Thursday, 9 April 2015
Jurnal Mentor #6: Menggali Passion
Kata passion alias renjana itu overused. Ya. Memang. Tapi passion itu rezeki yang Allah anugerahkan untuk manusia, jadi tak ada salahnya kalau kita gali. Toh kalau dapat bakal mempermudah langkah dakwah ke depannya.
Di pertemuan mentoring 9 April 2015 ini kelompok binaan berdiskusi tentang apa itu passion. Dalam Al Baqarah ayat 30, Allah menciptakan manusia untuk jadi khalifah di dunia ini.
Allah punya sifat Maha Pengasih dan Mahabijaksana. Jika Allah memberi tugas pada makhluknya, Allah pasti memberikan sarana untuk mengerjakan tugas itu. Ada potensi, bakat, dan rasa suka juga rindu terhadap tugasnya. Sehingga beratnya tugas bisa terasa lebih ringan.
Sekarang ini jumlah manusia hampir sudah 7 milyar lebih. Apa artinya ini? Allah menciptakan khalifah tapi ada banyak. Dalam Al Hujuraat ayat 11 dijelaskan kalau kita diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal. Salah satu perbedaan ini dalam hal talenta dan passion.
Kita bukan Nabi Zulkarnain, yang multitalenta. Zulkarnain a.s. ahli logam, beliau bisa menempa peralatan perang tercanggih di zamannya. Beliau juga ahli bahasa, pernah beliau datang ke satu kota yang bahasanya belum ia kenal. Dalam waktu kurang dari 1 jam beliau bisa berbicara bahasa tersebut.
Bukan. Kita bukan Zulkarnain. Talenta dan passion kita lebih terbatas. Dan juga berbeda-beda. Agar kita saling mengenal. Saling bekerja sama. Saling membutuhkan. Juga agar kita menyadari kalau kita itu lemah dan membutuhkan yang Mahakuat.
Namun yang perlu digarisbawahi. Passion itu rezeki. Given. Karena itu, mencari passion harus seperti mencari rezeki lainnya. Berjalan perlahan. Jangan diburu-buru. Dan kalaupun sudah menemukan passion tapi belum bisa mencari nafkah dari passion itu, selo dan bersabar saja. Perlahan-lahan.
Rezeki lainnya kan seperti harta, anak, jodoh, umur. Orang miskin bisa masuk surga. Ada yanh tidak punya anak, tapi bisa masuk surga juga. Bahkan ada yang masih jomblo dan sudah Allah jamin masuk surga.
Begitu pula, kalau ternyata susah ketemu passion. Tidak usah galau, gundah, resah, gulana, risau, sedih. Passion itu alat, bukan tujuan. Saat mati belum ketemu passion pun, Allah Maha Penyayang, semoga Allah tetap Mudahkan kita masuk surganya. Tujuan hidup kan itu ya.
Passion itu mempermudah hidup kita. Karena akan lebih mudah jika kita dalam bekerja dalam hal yang untuk itu kita diciptakan. Meminjam lirik lagu The Power of A Dreamnya Celine Dion. "There is nothing ordinary in the living of each day. There's a special part everyone of us will play." Tiap satu orang yang menemukan passion dan talentanya, beban dakwah umat secara keseluruhan akan jadi lebih ringan.
Untuk membantu binaan mencari passionnya, saya ajak menonton video Marcus Buckingham, "The Truth About You." Berikut ini trailer video itu.
Ada 3 mitos tentang passion yang disalahpahami banyak orang yang Buckingham bahas. Mentoring kali ini lebih membahas mitos pertama.
Mitosnya adalah semakin tua kita, kepribadian kita akan berubah. Kenyataannya sebaliknya. Buckingham berpendapat kalau dalam diri kita sudah ada kecenderungan internal yang tidak bisa diubah.
Orang yang kompetitif seperti Michael Jordan sudah kompetitif sejak kecil. Dan akan tetap kompetitif sampai tua. Orang yang penengah seperti Gandhi akan frustrasi kalau memaksakan diri dalam lingkungan penuh persaingan. "If you judge a fish by its ability to fly, it will see itself as a fool for the rest of its life," kurang lebih begitu kata Einstein.
Ada salah paham tentang kekuatan dan kelemahan yang dibahas Buckingham. Umumnya orang menganggap kekuatan itu hal yang bisa kita lakukan, kelemahan itu hal yang tidak bisa kita lakukan.
Buckingham menyodorkan alternatif. Ada hal-hal yang bisa kita lakukan namun kita tidak sukai. Saat mengerjakannya kita merasa tersiksa, dan saat selesai kita merasa, "Ah akhirnya selesai juga." Kita tidak menunggu-nunggu, "Kapan ya bisa ngerjain itu lagi? Ga sabar nih."
Alternatif dari Buckingham: kekuatan itu yang membuat kita jadi lebih bersemangat sebelum, saat, dan setelah mengerjakannya. Mengerjakannya bisa jadi sulit. Namun ada fitrah dalam diri yang membuat kita mau lakukan lagi dan lagi.
Kebalikannya. Kelemahan itu yang membuat kita merasa lemah. Bisa jadi kita sangat jago dalam hal itu. Bahkan bisa jadi kita digaji untuk mengerjakannya. Tapi itu tetap jadi kelemahan kalau memperlemah internal diri kita.
Masalah berikutnya setelah tahu arti kekuatan dan kelemahan, bagaimana cara mencarinya?
Ada beberapa metode. Bahkan sekarang ada psikotes Talent Mapping yang hasilnya lumayan akurat (tes ini saya ambil saat akan lulus kuliah untuk tahu pekerjaan apa yang sebaiknya saya ambil, dan sampai sekarang hasilnya masih jadi rujukan saya untuk mengevaluasi karier).
Ada juga alternatif yang diberi Buckingham. Yang ini gratis. Cukup sediakan buku catatan dan pulpen.
Caranya: tiap kali mengerjakan sesuatu dan merasa bersemangat. Catat. Harus langsung catat. Jangan tunda sampai malam hari, saat coba mengingat-ingat.
Jangan remehkan jenis pekerjaan yang membuat kita bersemangat. Jangan klasifikasikan. Cukup catat. "Mengepel lantai," "membersihkan rumah," "menulis blog," "membaca buku," "mengasuh bayi."
Jangan juga catat hal-hal yang kita terima. Seperti saat dipuji, saat dapat nilai bagus. Yang saat kita pasif seperti ini tidak dihitung.
Pertemuan mentoring berikutnya akan kita bahas tentang menganalisis hasil pencatatan ini. See you next week.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment