahkan bisa jadi acara yang sama punya efek buruk pada anak tertentu. Memilihkan konsumsi tontonan yang sesuai dengan karakter anak menjadi kunci dalam hal ini.
Mendidik Anak Laki-Laki Menjadi Tangguh
“Mereka itu laki-laki. Saya harus mendidik mereka supaya lebih tangguh,” kata Ilkook. Dalam hidup akan ada masalah-masalah yang dihadapi. Seberapa kuatnya mental seseorang akan menentukan pandangannya akan besar-kecil masalah tersebut.
Orang tua perlu merancang kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak. Ilkook melakukannya dengan mengajak anak bermain flying fox. Karena belum merasa nyaman, si tiga anak kembar menangis. Selama tidak membuat anak menjadi trauma, memang perlu memberikan kesulitan-kesulitan yang membuat anak menjadi semakin tangguh.
Mengenali Perbedaan Karakter Anak
Dengan mengamati anak saat melakukan aktivitas tertentu, kita bisa mengetahui karakternya secara spesifik. Tiap kepribadian punya kelebihannya masing-masing, dan tiap kelebihan pasti diiringi dengan kekurangan. Saat bermain-main dengan balok tahu besar, Seoun langsung bermain menghancurkan tahunya sementara Seojun menyentuh tahu selama beberapa saat baru bermain menghancurkan tahunya juga.
Kesimpulan yang saya ambil, Seoun ini tipe anak yang lebih dominan didorong oleh perasaan. Ia akan suka bertingkah tertentu untuk menyenangkan orang lain. Contohnya mengedipkan matanya atau melingkarkan tangannya membentuk hati. Seoun ini tipenya ekspresif, yang biasanya impulsive juga. Kekurangannya adalah bisa jadi ia terbawa perasaan saat mengalami kesulitan, ia lebih sering mengeluh. Salah satunya terlihat di episode 47, Seoun yang menyerah duluan saat menaiki tangga. Pada episode ini juga Seoun langsung menangis ketika merasa tidak nyaman. Dengan mengidentifikasi hal ini sejak kecil, kita bisa melatih Seoun agar lebih bisa mengendalikan perasaannya. Sehingga kekurangannya ini tidak terlalu menjadi masalah ketika ia dewasa.
Lain dengan Seojun, secara alami ia berpikir dulu sebelum bertindak. Saat bermain dengan tahu, ia akan berusaha untuk mengenali mainannya. Setelah merasa aman, baru ia bermain dengan bebas. Kelebihan orang seperti Seojun ini adalah umumnya lebih cerdas. Salah satu contohnya saat ia pamannya pergi dan ia ingin mengambil boneka, ia akan menyingkirkan benda-benda yang menghalanginya dulu baru bonekanya ia ambil. Alhasil tidak ada barang yang ia jatuhkan selama bermain dengan boneka.
Kekurangan yang mungkin ia miliki adalah ia tampak lebih dingin jika sudah besar nanti. Namun dengan pengajaran tata krama dari Hwijae seharusnya ini tidak terlalu menjadi masalah.
Ini pelajaran yang saya dapat dari episode ini, bagaimana dengan kamu?
Thursday, 9 October 2014
Return of Superman #44: The Neighborhood is Needed to Raise One Child (bagian 2)
Monday, 29 September 2014
Return of Superman 43: The Neighborhood is Needed to Raise One Child
Return of Superman, yang menyajikan kehidupan sehari-hari para ayah yang “dipaksa” merawat anaknya secara penuh menjadi inspirasi bagi para penonton. Para ayah jadi tahu apa yang bisa mereka lakukan ketika bersama anak-anaknya. Para ibu bukan hanya mengomel atau memendam perasaan ketika suaminya tak ikut merawat anak, namun memberi contoh, “Tuh Yah, bagus tuh yang dilakukan Ilkook/Hwijae/Sunghoon/Tablo/Hyunsung/Jungtae.” Acara ini juga bisa jadi bahan obrolan tentang gaya parenting yang akan dipakai di rumah.
- Merasa kesepian
- Merasa tak ada yang mengerti apa yang kita rasakan
- Merasa senang saat berada bersama anak-anak, namun pada saat yang bersamaan merasa sulit juga bersama mereka
Wednesday, 24 September 2014
Return of Superman 42: I Will Always Root for You
| Seoeon dan Seojun yang baru 1 tahun belajar makan sendiri |
| Ngga kotor ya ngga belajar |
| Film kartun yang dipasang pada kamera membuat anak bisa fokus |
| Daehan, Minguk, Manse akhirnya bisa fokus dengan adanya kreativitas Ilkook |
| Lantai transparan memicu rasa takut berada 150 meter di atas tanah |
| Kakek membantu Sarang mengatasi rasa takut |