-->

di balik buku

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.
Showing posts with label return of superman. Show all posts

Tuesday, 30 December 2014

Jangan Main Sendirian Dong!

2 comments :
Bermain bersama. Satu hal yang jarang saya lihat beberapa tahun lalu. Namun kini saya sangat bersyukur bisa bertemu orang-orang yang paham pentingnya bermain. Orang-orang yang memahami perkataan Einstein,

Play is the highest form of research.



Dalam Return of Superman episode 49, Hwijae membawa mainan ke taman. Di sana ada orang tua lainnya juga yang membawa anak-anaknya. Seoeon dan Seojun bermain bersama balita-balita sebayanya. Belajar berbagi mainan, belajar bermain bersama.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=wcIqqwdOvNM&w=560&h=315]
“Ketika orang tua merawat anak-anaknya, pagi  dan siang berlalu  sangat cepat. Seperti keajaiban. Melihat anak-anak berbicara dan bermain bersama. Weekend akan jadi jauh lebih menyenangkan kalau tiap keluarga (pergi ke taman) membawa satu mainan,” kata Hwijae.

Bermain bersama di taman

Mengajak anak bermain bersama dalam komunitas memang menyenangkan. Belum lagi pelajaran yang didapat pun berkali lipat. Ini yang membuat saya suka bermain bersama anak-anak dalam komunitas. Mengamati perkembangan seorang anak saja bisa membuat terharu. “Wah bisa juga saya jadi satu fragmen yang mengubah sebagian kecil hidup seseorang,” pikir saya tiap kali melihat seorang anak belajar saat saya temani. Tidak heran kalau Hwijae bilang waktu berjalan dengan cepat saat bermain bersama anak-anak.

Mungkin ini yang membuat saya semangat jadi relawan bermain bersama anak-anak. Mulai dari kegiatan mingguan Rumah Zakat saat SMA lanjut ke Polisi Lingkungan Cilik SD Pelesiran saat kuliah. Begitu pun setelah bekerja, saya ikut belajar di Sanggar Dreamdelion Cerdas hampir setahun. Dan sekarang bermain bersama anak-anak juga di Happy Play.

Terlalu sayang hidup ini kalau dilewatkan tanpa bermain. Ada yang menganggap kalau bermain itu kurang bermanfaat. Mungkin karena bermain itu dianggap hanya main-main saja. Mungkin itu yang membuat banyak orang dewasa tak mau bermain bersama anak-anak. Padahal bermain itu bisa jadi ajang untuk tumbuh bersama—berkembang bersama. Semoga ini hanya prasangka buruk saya saja.

Eko Nugroho, pakar game design yang juga volunteer Happy Play pernah berpesan, “Kita perlu belajar bermain dengan serius!” Ya, serius. Serius bukan berarti menghilangkan efek menyenangkan dalam bermain. Tapi bermain yang disertai persiapan, bermain yang disertai mengambil hikmah, bermain yang disertai saling memperhatikan perkembangan sesama.

Tentu menyenangkan kalau bisa serius bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan tetangga, dengan teman, atau rekan kerja. Atau mungkin kita tidak perlu menjangkau sejauh itu. Mungkin cukup dengan sesama anggota keluarga. Orang-orang dekat yang sering terasa jauh. Satu pertanyaan dari Eko Nugroho yang cukup reflektif, “Kapan terakhir kali duduk di meja makan untuk bermain bareng sesama anggota keluarga?”

Yuk, kita main bersama!

Monday, 1 December 2014

Return of Superman #48: Dads Are The Toughest Men in The World

No comments :
Menjadi pria paling tangguh di dunia. Itulah tema Return of Superman episode ke-48 ini. Apa yang membuat seseorang menjadi tangguh? Yuk kita coba gali sambil menonton variety show yang makin seru ini.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=A4SXMca_yik]

Menjadi Tangguh Itu Masalah Proses, Bukan Hasil

[caption id="attachment_107" align="alignleft" width="300"]usaha yang diberikan itu lebih penting dari hasil yang didapat usaha yang diberikan itu lebih penting dari hasil yang didapat[/caption]

“Kita masuk finish paling terakhir tapi gak papa. Kita melakukannya cukup baik,” kata Tablo setelah mengikuti balapan selancar di lumpur. Mulanya Tablo melaju paling depan. Tubuhnya yang ringan membuatnya bisa melaju dengan cepat. Sayang saat berbalik arah, Tablo agak kewalahan. Akhirnya ia tersusul oleh ayah-ayah lainnya.

Yang menarik adalah komentar Tablo setelah mengalami kekalahan. “Tak mengapa kalah, asalkan kita melakukan yang terbaik.” Tak perlu menyesal jika hasil yang kita dapatkan lebih buruk daripada orang lain. Yang bisa kita kendalikan sepenuhnya itu usaha kita. Usaha orang lain sama sekali tidak bisa kita kontrol. Oleh karena itu, tugas kita adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Jika kita sudah melakukan yang terbaik, tak ada yang perlu kita sesali kalau memang hasilnya tidak begitu bagus. Kita tidak perlu merasa nilai diri kita jatuh karena kalah. Begitu juga, kita tidak perlu merasa diri kita menjadi lebih berharga jika menang.

Walau memang wajar muncul perasaan kecewa jika kalah, atau merasa bangga jika menang. Namun kondisi eksternal itu tidak perlu menentukan nilai diri kita. Jika sudah melakukan yang terbaik, kita tak akan merugi sama sekali. Lalu dari mana kita tahu kalau kita sudah melakukan yang terbaik? Benak masing-masing yang bisa  menjawab. Begitu mulai mencari-cari alasan, kita akan tahu kalau sebenarnya usaha kita belum maksimal.

Dalam buku Mindset: Psychology of Success, Carol Dweck menyebutkan salah satu ciri orang ber-fixed mindset, yakni terkena somebody-nobody syndrome. Orang-orang ini merasa nilai dirinya ditentukan oleh hal-hal eksternal.

Ia khawatir akan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Seperti hasil akhir pertandingan atau pujian orang lain. “Kalau saya kalah dalam pertandingan ini, tidak ada artinya diri ini.”  “Lebih banyak orang yang menghargai karyaku daripada karyanya dia. Saya pasti lebih baik darinya.” itu yang dipikirkan orang bersindrom ini. If I win, I’ll be somebody; if I lose, I’ll be nobody.

Bahayanya, orang yang terkena sindrom ini akan merasa sangat hancur jika ia kalah. Ia akan enggan mencoba jika hasilnya tak sesuai harapannya. Begitu pula jika ia menang, ia akan merasa berbangga diri dan rentan merasa cukup. Akibatnya ia akan berhenti belajar, atau belajar tapi tidak sekeras sewaktu berjuang dulu. Hal eksternal apa pun yang terjadi padanya, baik menang ataupun kalah, orang yang terkena somebody-nobody  syndrome tidak akan pernah mengeluarkan potensi terbaiknya.

Sebaliknya, perkataan Tablo ini menunjukkan orang yang memiliki growth mindset. Hasil akhir memang tak sesuai harapan, namun ini tidak menentukan nilai dirinya. Kalah bukan berarti segalanya. Ia masih bisa latihan lalu mencoba lagi. Kalau ia menang, ia tahu kalau menambah latihan akan membuatnya lebih baik lagi. Bukan hanya dalam permainan ini, tapi dalam segala aspek kehidupan.

Mia Hamm, salah satu pemain sepak bola wanita terbaik, pernah berkata, “After every game or practice, if you walk off the field knowing that you gave everything you had, you will always be a winner.” Inilah yang membuat seseorang menjadi tangguh. Bukan hasil akhir, tapi usahanya. Proses yang ia pilih, yang ia jalani.

Kamulah yang Membuatku Bertahan Saat Menyerah Menggoda

[caption id="attachment_111" align="alignleft" width="300"]support keluarga adalah motivasi seorang ayah support keluarga adalah motivasi seorang ayah[/caption]

Agak cheesy ya subjudulnya. Namun ini yang menjelaskan perasaan Choo Sunghoon pada episode ini. Bukan hanya dia, tapi perasaan semua pria di dunia. Apa yang membuat seorang pria terus berjuang? Di balik setiap pria hebat ada wanita yang luar biasa. Istrinya Shiho, dan juga anaknya Sarang, yang menguatkannya untuk terus bertarung.

Sunghoon mau berlatih setiap hari. Pergi sebelum Sarang bangun dan pulang setelah Sarang tidur. Butuh disiplin untuk bisa melakukan itu. Namun ia tahu, jika saat pertandingan nanti ia menjadi bisa melakukan yang terbaik—menunjukkan penampilan primanya—Shiho dan Sarang akan menyambutnya dengan wajah tersenyum.

Hal ini sebenarnya yang menjadi alasan pria bekerja keras. Ia ingin menjadi seseorang yang diandalkan oleh keluarganya. Tak mengapa ia banyak berkorban, asalkan keluarganya dapat hidup sesuai harapannya. Secara naluri, pria akan menilai dirinya berdasarkan hal ini, kemampuannya memberi nafkah bagi keluarganya.

Dalam buku For Women Only, Shaunti Feldhahn menunjukkan bahwa 7 dari 10 pria selalu merasakan beban mencari nafkah ada pada pundaknya.  Semakin besar kemampuannya untuk memberi nafkah, pria akan merasa semakin tangguh. Itu yang membuat seorang pria tahan menanggung tekanan di tempat kerja. Rasa malu karena tak bisa menjadi andalan keluarga terlalu besar untuk mereka korbankan.

Hal yang menarik dari karakteristik pria ini adalah semakin besar dukungan keluarganya, terutama istri, ia akan bekerja lebih keras. Dukungan seperti apa yang pria harapkan? Tentu bermacam-macam. Namun yang utama adalah sambutan penuh senyum dan kebahagiaan dari pasangannya. Layaknya Shiho dan Sarang yang menyambut kemenangannya, setiap pria menginginkan hal yang serupa dari istrinya. Inilah yang membuat pria menjadi semakin tangguh.

Go the Distance,lagu Michael Bolton yang menjadi soundtrack film Disney Hercules menggambarkan bagaimana harapan pria ini.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=gkbUr2rMSsk]

Go the Distance


I have often dreamed, of a far off place
Where a hero's welcome, would be waiting for me
Where the crowds will cheer, when they see my face
And a voice keeps saying, this is where I'm meant to be


I'll be there someday, I can go the distance
I will find my way, if I can be strong
I know ev'ry mile, will be worth my while
When I go the distance, I'll be right where I belong


Down an unknown road, to embrace my fate
Though that road may wander, it will lead me to you
And a thousand years, would be worth the wait
It might take a lifetime, but somehow I'll see it through


And I won't look back, I can go the distance
And I'll stay on track, no, I won't accept defeat
It's an uphill slope, but I won't lose hope
Till I go the distance, and my journey is complete


But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart


Like a shooting star, I will go the distance
I will search the world, I will face its' harms
I don't care how far, I can go the distance
Till I find my hero's welcome, waiting in your arms


Ya. Setiap pria mengharapkan hero’s welcome yang hanya untuknya diberikan oleh orang yang paling ia cintai. Ini yang membuatnya terus memperbaiki diri. Untuk melihat orang yang ia kasihi menunggunya dengan senyum penuh bangga di garis finish. Tak peduli keringat yang harus ia simbahkan dalam perjalanannya.

Return of Superman 48 sang istri yang menunggu di garis finish Return of Superman 48 ini menjadi motivasi yang cukup untuk seorang pria

Ayah menjadi orang paling tangguh di dunia bukan karena prestasi atau pengakuan orang-orang di sekitar. Ayah menjadi orang paling tangguh karena ia melakukan yang terbaik. Seorang ayah akan berusaha untuk melakukan yang terbaik karena ada keluarga yang selalu mendukungnya. Istri dan anak yang tak mau ia kecewakan.

Monday, 24 November 2014

Return of Superman #47: That’s How Love Began

No comments :
Tema episode ini menarik. Bagaimana cinta dimulai. Bagi Ilkook, rasa cinta pada istrinya muncul pada pandangan pertama. Ilkook bercerita, “Wartawan gosip ngecomblangin kami. Saat pertama melihatnya (istrinya), saya merasa, ‘Wow. She’s the one.’…. Saya berpikir untuk menikahinya setelah kencan pertama…..”

“Kami bertemu tanggal 15 Agustus, saat hari kemerdekaan (Korea),” lanjut Ilkook, “Hidup saya akhirnya termerdekakan.”

Lain pula dengan pasangan Tablo-Hyejeong. Hyejeong-lah yang mula-mula suka pada Tablo. Di memori handphone-nya ia menyimpan nomor kontak Tablo dengan nama “Milikku.” Faktor apa yang membuat Hyejeong memilih Tablo? “Kayaknya saya butuh seorang teman untuk menghabiskan sisa hidup,” kata Hyejeong.

Lalu bagaimana dengan Tablo? Apa yang membuatnya memilih Hyejeong? “Rasanya wanita ini ingin membantu menggapai mimpiku. Dia membuatku merasa seperti itu,” katanya Tablo. Dua faktor penentu yang  menarik: mencari teman sepanjang usia sekaligus saling mendukung untuk mewujudkan impian.

Yang lebih menarik lagi hasil didikan pasangan ini, Haru. Saat ditanya, apa itu cinta? Haru menjawab, “Ketika ayah bilang, ‘aku suka kamu,’”

“Ketika ayah membuatku tertawa, itulah cinta,” lanjut Haru. Masih tak percaya saya kalau ini diucapkan anak 4 tahun.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=zmVISHZyTzc] Di episode berteme That’s How Love Began ini saya belajar beberapa hal lainnya juga. Ini diantaranya:

Mendaki Gunung Bersama

[caption id="attachment_103" align="aligncenter" width="730"]Hwijae membawa Seoun dan Seojun hiking Hwijae membawa Seoun dan Seojun hiking[/caption]

Soal  melatih mental anak, Hwijae jagonya. Kali ini ia mengajak Seoun dan  Seojun mendaki gunung. Membuat dua bocah kecil ini menguji kemampuan fisik, dan yang pasti mental, mereka sendiri. Seoun dan Seojun mendaki dengan cukup intens hingga akhirnya Seoun menyerah, lanjut Seojun beberapa saat kemudian.

Pemberian tantangan seperti ini memang perlu dilakukan. Mengekstrarentangkan kemampuan anak. Membuatnya menyadari batasan kemampuan diri, lalu melampauinya. Lain kali si kembar ini akan bisa menyelesaikan pendakian mereka.

Latihan Memakai Baju

Kali ini Daehan, Minguk, Manse belajar skill baru: memakai baju sendiri. Bagi orang dewasa, memakai baju terlihat sederhana. Namun menjadi tantangan yang cukup sulit bagi anak usia dua setengah tahun. Memang perlu kesabaran seperti Ilkook untuk membuat batita belajar menggunakan baju sendiri. Patut dicoba kalau membesarkan batita.

Membuat Kado Bersama untuk Ibu

Untuk ulang tahun istrinya, Ilkook menyiapkan kado bersama ketiga anaknya. Jus anggur petikan sendiri yang disertai kartu ucapan dengan cap tangan ketiga anaknya. Selebrasi yang romantis. Namun ketika Ilkook ditanya, “Kamu romantis ya?” Ia menjawab, “Ngga ah. Saya harus seperti ini supaya kehidupan rumah tangga saya lebih mudah.”

Ilkook tidak merasa hal yang ia lakukan sesuatu  yang “Wah.” Namun seperti sudah keharusannya sebagai suami. Bisa dibilang ini bentuk rasa syukurnya karena punya pasangan seperti istrinya.

Dalam buku The Surprising Secrets of Highly Happy Marriages, Shaunti Feldhahn menunjukkan hasil penelitiannya tentang hal-hal yang membedakan pasangan suami istri yang bahagia. Salah satunya adalah selalu berusaha untuk mengimbangi hal yang dilakukan pasangan.

Pasangan yang tidak bahagia akan cenderung mengungkit-ngungkit hal yang ia lakukan lalu menuntut pasangannya untuk melakukan hal yang menurutnya sepadan. “Saya kan sudah mengurus anak seharian. Kok kamu ngga berkorban buat hubungan kita sih?” Kata-kata seperti ini yang dilontarkan pasangan tak bahagia.

Namun pasangan yang bahagia cenderung mengamati hal-hal yang dilakukan pasangan, lalu berusaha untuk membalas pengorbanan pasangan tersebut, tanpa diminta. Ini dilakukan semata-mata sebagai rasa syukur karena pasangannya telah mau menikah dengannya. Seperti Ilkook, suami istri yang bahagia merasa beruntung bisa hidup bersama pasangannya.

Dari lubuk hatinya berkata, “The fact that I get to live with him/her over the course of my lifetime is one of the biggest scams I’ve pulled off.”

Mendidik Anak Pertama: “He’s the one that hold on to the end.”

Ilkook mendidik anak pertamanya, Daehan, secara berbeda. Daehan selalu diberi tanggung jawab lebih. Salah satunya Daehan selalu diminta memegang saudaranya. “Dia anak sulung,” kata Ilkook menjelaskan alasannya, “He’s the one that hold on to the end.” Seiring bertambahnya usia, beban Daehan secara sosial memang akan lebih banyak daripada Minguk dan Manse.

Hal ini mengingatkan saya akan kata-kata ibu saya. Saat bapak meninggal, ibu saya bilang, “Kita engga punya uang, tapi Kakang dan adik-adik harus sekolah sampai lulus kuliah.” Sebagai anak pertama, saya sendiri juga merasakan beban anak pertama di keluarga itu memang berbeda. Singkat cerita, syukurlah sekarang saya dan kedua adik saya sudah bisa kuliah dan adik yang terakhir sebentar lagi lulus.

Latihan mental sejak dini menjadi diperlukan. Hal yang dilakukan Ilkook ini bisa ditiru.

The Terrible Two

Saat bermain cat, Daehan ogah-ogahan. Ia tidak nyaman cat yang lengket menempel di tangannya. sampai akhirnya ia tidak sengaja menempelkan tangannya ke sofa—meninggalkan noda yang sulit dihilangkan. Ilkook marah dan melarangnya menyentuh sofa.

Namun larangan Ilkook justru membuat Daehan mengotori sofa lagi. Ilkook tambah marah, Daehan makin semangat meninggalkan jejak tangan di sofa. Tambah lagi, Minguk dan Manse ikut-ikutan mengotori sofa.

Ternyata, fenomena ini ada pada semua  anak usia dua tahun. Di Barat ada istilah Terrible Two—anak usia 2 tahun cenderung melawan kata-kata orang tuanya. Semakin orang tua menekan anak, seperti melarang, anak justru makin ingin melanggar perintah.

Mintalah anak 2 tahun untuk melakukan sesuatu, ia akan melakukan kebalikannya. Berikan satu mainan, ia akan minta dibelikan mainan lain. Coba gendong ketika ia enggan, sang anak akan meronta minta diturunkan. Turunkan ia dari pangkuan, anak akan mengamuk minta digendong.  Apa yang sebenarnya terjadi pada anak?

Menginjak usia 2 tahun, anak mulai belajar konsep diri sebagai individu. Sebelumnya ia menganggap dirinya hanya bagian dari lingkungan sosial saja—pembelajarannya dominan dari mengamati lingkungan. Selepas dua tahun, anak mulai memiliki kebutuhan akan identitas diri. Anak mulai menganggap pentingnya konsep kebebasan.

Anak usia 2 tahun ingin dianggap sebagai entitas yang independen. Ia akan mencoba berbagai hal untuk mengeksplorasi seberapa banyak hal yang boleh ia lakukan. Ketika anak 2 tahun menolak mengikuti perintah orang tuanya, kita perlu memandangnya bukan karena anak ingin memberontak. Anak sebenarnya sedang berusaha untuk mengumpulkan informasi.

Aksi melawan sang anak adalah sarananya belajar tentang batasan kebebasan yang sebenarnya bisa anak peroleh. Dengan menguji batasan perilaku (dan juga tentu menguji batasan kesabaran orang tua), anak belajar banyak tentang cara dunianya bekerja—dalam hal apakah anak bisa memegang kendali sepenuhnya, dan dalam hal apa anak harus menurut pada orang tuanya.

Bagaimana cara mengatasi terrible two  ini? Konsisten. Orang tua perlu konsisten akan aturan yang diterapkan pada anak. Dengan konsisten, anak akan belajar lebih cepat di fase ini. Hal lain yang bisa diterapkan adalah memberi anak pilihan. Ketika meminta anak untuk mandi, jangan bilang, "Nak, mandi yuk!" Kemungkinan besar dia akan menolak. Alih-alih, tanyakan, "Mau mandi 5 menit lagi atau 10 menit lagi?"

Orang tua masih perlu siap-siap untuk menghadapi masa memberontak lagi. Kelak  saat anak tumbuh remaja,  fase memberontak seperti saat anak usia 2 tahun ini akan kembali lagi. Saat remaja nanti akan bertambah lagi tantangannya karena peer pressure akan berperan juga. Tentu perlu belajar banyak  untuk mendampingi anak melewati masa ini dan ia bisa menjadi dewasa.

Membawa Anak ke Tempat Kerja

“Dia bisa bertemu banyak orang dari berbagai usia. Dan selama dia bergaul dengan mereka, kurasa dia banyak belajar secara sosial. Saya ingin terus membawanya kemana-mana,” kata Tablo ketika menjelaskan alasan sering membawa Haru ke “kantornya.”

Interaksi Haru dengan banyak orang dewasa di tempat orang tuanya bekerja ini sangat mengembangkan potensi Haru. Ia sangat terbiasa bergaul dengan berbagai macam orang.

We time. Couple time. Family time

[caption id="attachment_102" align="aligncenter" width="730"]Tablo, Hyejeong, dan Haru selalu bermain bersama Tablo, Hyejeong, dan Haru selalu bermain bersama[/caption]

“Jarang sekali ada waktu untuk kita berdua karena si kembar,” kata Jeongwon. Kabarnya, banyak pasangan suami istri yang menjadi renggang setelah punya anak. Mengurus bayi itu sangat merepotkan. Menguras banyak waktu dan tenaga. Couple time yang dulunya bisa dijadwalkan menjadi harus curi-curi waktu.

Hal yang dilakukan Jeongwon dan Hwijae menarik untuk mengatasi masalah ini. Mereka mengulang fase kejar-mengejar yang biasa mereka lakukan semasa pacaran dulu. Jeongwon meminta Hwijae menebak tempat kenangan mereka berdua. Dengan petunjuk yang terbatas, Hwijae bersama Seoun dan Seojun mencari Jeongwon.

Couple time memang harus diusahakan. Bahkan ketika percikan emosi menggebu itu hilang karena sudah terlalu terbiasa bersama. “The book of love is long and boring,” kata Peter Gabriel. Membangunnya bersama-sama  yang membuatnya menarik. Membuat we time, couple time, family time.

Pasangan yang paling jago membangun we time ini tentu saja Hyejeong dan Tablo. Keputusan Hyejeong menikahi Tablo memang sesuai harapannya. Mereka berdua benar-benar menjadi seperti teman. Sama-sama senang bermain bersama. Tentu asyik bisa bermain  terus bersama pasangan.

Keluarga, tempat cinta berasal. Tempat cinta diuji. Tempat cinta tumbuh dewasa. Ini pelajaran yang saya dapat dari episode kali ini, bagaimana dengan kamu?

Sunday, 16 November 2014

Return of Superman #46 Raising Kids Makes Life A Joy

2 comments :

Ada yang tidak saya ketahui sebelum bertemu anakku


Hal-hal yang takkan kupahami jika saya tak pernah membesarkannya


Kebahagiaan membesarkan anak-anak


Kebahagiaan yang muncul dari memperhatikannya tumbuh dan berubah tiap harinya


Tak peduli betapa pun sulitnya,


Satu perbuatan menggemaskan dari sang anak


Memberikan kekuatan yang kita butuhkan, terasa seperti keajaiban


Itulah mengapa membesarkan anak itu sangatlah berharga


Mengamatinya  tumbuh sepertiku saat menghabiskan waktu bersama


Inilah mengapa membesarkan anak itu sangat membahagiakan







Cara Mendekati Anak-Anak

Mun Dongwan, paman Seoun dan Seojun datang berkunjung lagi. Tentu saja ia berharap bisa banyak bermain dengan 2 keponakannya. Sayangnya, 2 bayi kembar ini tampak dingin. Padahal beberapa bulan sebelumnya Seoun dan Seojun sangat suka bermain dengan pamannya ini.

Tentu  saja hal ini membuat Dongwan kecewa. “Saya merasa dikhianati,” katanya. Pengalaman seperti ini pernah juga saya alami. Bermain bersama anak-anak dan bersenang-senang bersama. Lalu beberapa waktu tidak bertemu. Saat bertemu kembali sang anak menganggap saya seperti orang asing. Perasaan Dongwan ini membuat saya teringat kembali momen itu.

Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu penyebabnya apa. Entah sang anak yang sudah lupa, atau ia butuh waktu untuk bisa merasa nyaman kembali dengan kita. Namun Dongwan punya caranya tersendiri untuk membuat anak mau bermain lagi dengannya: merangsang rasa ingin tahu anak. Dongwan bermain-main menggerakkan lampu senter. Seoun langsung berpikir, “Apa itu?” dan mulai mengejar-ngejar lampu senter.  Mereka pun menjadi akrab kembali.

Tiap anak punya rasa ingin tahu yang besar. Untuk bisa akrab dengannya kita harus memicu rasa ingin tahunya itu. Pelajaran ini pertama kali  saya dapat dari Butet Manurung. Dalam buku Sokola Rimba, Butet menjelaskan tentang caranya menjadi akrab dengan anak-anak di pedalaman Jambi. Saat awal bertemu ia akan cuek dengan sang anak, untuk bisa memicu rasa penasarannya. Setelah itu ia akan memperlihatkan hal menarik pada anak. Beberapa lama kemudian mereka menjadi  akrab.

Tentu saja hal yang memicu rasa ingin tahu tiap anak itu berbeda. Seoun sangat penasaran akan cahaya  lampu senter. Sementara Seojun tidak. Hal ini yang membuat bermain dengan anak-anak menarik. Tiap anak punya rasa ingin tahu yang berbeda, mendekatinya pun perlu cara yang berbeda pula. Tidak bisa dipukul rata. Merepotkan memang. Namun setelah berhasil, kebahagiaan yang kita dapat berkali-kali lipat.

Memasak Bersama Anak

Salah satu kegiatan belajar yang bisa dilakukan anak sejak dini adalah memasak. Sarang diajak memasak membuat kimchi dan kentang bakar oleh ibu dan kakek neneknya. Aktivitas yang Sarang lakukan memang masih sederhana, memasukkan  kol ke mangkok dan juga kentang ke perapian. Namun dengan feedback positif berupa pujian akan membentuk imej dalam dirinya bahwa ia bisa memasak kalau mau berusaha.

Menonton film anak

Salah satu dilemma ketika mendidik batita adalah dalam menentukan tontonan yang baik untuk mereka. Banyak acara televisi yang belum layak untuk anak-anak tonton. Bahkan acara yang tampaknya dirancang untuk anak-anak pun bisa jadi punya pengaruh yang buruk. Walau begitu, tontonan yang tepat akan membantu pembelajaran anak.

Daehan, Minguk, dan Manse sangat menyukai Robocar Poli. Bagi Ilkook, serial kartun ini sangat membantunya dalam membesarkan ketiga anak kembarnya ini. Acara favorit yang sama membuat ketiganya lebih rukun ketika Robocar Poli diputar. Tema Robocar Poli yang berkutat pada nilai saling tolong-menolong membuat Daehan, Minguk, Manse mengembangkan permainannya sendiri. Salah satu anak akan berteriak “Tolong saya!” lalu dua anak lainnya akan bergegas menyelamatkannya. Cara unik dari film dalam membantu anak bersosialisasi dengan sesamanya.

Dengan mengetahui tontonan yang disukai anak juga bisa menjadi bahan diskusi. Dalam episode sebelumnya Ilkook dan ketiga anaknya melihat ke luar jendela lalu mengamati mobil-mobil di jalan. Tentu saja, tidak semua film anak punya efek positif seperti ini, bahkan bisa jadi acara yang sama punya efek buruk pada anak tertentu. Memilihkan konsumsi tontonan yang sesuai dengan karakter anak menjadi kunci dalam hal ini.

Mendidik Anak Laki-Laki Menjadi Tangguh

“Mereka itu laki-laki. Saya harus mendidik mereka supaya lebih tangguh,” kata Ilkook. Dalam hidup akan ada masalah-masalah yang dihadapi. Seberapa kuatnya mental seseorang akan menentukan pandangannya akan besar-kecil masalah tersebut.

Orang tua perlu merancang kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak. Ilkook melakukannya dengan mengajak anak bermain flying fox. Karena belum merasa nyaman, si tiga anak kembar menangis. Selama tidak membuat anak menjadi trauma, memang perlu memberikan kesulitan-kesulitan yang membuat anak menjadi semakin tangguh.

Mengenali Perbedaan Karakter Anak

Dengan mengamati anak saat melakukan aktivitas tertentu, kita bisa mengetahui karakternya secara spesifik. Tiap kepribadian punya kelebihannya masing-masing, dan tiap kelebihan pasti diiringi dengan kekurangan. Saat bermain-main dengan balok tahu besar, Seoun langsung bermain menghancurkan tahunya sementara Seojun menyentuh tahu selama beberapa saat baru bermain menghancurkan tahunya juga.

Kesimpulan yang saya ambil, Seoun ini tipe anak yang lebih dominan didorong oleh perasaan. Ia akan suka bertingkah tertentu untuk menyenangkan orang lain. Contohnya mengedipkan matanya atau melingkarkan tangannya membentuk hati. Seoun ini tipenya ekspresif, yang biasanya impulsive juga. Kekurangannya adalah bisa jadi ia terbawa perasaan saat mengalami kesulitan, ia lebih sering mengeluh. Salah satunya terlihat di episode 47, Seoun yang menyerah duluan saat menaiki tangga. Pada episode ini juga Seoun langsung menangis ketika merasa tidak nyaman. Dengan mengidentifikasi hal ini sejak kecil, kita bisa melatih Seoun agar lebih bisa mengendalikan perasaannya. Sehingga kekurangannya ini tidak terlalu menjadi masalah ketika ia dewasa.

Lain dengan Seojun, secara alami ia berpikir dulu sebelum bertindak. Saat bermain dengan tahu, ia akan berusaha untuk mengenali mainannya. Setelah merasa aman, baru ia bermain dengan bebas. Kelebihan orang seperti Seojun ini adalah umumnya lebih cerdas. Salah satu contohnya saat ia pamannya pergi dan ia ingin mengambil boneka, ia akan menyingkirkan benda-benda yang menghalanginya dulu baru bonekanya ia ambil. Alhasil tidak ada barang yang ia jatuhkan selama bermain dengan boneka.

Kekurangan yang mungkin ia miliki adalah ia tampak lebih dingin jika sudah besar nanti. Namun dengan pengajaran tata krama dari Hwijae seharusnya ini tidak terlalu menjadi masalah.

Ini pelajaran yang saya dapat dari episode ini, bagaimana dengan kamu?

Thursday, 9 October 2014

Return of Superman #44: The Neighborhood is Needed to Raise One Child (bagian 2)

No comments :
Return of Superman episode kali ini banyak menceritakan di balik layar talkshow 1 tahun acara ini. Banyak hal lucu dari interaksi antaranak, namun tetap ada pelajaran menarik yang saya ambil. Hal menarik pertama yang saya pelajari dari Hwijae.

Mengajarkan Kemandirian

Hwijae ini jagonya mengajarkan  kemandirian pada anak. Saat bayi baru bangun, ia butuh waktu untuk menstabilkan emosinya. Hal utama yang bisa menstabilkan emosi adalah merasa aman di dekat orang tuanya Itulah mengapa biasanya bayi menangis mencari orang tuanya saat bangun tidur.

Begitu pula pada Seoeon dan Seojun. Saat bangun mereka menangis mencari orang tuanya. Hwijae ingin mengajarkan pentingnya berusaha pada anak-anaknya.  Ia tak mau orang tua yang datang menghampiri anak, namun anak yang berusaha menenangkan diri dengan mendatangi orang tua.

Agar anak merasa tenang, Hwijae berteriak. Seoeon dan Seojun jadi tahu bahwa orang tuanya ada di dekat mereka. Mereka  pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Menurut saya, hal kecil ini merupakan langkah penting untuk mengajarkan anak yang lebih tangguh dan mandiri.

Dua hal menarik berikutnya saya dapat dari Ilkook.

Menunjukkan rasa cinta

Ilkook ini punya kebiasaan menunjukkan rasa cinta pada istrinya dengan sentuhan. Seperti di bagian ini, Ilkook menunjukkan rasa terima kasihnya dengan memijit punggung istrinya.


Yang istrinya katakan memang terdengar ketus, “Ngapain kamu mukul-mukul saya?” Namun nadanya tidak terdengar kesal. Kalau melihat salah satu riset, setiap 7 dari 10 wanita senang ketika suaminya menunjukkan affection seperti yang Ilkook lakukan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Ilkook melakukannya lewat pijitan dan juga kecupan dari belakang seperti yang ditunjukkan gambar di bawah ini.

Tidak salah memang,  hal terbaik yang bisa diberikan seorang ayah kepada  anak-anaknya memang mencintai ibunya.

Mengajarkan Anak Menangani Konflik


Minguk dan Manse bermain bersama. Interaksi fisik yang intens membuat Manse emosi. Hingga membuatnya memukul-mukul punggung Minguk. Minguk tak terima diperlakukan seperti itu. Ia kejar Manse dan memukul kepalanya.

Saat tampaknya perkelahian akan membesar dan berakhir dengan tangisan, mereka berpelukan. Lucu deh. Ini cuplikannya.






Tentu saja tidak secara otomatis anak-anak ini bisa menjadi seperti ini. Mengendalikan diri dan mengatasi konflik adalah kemampuan yang sulit untuk dimiliki. Orang dewasa saja ada yang bertahun-tahun marah-marahan, apalagi balita yang egonya masih sangat tinggi. Bagaimana anak-anak ini bisa menangani konflik?

Kalau melihat episode-episode sebelumnya, bisa kita amati bagaimana Ilkook mengajarkan mereka untuk mengatasi konflik. Mula-mula pihak yang salah akan diberi hukuman. Setelah itu keduanya diminta untuk berciuman dan berpelukan sebagai tanda saling memaafkan.

Entah berapa lama hal ini akhirnya bisa dipahami dan dipraktikkan oleh Daehan, Minguk, dan Manse  walau orang tuanya tidak sedang melihat. Namun cara ini ternyata cukup efektif dan bisa ditiru.

Bersenang-Senang Sekeluarga

Haru, Hyejeong, dan Tablo bersenang-senang bersama. Yang mereka lakukan sederhana, menari mengikuti musik bersama-sama. Memori keluarga semacam ini  akan membekas sekali dalam diri Haru. Bahwa yang namanya keluarga itu hangat.

Ini pelajaran yang saya dapat dari episode #44, pelajaran apa yang kamu dapat? Asyik ya tontonan kalau yang kita dapat bukan hiburan semata.

Monday, 29 September 2014

Return of Superman 43: The Neighborhood is Needed to Raise One Child

No comments :
Return of Superman akhirnya menginjak satu tahun. Variety  show  yang semula hanya project 3 episode kini rutin tayang setiap minggunya di Korea Selatan. Rutin juga jadi tontonan di youtube yang diupload sebulan setelah penayangan di negeri ginseng sana.

Episode 43 ini agak berbeda dari biasanya, formatnya talkshow, membicarakan dampak acara ini ke masyarakat Korea Selatan. Menjadi semacam rapor tahunan buat Return of Superman.

The neighborhood is needed to raise one child, inilah tema episode ini.  Kalimat yang mirip dengan peribahasa Afrika yang kurang lebih artinya, “It takes one village to raise a child.” Merawat anak itu bukan hanya tugas ibunya saja. Butuh partisipasi semua orang. Ini dipicu dengan orang sebenarnya dekat dengan anak namun terasa jauh dari tugas merawat anak: ayah.

Di Korea Selatan mulai lahir Golden Age of Daddy Child Care. Saat hari libur, di taman-taman mulai banyak anak yang bermain ditemani ayahnya. Hal yang masih langka di Indonesia. Bahkan kini ada komunitas Child Care Leave Movement. Para ayah ngebela-belain cuti agar bisa berinvestasi quality time dengan anaknya.

Mengapa Return of Superman ini bisa sampai booming? Faktor anak-anaknya yang lucu tentu menjadi satu faktor, tapi ada acara lain yang menayangkan hal yang sama.  Return of Superman menawarkan  muatan emosional: harapan akan sosok ayah yang diharapkan.

Walau tidak semua, banyak orang yang berharap, “Andai saja ayah saya seperti ini…” Sayangnya walau punya harapan seperti itu, tampaknya tidak mudah juga menjadi sosok yang diharapkan ketika menjadi orang tua.






Return of Superman, yang menyajikan kehidupan sehari-hari para ayah yang “dipaksa” merawat anaknya secara penuh menjadi inspirasi bagi para penonton. Para ayah jadi tahu apa yang bisa mereka lakukan ketika bersama anak-anaknya. Para ibu bukan hanya mengomel atau memendam perasaan ketika suaminya tak ikut merawat anak, namun memberi contoh, “Tuh Yah, bagus tuh yang dilakukan Ilkook/Hwijae/Sunghoon/Tablo/Hyunsung/Jungtae.” Acara ini juga bisa jadi bahan obrolan tentang gaya parenting yang akan dipakai di rumah.

Ada pernyataan menarik dari penonton Return of Superman yang merawat anaknya full time. Para ayah yang merawat anaknya juga bisa mengalami stres yang biasa dihadapi para ibu. Post natal depression. Apakah itu? Ini beberapa gejala post natal depression:
  1. Merasa kesepian
  2. Merasa tak ada yang mengerti apa yang kita rasakan
  3. Merasa senang saat berada bersama anak-anak, namun pada saat yang bersamaan merasa sulit juga bersama mereka

Mendengar hal  ini membuat saya menjadi lebih  sadar pengorbanan yang harus diberikan ibu untuk membesarkan saya. Dan setelah saya menikah nanti, semoga saya jadi lebih memahami perasaan istri saat merawat anak. Duh kok jadi melankolis begini.

Partisipasi para ayah ini menjadi pemicu, agar masyarakat ikut membesarkan anak. Bukan hanya orang tua yang diperlukan untuk mendidik anak, namun semuanya harus turut serta. Neighborhood is needed to raise one child. Seperti yang dikatakan psikolog di akhir episode 43 ini.

“(Keikutsertaan semua pihak) memberi efek positif pada anak. Ketika kita berkumpul, secara otomatis anak-anak akan menjadi pusat perhatian. Bukan hanya orang tuanya, semua orang akan menunjukkan rasa cintanya pada sang anak. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri anak. Anak-anak akan tumbuh dengan lebih baik di tengah-tengah lingkungan masyarakat.”


Ini hikmah yang saya dapat dari episode ini. Ada pelajaran lain yang kamu ambil?

Wednesday, 24 September 2014

Return of Superman 42: I Will Always Root for You

2 comments :
Menonton Return of Superman selalu memberikan ilmu baru yang mudah saya cerna. Ya, nonton Return of Superman ini seperti belajar ilmu parenting dengan cara yang menyenangkan. Seperti dalam episode 42 ini yang bertema “Aku akan selalu bergantung padamu,” ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil. Sebelum mulai membahas, yuk kita nonton tarian lucu dari 3 anak kembar, Daehan, Minguk, Manse. Silahkan dinikmati.






Poin-poin menarik di episode ini:

Ngga kotor ya ngga belajar

Hwijae ini sabar sekali mengajarkan anak untuk mandiri. Bayi kembarnya, Seoeon dan Seojun baru berusia 1 tahun, namun sudah diajarkan untuk bisa makan sendiri. “Ngga kotor ya ngga belajar,” Hwijae paham sekali kalimat ini. Seperti kata-kata yang ia ucapkan, “Kita siap-siap kotor setiap kalian makan ya.”

Seoeon dan Seojun mulai diajarkan makan sendiri sejak mereka bisa memegang benda. Berkali-kali gagal. Makanan berantakan, tumpah kemana-mana. Baju jadi kotor. Rumah terkotori ceceran makanan. Semua hal ini tidak masalah bagi Hwijae asalkan kedua anaknya bisa belajar untuk lebih mandiri.

Seoeon dan Seojun yang baru 1  tahun belajar makan sendiri

Ya. Orang tua akan menjadi lebih repot dengan mengajarkan bayi makan sendiri sedini mungkin. Namun pengalaman belajar yang anak dapat jauh lebih berharga daripada kerepotan membersihkan baju dan lantai.

Pelajaran lain dari mengajarkan anak makan sejak dini adalah menanamkan pola pikir berani gagal. Bayi makan sendiri itu sudah pasti gagal. Pasti ada yang tumpah, pasti bajunya kotor, pasti lantai kotor juga. Namun bayi jadi mengalami proses gagal. Tak apa kali ini makanan tumpah, asal kamu belajar.

Saya sendiri mengalami betapa seringnya merasa takut gagal, hingga akhirnya tidak mencoba. Padahal biasanya setelah saya evaluasi sebenarnya tak ada yang perlu saya takutkan. Keberanian untuk mencoba lagi dan lagi sampai akhirnya bisa melakukannya sendiri inilah yang Hwijae ajarkan pada anak-anaknya. Pelajaran yang sangat berharga, yang akan melekat pada kedua anaknya sampai dewasa nanti

Melatih Indera Sentuh dan Merasa

Ngga kotor ya ngga belajar

Seoeon dan Seojun dibawa ke arena bermain cat. Seru banget tempatnya. Anak-anak belajar apa yang terjadi ketika benda kering seperti tisu dicelupkan ke cat yang basah. Selain itu anak juga belajar bagaimana melempar. Tisu basah yang menempel di cermin menumbuhkan rasa ingin tahu Seojun untuk terus mencoba. Menarik sekali.

Selain itu anak-anak juga belajar tentang warna, apa yang terjadi ketika warna dicampurkan. Semua ini diajarkan dengan bermain—level tertinggi dari belajar itu ketika kita seperti sedang bermain kan yah. Anak-anak jarang yang mendapatkan privilege belajar seperti ini. Belajar dibatasi hanya pelajaran di sekolah saja, padahal perlu juga belajar melatih semua panca indera yang anak miliki. Sensor sentuh dan rasa anak perlu juga dilatih.

Kreativitas bisa membuat balita fokus

Ilkook, suami idaman banyak wanita, mendapat tantangan besar lagi di episode ini: membuat foto paspor untuk Daehan, Minguk, Manse. Ketiga anaknya ini sangat hiperaktif, sementara untuk mengambil foto ketiganya harus duduk manis. Bisa dibilang ini mission impossible.

Benar saja. Minguk menangis karena kemejanya tidak nyaman dipakai. Manse terus mengetes ayahnya dengan berusaha merobek background foto. Sementara Daehan cuek bermain, namun gagal juga saat difoto. Kalau berada di titik ini, tampaknya saya akan menyerah saja. Berteriak memarahi ketiga anaknya tentu tak akan menyelesaikan masalah, tambah runyam malah. Anak-anaknya belum mengerti.

Di sinilah Ilkook kreatif membuat anak-anaknya fokus. Ia memasang tablet di bawah kamera. Tabletnya ia putarkan video kesukaan ketiga anaknya. Alhasil, Daehan, Minguk, Manse bisa fokus diam dan foto pun bisa dibuat dengan mudah.

Film kartun yang dipasang pada kamera membuat anak bisa fokus

Daehan, Minguk, Manse akhirnya bisa fokus dengan adanya kreativitas Ilkook
Untuk bisa membuat anak mengikuti hal yang orang tua inginkan, butuh kreativitas. Jangan dimarahi karena nyali anak akan ciut dan akan takut mencoba di kemudian hari. Namun cari hal-hal yang anak sukai sehingga anak bisa menurut. Inspirasi yang bagus sekali dari Bung Ilkook.

Mengatasi ketakutan anak

Sarang dan keluarganya bermain ke Tokyo  Tower. Yay! Berada di ketinggian 150 m, rasa takut Sarang terhadap ketinggian mulai muncul. Apalagi ketika melewati lantai kaca yang transparan. Kita bisa langsung melihat dasar tanah. Ngerinya berada 150 meter di atas permukaan tanah langsung Sarang rasakan. Di sinilah terlihat bagaimana cerdasnya sang kakek mengajarkan bahwa rasa takut terhadap ketinggian itu bisa dikelola.

Lantai transparan memicu rasa takut berada 150 meter di atas tanah

Mulanya Sarang diminta untuk berjalan di atas lantai kaca yang transparan. Hasilnya Sarang ketakutan dan tak mau mencoba. Lalu Sarang diminta berjalan sambil dituntun. Hasilnya ketakutan juga dan gagal mencoba.

Setelah itu sang kakek meminta nenek menyanyikan lagu kesukaan Sarang, tentang bagaimana kelinci melompat. Tentu sambil melompat di atas lantai kaca. Kakek memangku Sarang sambil melompat-lompat di atas lantai kaca transparan sambil diiringi lagu kelinci.

Kakek membantu Sarang mengatasi rasa takut

Berhasil, bahkan Sarang meminta lagi. Akhirnya Sarang berani berdiri di atas lantai kaca, mengalahkan rasa takutnya. Sarang belajar tentang mengatasi rasa takut. Dan saya belajar bagaimana membimbing orang untuk mengatasi rasa takut.

Mendukung Hal yang Diinginkan Anak

Haru, anak yang sangat jenius. Bakat menyanyi rap dan mengaransemen lagu sudah terlihat sejak kecil. Selain itu kesukaannya terhadap ikan dan laut sudah bisa ia ungkapkan dengan baik. Hal yang sangat langka. Orang dewasa saja belum tentu punya.

Di episode ini terlihat bagaimana Tablo dan Hyejeong bisa mendukung Haru. Keduanya merasa takut dan khawatir bahwa mereka tak bisa mendukung bakat dan minat anaknya. Namun justru ini yang membuat orang tua Haru ini berusaha sekeras mungkin agar potensi anaknya terfasilitasi. Anak yang jenius bertemu dengan orang tua yang bisa memfasilitasi, jadilah Lee Haru.

Mengajarkan sopan santun pada anak

Selama ini saya merasa lingkungan di tempat saya tinggal terlalu mementingkan prestasi belajar di sekolah dibandingkan manner. Sementara itu Hwijae menyadari pentingnya mengajarkan sopan santun sejak dini. Kalau di episode sebelumnya terlihat bagaimana Sarang diajarkan cara menyapa, kini Seoeon dan Seojun diajarkan cara menyapa orang lain. Orang tua perlu menekankan bahwa sopan santun itu penting juga.


Ini ilmu yang saya dapat dari Return of Superman episode ini, adakah hal-hal lain yang menurutmu menarik di episode ini? Feel free untuk komentar dan diskusi bareng-bareng.




Wednesday, 20 August 2014

Return of Superman: Belajar Menjadi Keluarga

No comments :
Tahun ini di Korea Selatan ada variety show yang sangat keren, namanya Return of Superman. Reality show ini menunjukkan bagaimana interaksi antara seorang ayah dengan anaknya. Reality show ini unik, berawal dari masalah Korea Selatan dan dirancang untuk mengatasi permasalahan di sana. Mengapa?

Etos kerja keras masyarakatnya membuat Korea Selatan telah tumbuh menjadi negara maju. Dari negara kedua termiskin di dunia menjadi salah satu anggota G-20. Kemajuan yang luar biasa. Sayang, di baliknya ada efek samping yang berbahaya. Kerenggangan antaranggota keluarga dan keengganan membangun keluarga.

Saking sibuknya orang tua bekerja, membuat orang tua tak sempat bermain bersama anaknya. Tak ada quality time yang terbentuk. Jika ini berlanjut, anak-anak yang tumbuh tanpa asuhan orang tua ini akan membuat Korea Selatan rapuh sebagai bangsa. Fondasi utamanya—keluarga—keropos. Dengan jarangnya orang tua yang bermain bersama anak, lama-kelamaan orang Korea akan lupa hangatnya keluarga. Terbiasa dengan interaksi yang renggang.

Masalah yang kedua adalah keengganan membangun keluarga. Ini penyakit yang dialami banyak negara maju, anak mudanya enggan menikah. Keenganan menikah membuat populasi penduduk menurun.

Generasi tua sedikit demi sedikit wafat sementara anak mudanya tidak bereproduksi. Walau memang punya anak itu tidak ada hubungannya dengan menikah, tapi institusi sakral bernama pernikahan yang membuat pertumbuhan penduduk sehat. Padahal besarnya jumlah penduduklah yang memicu kemajuan suatu bangsa.

Di tetangganya, Jepang, penurunan populasi sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Anak mudanya enggan menikah, merepotkan katanya. Kini pertumbuhan penduduk Jepang mulai minus. Jika ini berlanjut, puluhan hingga ratusan kota di Jepang akan tidak berpenghuni. Jepang akhirnya akan kekurangan SDM unggulnya.

Korea Selatan tampaknya akan menghadapi masalah yang sama. Kini pemudanya mulai menunda menikah. Banyak wanita yang baru menikah pada usia 30-an. Salah satu penyebab terbesarnya bisa jadi karena anggapan membentuk keluarga itu merepotkan.

Return of Superman menyelesaikan masalah ini dengan menyorot kehidupan ayah dan anak. Para ayah—yang mereka sebut Superman—diberi tugas mengasuh anaknya selama 48 jam, tanpa campur tangan ibunya. Ya, istri para Superman ini dibebastugaskan dari mengasuh anak selama 2 hari penuh. Dinamika para Superman bersama anak-anaknya ini menarik untuk diamati. Buat saya, tontonan seperti Superman ini memberikan banyak pelajaran.

Para Superman ini latar belakangnya artis. Namun sebagai ayah, mereka seperti ayah-ayah kebanyakan. Mayoritas pria tidak dilatih untuk menjadi ayah. Ayah amatir, dengan anak-anaknya sebagai “kelinci percobaan.” Justru ini daya tariknya.

Return of Superman menonjolkan kehidupan seorang ayah bersama anaknya. Para Superman ini banyak tidak tahu tentang bagaimana menjadi ayah. Hal ini menghilangkan ketakutan para pria yang enggan berkeluarga. Pria merasa, “Oh, dia yang sudah menjadi ayah juga banyak kurangnya. Saya juga harusnya bisa.”

Walau begitu, para Superman ini juga tak bisa diremehkan. Mereka punya kelebihan-kelebihan yang diterapkan dalam mengasuh anak-anaknya. Ini menjadi inspirasi bagi penonton—seperti saya yang mendapat banyak sekali pencerahan—tentang bagaimana mengasuh anak seharusnya. Penonton bisa meniru hal-hal baik yang Superman lakukan.

Pengambilan julukan Superman kepada para ayah yang menghabiskan waktu bersama anaknya juga pemilihan yang jenius. Peran ayah kini sering dikerdilkan menjadi hanya mencari nafkah. Ayah yang mengasuh anaknya menjadi tampak seperti kurang kerjaan. Dengan adanya julukan Superman ini, para ayah menjadi disadarkan kembali akan tugasnya sebagai kepala keluarga. Pemberian julukan Superman juga menjadi istilah tersendiri, yakni para ayah yang aktif mendidik anaknya.

Dengan kembalinya peran ayah yang menyeluruh ini, keluarga juga menjadi lebih harmonis. Para wanita sangat senang jika pasangannya turut mengambil peran mengasuh anak. Tingkat kebahagiaan wanita meningkat dengan kembalinya para Superman ini. Para Superman ini juga jadi lebih bahagia karena istrinya tampak bahagia. Anak-anak juga senang karena orang tuanya bahagia. Efeknya mendomino.

Sebagai penutup, berikut ini foto para Superman dan anak-anaknya yang sangat menginspirasi.

Hyun Sung bersama Junu dan Junseo


Hyunseong ini ayah yang sangat canggung, namun kemampuannya berdiskusi dengan anak-anaknya sangat menginspirasi. Obrolan malam bersama Junu dan Junseo sangat berkualitas. Tak heran kedua anak laki-laki ini punya kemampuan mengutarakan pendapat yang sangat bagus. Sayang Superman yang satu ini sudah tidak tampil lagi.

Sung Hoon bersama Sarang


Sung Hoon, pejudo yang sangat memanjakan anaknya, Sarang. Perkembangan Sung Hoon dari yang segala membolehkan menjadi menerapkan disiplin ini bisa menjadi role model. Kalau melihat anaknya, Sarang ini anak cerdas yang tahu apa yang dia mau.

Hwijae bersama Seoeon dan Seojun


Membesarkan anak kembar itu pekerjaan  yang sangat sulit. Itu impresi yang saya dapat ketika melihat Hwijae mengasuh Seoeon dan Seojun. Namun melihat rasa puas yang didapat Hwijae, pengorbanan itu sangat setimpal.

Tablo bersama Haru


Tablo, ayah satu lagi yang memanjakan anaknya, Haru. Haru ini gadis manis yang sangat suka binatang. Haru punya bakat yang sangat besar dalam komposisi music.

Jung Tae bersama Yakkung


Yakkung, anak yang sangat suka menari. Saya belajar banyak dari Jung Tae tentang unconditional love. Yakkung ini termasuk lambat dalam berbicara, namun Jung Tae tetap percaya pada anaknya. Rasa percaya ini terbayar karena Yakkung menyimpan bakat terpendam. Begitu bisa berbicara, Yakkung bisa berbahasa Inggris dan hapal alfabet, padahal usianya baru 3 tahun. Sayang Jung Tae dan Yakkung harus berhenti karena ada masalah dengan politisi.

Ilkook bersama Daehan, Minguk, Manse


Ilkook ini bisa dibilang Hyper-Superman. Membesarkan tiga anak kembar sendirian. Satu kata: wow! Nama tiga anak ini agak konyol. Jika nama Daehan dan Minguk digabung artinya Republik Korea. Sementara Manse maknanya hore. Daehan Minguk Manse maknanya Long Live Republic of Korea.

Gyeongwan & Yunjeong bersama KkomKkom


Pasangan ini menarik, karena mulai shooting saat anaknya masih dalam kandungan. Menarik melihat dinamika pasangan orang tua baru.