-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Monday, 1 December 2014

Return of Superman #48: Dads Are The Toughest Men in The World

No comments :
Menjadi pria paling tangguh di dunia. Itulah tema Return of Superman episode ke-48 ini. Apa yang membuat seseorang menjadi tangguh? Yuk kita coba gali sambil menonton variety show yang makin seru ini.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=A4SXMca_yik]

Menjadi Tangguh Itu Masalah Proses, Bukan Hasil

[caption id="attachment_107" align="alignleft" width="300"]usaha yang diberikan itu lebih penting dari hasil yang didapat usaha yang diberikan itu lebih penting dari hasil yang didapat[/caption]

“Kita masuk finish paling terakhir tapi gak papa. Kita melakukannya cukup baik,” kata Tablo setelah mengikuti balapan selancar di lumpur. Mulanya Tablo melaju paling depan. Tubuhnya yang ringan membuatnya bisa melaju dengan cepat. Sayang saat berbalik arah, Tablo agak kewalahan. Akhirnya ia tersusul oleh ayah-ayah lainnya.

Yang menarik adalah komentar Tablo setelah mengalami kekalahan. “Tak mengapa kalah, asalkan kita melakukan yang terbaik.” Tak perlu menyesal jika hasil yang kita dapatkan lebih buruk daripada orang lain. Yang bisa kita kendalikan sepenuhnya itu usaha kita. Usaha orang lain sama sekali tidak bisa kita kontrol. Oleh karena itu, tugas kita adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Jika kita sudah melakukan yang terbaik, tak ada yang perlu kita sesali kalau memang hasilnya tidak begitu bagus. Kita tidak perlu merasa nilai diri kita jatuh karena kalah. Begitu juga, kita tidak perlu merasa diri kita menjadi lebih berharga jika menang.

Walau memang wajar muncul perasaan kecewa jika kalah, atau merasa bangga jika menang. Namun kondisi eksternal itu tidak perlu menentukan nilai diri kita. Jika sudah melakukan yang terbaik, kita tak akan merugi sama sekali. Lalu dari mana kita tahu kalau kita sudah melakukan yang terbaik? Benak masing-masing yang bisa  menjawab. Begitu mulai mencari-cari alasan, kita akan tahu kalau sebenarnya usaha kita belum maksimal.

Dalam buku Mindset: Psychology of Success, Carol Dweck menyebutkan salah satu ciri orang ber-fixed mindset, yakni terkena somebody-nobody syndrome. Orang-orang ini merasa nilai dirinya ditentukan oleh hal-hal eksternal.

Ia khawatir akan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Seperti hasil akhir pertandingan atau pujian orang lain. “Kalau saya kalah dalam pertandingan ini, tidak ada artinya diri ini.”  “Lebih banyak orang yang menghargai karyaku daripada karyanya dia. Saya pasti lebih baik darinya.” itu yang dipikirkan orang bersindrom ini. If I win, I’ll be somebody; if I lose, I’ll be nobody.

Bahayanya, orang yang terkena sindrom ini akan merasa sangat hancur jika ia kalah. Ia akan enggan mencoba jika hasilnya tak sesuai harapannya. Begitu pula jika ia menang, ia akan merasa berbangga diri dan rentan merasa cukup. Akibatnya ia akan berhenti belajar, atau belajar tapi tidak sekeras sewaktu berjuang dulu. Hal eksternal apa pun yang terjadi padanya, baik menang ataupun kalah, orang yang terkena somebody-nobody  syndrome tidak akan pernah mengeluarkan potensi terbaiknya.

Sebaliknya, perkataan Tablo ini menunjukkan orang yang memiliki growth mindset. Hasil akhir memang tak sesuai harapan, namun ini tidak menentukan nilai dirinya. Kalah bukan berarti segalanya. Ia masih bisa latihan lalu mencoba lagi. Kalau ia menang, ia tahu kalau menambah latihan akan membuatnya lebih baik lagi. Bukan hanya dalam permainan ini, tapi dalam segala aspek kehidupan.

Mia Hamm, salah satu pemain sepak bola wanita terbaik, pernah berkata, “After every game or practice, if you walk off the field knowing that you gave everything you had, you will always be a winner.” Inilah yang membuat seseorang menjadi tangguh. Bukan hasil akhir, tapi usahanya. Proses yang ia pilih, yang ia jalani.

Kamulah yang Membuatku Bertahan Saat Menyerah Menggoda

[caption id="attachment_111" align="alignleft" width="300"]support keluarga adalah motivasi seorang ayah support keluarga adalah motivasi seorang ayah[/caption]

Agak cheesy ya subjudulnya. Namun ini yang menjelaskan perasaan Choo Sunghoon pada episode ini. Bukan hanya dia, tapi perasaan semua pria di dunia. Apa yang membuat seorang pria terus berjuang? Di balik setiap pria hebat ada wanita yang luar biasa. Istrinya Shiho, dan juga anaknya Sarang, yang menguatkannya untuk terus bertarung.

Sunghoon mau berlatih setiap hari. Pergi sebelum Sarang bangun dan pulang setelah Sarang tidur. Butuh disiplin untuk bisa melakukan itu. Namun ia tahu, jika saat pertandingan nanti ia menjadi bisa melakukan yang terbaik—menunjukkan penampilan primanya—Shiho dan Sarang akan menyambutnya dengan wajah tersenyum.

Hal ini sebenarnya yang menjadi alasan pria bekerja keras. Ia ingin menjadi seseorang yang diandalkan oleh keluarganya. Tak mengapa ia banyak berkorban, asalkan keluarganya dapat hidup sesuai harapannya. Secara naluri, pria akan menilai dirinya berdasarkan hal ini, kemampuannya memberi nafkah bagi keluarganya.

Dalam buku For Women Only, Shaunti Feldhahn menunjukkan bahwa 7 dari 10 pria selalu merasakan beban mencari nafkah ada pada pundaknya.  Semakin besar kemampuannya untuk memberi nafkah, pria akan merasa semakin tangguh. Itu yang membuat seorang pria tahan menanggung tekanan di tempat kerja. Rasa malu karena tak bisa menjadi andalan keluarga terlalu besar untuk mereka korbankan.

Hal yang menarik dari karakteristik pria ini adalah semakin besar dukungan keluarganya, terutama istri, ia akan bekerja lebih keras. Dukungan seperti apa yang pria harapkan? Tentu bermacam-macam. Namun yang utama adalah sambutan penuh senyum dan kebahagiaan dari pasangannya. Layaknya Shiho dan Sarang yang menyambut kemenangannya, setiap pria menginginkan hal yang serupa dari istrinya. Inilah yang membuat pria menjadi semakin tangguh.

Go the Distance,lagu Michael Bolton yang menjadi soundtrack film Disney Hercules menggambarkan bagaimana harapan pria ini.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=gkbUr2rMSsk]

Go the Distance


I have often dreamed, of a far off place
Where a hero's welcome, would be waiting for me
Where the crowds will cheer, when they see my face
And a voice keeps saying, this is where I'm meant to be


I'll be there someday, I can go the distance
I will find my way, if I can be strong
I know ev'ry mile, will be worth my while
When I go the distance, I'll be right where I belong


Down an unknown road, to embrace my fate
Though that road may wander, it will lead me to you
And a thousand years, would be worth the wait
It might take a lifetime, but somehow I'll see it through


And I won't look back, I can go the distance
And I'll stay on track, no, I won't accept defeat
It's an uphill slope, but I won't lose hope
Till I go the distance, and my journey is complete


But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart


Like a shooting star, I will go the distance
I will search the world, I will face its' harms
I don't care how far, I can go the distance
Till I find my hero's welcome, waiting in your arms


Ya. Setiap pria mengharapkan hero’s welcome yang hanya untuknya diberikan oleh orang yang paling ia cintai. Ini yang membuatnya terus memperbaiki diri. Untuk melihat orang yang ia kasihi menunggunya dengan senyum penuh bangga di garis finish. Tak peduli keringat yang harus ia simbahkan dalam perjalanannya.

Return of Superman 48 sang istri yang menunggu di garis finish Return of Superman 48 ini menjadi motivasi yang cukup untuk seorang pria

Ayah menjadi orang paling tangguh di dunia bukan karena prestasi atau pengakuan orang-orang di sekitar. Ayah menjadi orang paling tangguh karena ia melakukan yang terbaik. Seorang ayah akan berusaha untuk melakukan yang terbaik karena ada keluarga yang selalu mendukungnya. Istri dan anak yang tak mau ia kecewakan.

No comments :

Post a Comment