-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Sunday, 26 April 2015

Jurnal Mentor #8: Nonton Bareng Guru Bangsa Tjokroaminoto

No comments :

Orang yang menjadi guru para pejuang kemerdekaan Indonesia
"Karena kalau orang Jawa dan Tionghoa bersatu, akan subur tanah ini," kata Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahadian dalam film Guru Bangsa, menanggapi pertanyaan mengapa orang Jawa dan Tionghoa selalu diadu domba.

Mentoring kali ini diisi nonton lanjut diskusi film sejarah. Mengapa film Tjokroaminoto? Karena tokoh ini bisa dibilang pembaharu alias mujaddid di Indonesia abad ke-20.

Dari asuhannya lahir tokoh-tokoh yang mewarnai kancah perpolitikan Indonesia. Hanya saja di film ini kurang beberapa tokoh yang tidak ditampilkan, seperti Tan Malaka dan Kartosoewirjo.

Seperti kutipan kata-kata Pak Tjokro di atas, film ini mengajarkan banyak sekali  kebijaksanaan dan pengetahuan yang bisa mendewasakan bangsa ini dalam berpolitik dan berkarya. Mendengar kata-kata Stella yang diperankan Chelsea Islan dijamin membuat penonton tidak anti politik. "Politik itu membuat hukum. Hukum itu tentang kita," katanya.

Pemikiran menjadi air yang mengalir untuk rakyat

Pak Tjokro mengerti betul perkataan Imam Syafii tentang hakikat air. Air yang tergenang akan menjadi keruh, sementara air yang mengalir akan lebih terjaga kejernihannya.

Rumah Peneleh harus terus mengalir, katanya menanggapi murid terhebatnya Semaoen yang merapat ke Sneevliet untuk membincangkan politik "di cafe-cafe ditemani kopi dan anggur."

Pemberontakan yang dilancarkan Semaoen dan Sneevliet juga menarik untuk dibahas. Ujung-ujungnya berakhir kegagalan. Revolusi yang diomongkan penggagas komunisme di Indonesia itu terlalu terburu-buru. Tidak rapi. Bahkan dalam tulisannya, Tan Malaka sendiri mengkritik revolusi komunis saat itu tidak terorganisir.

Semaoen, Muso, Alimin yang mengutamakan hak atas tanah itu bisa dibilang tidak bijak. Memang kepemilikan tanah penting. Tapi memberikan tanah pada orang tidak terdidik sama saja dengan menyelamatkan bayi dari lubang buaya dengan menaruhnya di kandang singa.

"Perbedaan revolusi dengan evolusi itu ada pada huruf r. Revolusi itu menyertakan rakyat," kata Pak Tjokro. Itu yang membuat Pak Tjokro lebih memprioritaskan pendidikan untuk rakyat daripada tuntutan agrarianya Semaoen.
Ada sindiran menarik dari Agus Salim dalam perdebatan di rapat internal Syarikat Islam. "Kita butuh lebih banyak lagi orang-orang pintar seperti Semaoen dan untuk itu butuh pendidikan," katanya. Sindiran Agus Salim lainnya juga menarik, "Kata-kata yang diiringi bukti adalah jiwa Islam."

Belajar menjadi pria romantis dari Pak Tjokro

Guru Bangsa ini mengajarkan hakikat romantisme. Jalinan pernikahan Pak Tjokro menggambarkan benar hal yang akan dialami setelah menggenapkan separuh agama. Ada banyak susahnya. Banyak pengorbanan yang perlu diberikan untuk umat. Apalagi Pak Tjokro ini seorang mujaddid. Pembaharu. Ksatria piningit. Jang Oetama. Cobaan yang Allah berikan jauh lebih besar daripada ke masyarakat kebanyakan.

Menariknya Pak Tjokro ini seorang gentleman. Perilakunya ke sang istri sangat layak ditiru. Romantisme seorang suami yang meninggikan derajat istrinya, di tengah-tengah masyarakat yang masih sangat patriarkal.

Kemungkinan besar Soekarno belajar menjadi gentleman dari Pak Tjokro ini. Dalam buku Kuantar ke Gerbang, Bu Inggit menjelaskan betapa romantisnya Soekarno. Memasangkan bunga di rambut Bu Inggit dan membantunya berhias.

Lalu darimana Pak Tjokro belajar romantisme? Dugaan saya dari hadits Nabi tentang perilaku terhadap istri. Walau memang pasti ada pengaruh juga dari didikan Belanda.

Ada sindiran menarik juga bagi kaum lelaki yang perlu kaum wanita waspadai. Hobi nyepik. "Jangan percaya mulut lelaki, berani sumpah tapi takut mati."

Belajar bijaksana dalam berdakwah dari Pak Tjokro

Guru Bangsa mengajarkan kebijaksanaan. Pak Tjokro dari luar bertindak seperti menjadi antek Belanda. Namun seorang pembaharu punya kebijaksanaan yang sering sulit dimengerti orang kebanyakan.

Justru dengan berkoalisi dengan Belanda itulah, Serikat Islam bisa punya 181 cabang perwakilan dan 2,5 juta anggota lebih. Itu di masa belum ada alat komunikasi canggih apalagi social media.

Thariq mengomentari hal ini, "Film ini kurang menggambarkan koordinasi Serikat Islam mengembangkan organisasi. Pasti kan sangat sulit."

Ryan mengamati bagaimana konflik orang Jawa dan Tionghoa sudah sangat keras pada masa itu. "Memotong kepang rambut itu artinya mengorbankan harga diri," kata Ryan.

Kerapian organisasi yang lahir dari kebijaksanaan. Dimulai dari Serikat Islam, lalu Masyumi, dan sekarang partai yang dibenci dan dicaci banyak orang sekaligus dirindukan juga.

Belajar menerapkan hijrah di akhir zaman dari Pak Tjokro

Teladan Pak Tjokro bagi binaan yang masih SMA juga adalah semangat menuntut ilmu. Pak Tjokro ini anak terpandai di sekolahnya. Mengapa? Karena Pak Tjokro dari kecil sudah gelisah akan kondisi masyarakat. Galau kalau bahasa gaulnya.

Kegelisahan ini mendorongnya untuk mencari ilmu. Hijrah, gaung Pak Tjokro berkali-kali. Hal pertama yang perlu dicari dalam belajar adalah kegelisahan, rasa tidak nyaman. Dengan itu sesulit apa pun kita belajar, akan terus berjuang.

Berikut ini komentar binaan yang nonton bareng film ini tentang Pak Tjokro.

"Dia ialah seseorang yg suka membantu org yg memang bersungguh sungguh dan dia selalu teguh dgn keputusannya." Ryan

"Cokroaminoto sang guru bangsa adalah orang yang memiliki kepribadian dan pendirian yang sangat kuat, dia sangat menganggap serius hal-hal yang diajarkan padanya, salah contohnya adalah dia diperintahkan untuk hijrah oleh gurunya dan dia pun rela mengambil segala resiko demi pergi berhijrah. Dia juga adalah orang yang jenius, berambisi tinggi, pandai berbicara, dan pandai mengatur strategi. Dia selalu teguh pada keputusan yang dibuatnya walaupun keputusan tersebut dipandang buruk oleh orang lain." Thariq

Film ini sangat mendetail. Bahkan sampai tentara pun dibuat ada Londo Totok dan juga Londo Ireng. Memang didesain untuk rugi tampaknya. Film sejarah yang isinya banyak percakapan tidaklah menarik bagi kebanyakan penonton Indonesia. Durasinya 160 menit bahkan. Namun itu film ini sangat menyentuh nurani, membuat kita lebih mengenal asal-muasal bangsa Indonesia yang terdistorsi di buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Semoga menjadi amal jariyah cucu dan cicit Pak Tjokro yang sudah susah-payah membuat film ini. Mereka sampai riset ke Belanda untuk mencari dokumen sejarah bahkan.

Hijrah. Ini yang menjadi tema utama kehidupan seorang pembaharu Indonesia, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Saya tutup resume mentoring kali ini dengan percakapan menarik dari Pak Tjokro dan Agus Salim.

"Sudah sampai mana hijrah kita?" kata Pak Tjokro.

"Arafah mungkin," jawab Agus Salim.

"Sudah benarkah arah hijrah kita?"

"Dalam hijrah selalu ada masa kesepian dan keterkucilan."

"Hijrah yang benar adalah: setinggi-tinggi ilmu. Sepandai-pandai siyasah. Semurni-murni tauhid."

No comments :

Post a Comment