Tuesday, 30 December 2014
Jangan Main Sendirian Dong!
Bermain bersama. Satu hal yang jarang saya lihat beberapa tahun lalu. Namun kini saya sangat bersyukur bisa bertemu orang-orang yang paham pentingnya bermain. Orang-orang yang memahami perkataan Einstein,Play is the highest form of research.
Dalam Return of Superman episode 49, Hwijae membawa mainan ke taman. Di sana ada orang tua lainnya juga yang membawa anak-anaknya. Seoeon dan Seojun bermain bersama balita-balita sebayanya. Belajar berbagi mainan, belajar bermain bersama.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=wcIqqwdOvNM&w=560&h=315]
“Ketika orang tua merawat anak-anaknya, pagi dan siang berlalu sangat cepat. Seperti keajaiban. Melihat anak-anak berbicara dan bermain bersama. Weekend akan jadi jauh lebih menyenangkan kalau tiap keluarga (pergi ke taman) membawa satu mainan,” kata Hwijae.

Mengajak anak bermain bersama dalam komunitas memang menyenangkan. Belum lagi pelajaran yang didapat pun berkali lipat. Ini yang membuat saya suka bermain bersama anak-anak dalam komunitas. Mengamati perkembangan seorang anak saja bisa membuat terharu. “Wah bisa juga saya jadi satu fragmen yang mengubah sebagian kecil hidup seseorang,” pikir saya tiap kali melihat seorang anak belajar saat saya temani. Tidak heran kalau Hwijae bilang waktu berjalan dengan cepat saat bermain bersama anak-anak.
Mungkin ini yang membuat saya semangat jadi relawan bermain bersama anak-anak. Mulai dari kegiatan mingguan Rumah Zakat saat SMA lanjut ke Polisi Lingkungan Cilik SD Pelesiran saat kuliah. Begitu pun setelah bekerja, saya ikut belajar di Sanggar Dreamdelion Cerdas hampir setahun. Dan sekarang bermain bersama anak-anak juga di Happy Play.
Terlalu sayang hidup ini kalau dilewatkan tanpa bermain. Ada yang menganggap kalau bermain itu kurang bermanfaat. Mungkin karena bermain itu dianggap hanya main-main saja. Mungkin itu yang membuat banyak orang dewasa tak mau bermain bersama anak-anak. Padahal bermain itu bisa jadi ajang untuk tumbuh bersama—berkembang bersama. Semoga ini hanya prasangka buruk saya saja.
Eko Nugroho, pakar game design yang juga volunteer Happy Play pernah berpesan, “Kita perlu belajar bermain dengan serius!” Ya, serius. Serius bukan berarti menghilangkan efek menyenangkan dalam bermain. Tapi bermain yang disertai persiapan, bermain yang disertai mengambil hikmah, bermain yang disertai saling memperhatikan perkembangan sesama.
Tentu menyenangkan kalau bisa serius bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan tetangga, dengan teman, atau rekan kerja. Atau mungkin kita tidak perlu menjangkau sejauh itu. Mungkin cukup dengan sesama anggota keluarga. Orang-orang dekat yang sering terasa jauh. Satu pertanyaan dari Eko Nugroho yang cukup reflektif, “Kapan terakhir kali duduk di meja makan untuk bermain bareng sesama anggota keluarga?”
Yuk, kita main bersama!
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
anak-anak seneng banget waktu kami ajak main cublak-cublak suweng, permainan tradisional jawa, gelak tawa, bermain fair play, jadi sarana pengikat kebersamaan kami :) thanks for sharing ya :)
ReplyDeleteMy pleasure Kak Nur. Iya generasi sekarang yang udah banyak terpapar gadget pun sebenarnya lebih suka main tradisional. Sayangnya effortnya memang besar banget karena makin jarang teman mainnya. Makasih banyak juga Kak Nur sudah sharing pengalaman bermain bareng anak-anak.
ReplyDelete