Saturday, 14 February 2015
Double Standard
Double standard. Hal yang mudah ditebak kalau ada muslim jadi korban dan pelakunya kulit putih. Kalau kata Chomsky sih memang media punya sistem untuk membuat isi berita sesuai keinginan pemodalnya.Kalaupun kita protes tampaknya media barat juga ga bakalan ngubah arah pemberitaannya. Yang menarik perhatian gue, kenapa media melakukan pemilihan kata seperti ini?
Saat pelakunya orang Islam digunakan kata teroris sementara saat pelakunya berkulit putih digunakan “a man” “a crazy man” dan sejenisnya.
Ada penelitian menarik yang dilakukan Robert Cialdini & Avril Thorne di Arizona State University. Ia menelepon mahasiswa-mahasiswanya dan menanyakan hasil pertandingan tim football sebelumnya.
Uniknya pilihan kata yang mahasiswanya gunakan ternyata bergantung sekali pada hasil pertandingan saat itu. Kalau timnya menang, mereka bilang, “Kita menang,” “Kita mengalahkan Houston 17-14.”
Sementara kalau timnya kalah kata-kata yang terucap jadi, “Mereka kalah sekarang, 30-20.” “Saya kurang hapal skornya, tapi Arizona sekarang kalah.” “Si anu membuat kita kehilangan kesempatan untuk menang liga.”
Kata kita atau kami atau kata ganti orang pertama lebih jarang digunakan saat timnya kalah. Sementara saat timnya menang, kata ganti orang pertama lebih sering digunakan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ada kecenderungan diri kita sebagai manusia untuk mengasosiasikan diri dengan sesuatu yang lebih hebat, terutama yang ada kaitannya dengan diri kita. Sebaliknya, ada kecenderungan untuk melepaskan diri dari hal buruk, walaupun sebenarnya ada kaitannya dengan kita, seperti tim olahraga favorit.
Saat diteliti lebih lanjut, kecenderungan ini lebih kuat dialami oleh mahasiswa-mahasiswa yang merasa rendah diri. Ada yang prestasi belajarnya kurang bagus, kurang bisa bergaul, punya masalah berat di rumah.
Rasa rendah diri membuat orang-orang ini membuat kebutuhan mengasosiasikan diri jadi lebih besar. Mereka butuh afirmasi sosial untuk menutupi rasa rendah diri yang mereka alami.
Permasalahannya, saat pemilihan kata semacam ini dilakukan oleh media barat, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dalam hal kekuatan ekonomi, politik, dan kemajuan teknologi, barat lebih unggul daripada umat Islam. Hal apa yang sebenarnya ingin mereka tutupi?
Hanya mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.
Melihat kecenderungan mengasosiasikan diri yang cukup kuat ini membuat saya berpikir, apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini?
Sebagai orang yang sering minder, bisa jadi dobel standar ini sering gue lakukan juga. Melihat bagaimana dobel standar yang dilakukan media barat berhasil menyakiti perasaan banyak orang, gue gak mau dong ngelakuin hal yang sama.
Langkah pertama dan paling penting adalah menyadari kelemahan ini. Seberapa besarkah kebutuhan gue untuk mengasosiasikan diri dengan hal positif? Seberapa kuat gue ingin melepaskan diri saat asosiasi itu jadi negatif? Pertanyaan itu yang perlu dijawab.
Dengan menyadari hal ini, kita bisa memiliki satu hal yang sangat berharga: berdamai dengan diri sendiri. Bukankah ketenangan hati itu mahal nilainya?
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment