-->

Berbagai hal menarik yang bisa kita pelajari dari buku dan pengalaman orang lain.

Powered by Blogger.

Thursday, 7 May 2015

Negara di Mulut Krisis: Jangan Sampai Melupakan Sejarah

No comments :
April 2015. Hingar-bingar kembali muncul di Bandung dan Jakarta. Perwakilan dari berbagai negara datang untuk memperingati 60 tahun pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.

Kalau bernostalgia ke dekade 50-an, Indonesia saat itu sedang menjadi sorotan dunia. Walau belum 10 tahun merdeka, Indonesia mampu memimpin negara-negara yang baru merdeka dan juga yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya. Hingga pada 18-24 April 1955, Indonesia menjadi tuan rumah  Konferensi  Asia Afrika. Salah satu ajang  politik paling besar di dunia. Praktis Indonesia menjadi salah satu pusat dunia.

Selang beberapa tahun, Soekarno menggaungkan New Emerging Forces. Poros baru yang berusaha menandingi Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Dua poros terakhir ini menjadi superpower karena kemenangan mereka di Perang Dunia II. New Emerging Forces menjadi pilihan alternatif kekuatan baru.

Indonesia pun mulai mendapat tarikan dari Poros Barat dan Timur. JFK dan Soekarno cukup intens berinteraksi. Namun Soekarno kurang menyukai permintaan Blok Barat, dengan lantangnya ia berkata, “Go to hell with your aid!” Keberanian yang jarang dimiliki pemimpin banyak negara.

Ditambah lagi adanya konflik dengan Malaysia yang disokong Inggris membuat Indonesia memilih untuk lebih merapat ke Blok Timur. Kubu komunis di dalam negeri seperti mendapat angin segar. Namun ini menimbulkan konflik dengan kubu lainnya. Kubu agama didepak dengan dibekukannya Masjoemi tahun 1960. Sementara itu desakan PKI untuk mempersenjatai petani menimbulkan adanya ketegangan kaum sosialis dengan militer.

Politik mercusuar yang Soekarno dorong membuat Indonesia mendapat lebih banyak lagi sorotan. Sebagai seorang arsitek, Soekarno banyak membangun monumen untuk membesarkan hati rakyat. Sayangnya fondasi ekonomi Indonesia buruk. Indonesia terkena krisis.

Kebijakan Benteng yang waktu itu diterapkan terlalu membatasi hak sebagian warga negara untuk membuka badan usaha. Sertifikat untuk membentuk perusahaan hanya dimiliki oleh orang tertentu. Bahkan peranakan Tionghoa tidak bisa membentuk perusahaan. Praktik jual beli sertifikat hak usaha pun terjadi. Ditambah lagi pengusaha tidak didorong untuk ekspor, kebanyakan mengimpor produk untuk dijual lagi di dalam negeri.

Ketahanan pangan Indonesia saat itu buruk.  Kelaparan terjadi di mana-mana. Kharisma pemimpin sebesar Soekarno pun sulit membuat rakyat lupa bahwa perutnya lapar.

Terjadi inflasi gila-gilaan. Pemerintah sampai terpaksa melakukan sanering. Uang seribu rupiah nilainya dipotong menjadi hanya Rp.1. Tentu sanering ini berbeda dengan redenominasi. Redenominasi hanya mengubah nominal pecahan, sementara sanering memotong nilai uang itu sendiri. Rakyat dimiskinkan oleh sistem.

Hingga puncaknya pada tahun 1965, beberapa pihak di dalam PKI tersulut untuk melakukan revolusi. Ini dimulai dengan penculikan dan pembunuhan para jenderal.

Adanya krisis membuat masyarakat lebih mudah diprovokasi. Timbul upaya perlawanan untuk memberantas komunis di Indonesia. Memang sulit mengukur jumlah korban saat itu. Namun bisa dipastikan ratusan ribu orang jadi korban. Dampak dari krisis tahun 60-an terlalu mengerikan.

Setelah itu, Soeharto memulai kepemimpinan masa Orde Baru. Seperti Lee Kuan Yew di Singapura dan juga Park Chung-hee di Korea Selatan, kestabilan politik dan ekonomi menjadi prioritas utama pemerintah baru  ini.

Haluan negara yang cenderung komunis beralih menjadi kapitalis. Banyak investasi asing masuk Indonesia. Pemerintah mencanangkan Rencana Pembangunan Lima Tahun untuk memastikan arah pembangunan Indonesia. Kemakmuran mulai datang ke negeri Zamrud Khatulistiwa.

Mulai tahun 70-an, pertumbuhan ekonomi Indonesia maju sangat pesat. Ada 7 negara yang ekonominya tumbuh setidaknya 7% per  tahunnya. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan juga Indonesia. Pertumbuhan ini terus berlanjut selama seperempat abad. Lagi-lagi, Indonesia diprediksi  menjadi kekuatan besar ekonomi dunia.

Namun lagi-lagi pertumbuhan terjadi di atas fondasi ekonomi yang rapuh. Kemudahan izin perbankan lewat Pakto (Paket Oktober pada tahun 1988) membuat bank-bank menjamur. Dari hanya 66 di tahun 1988 menjadi 160 di tahun 1993. Sayangnya kontrol terhadap perbankan ini lemah. Bank Indonesia hanya mewajibkan simpanan aset bank di BI hanya 2% dari semula 15%. Praktik perbankan mulai tidak sehat.

Banyak yang berinvestasi di bisnis properti. Namun saat gelembung properti meletus, kredit-kredit macet mulai bermunculan  di tahun 90-an. Lampu kuning industri perbankan mulai ada pada tahun 1992. Ketika Bank Summa milik grup Soeryadjaya bangkrut dengan utang hampir US$ 800 juta.

Kepatriotan William Soeryadjaya memaksanya melepas saham di Astra daripada harus membebankan pelunasan utang ke APBN (sementara kebanyakan bank lainnya diselamatkan oleh BLBI). Namun akibatnya, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia lepas tidak menjadi milik bangsa ini lagi.

Belum lagi praktik KKN yang membuat beberapa usaha tidak jelas mendapat aliran dana investasi.salah satu skandal besarnya adalah Eddy Tansil, yang berhasil meminjam US$ 520 juta dengan jaminan dari penguasa. Pinjaman ini ia dapat untuk mengimpor barang yang bahkan belum dia pesan. Sempat dipenjara karena terbukti korupsi, namun Eddy Tansil melarikan diri ke luar negeri.

Krisis pun terjadi  pada tahun 1997. Yang semula terjadi di Thailand ternyata berdampak ke seluruh Asia. Krisis ekonomi terjadi lagi yang mengakibatkan jatuhnya rezim Orde Baru. Kesulitan yang masyarakat Indonesia rasakan membuatnya menjadi mudah diprovokasi. Kerusuhan terjadi di berbagai tempat. Akibatnya lagi-lagi mengerikan. Jangan bandingkan mana yang lebih mengerikan, tragedi 65-66 atau 97-98. Kalau boleh memilih, sebaiknya kedua tragedi itu tidak perlu terjadi.

Sedikit sekali orang yang bisa memperkirakan krisis ekonomi 97. Karena penampakan luar ekonomi Indonesia sebenarnya terlihat sehat. Pahun 1996. account deficit Indonesia sebenarnya cukup rendah, hanya 3,5% dari GDP. Sebagai gambaran, account deficit Indonesia tahun 2013 itu 3,7% dari GDP.

Lalu bagaimana dengan Indonesia saat ini? Pasca-krisis ekonomi 97-98, Indonesia kembali pulih dan mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Pada 2 periode masa pemerintahan Susilo  Bambang Yudhoyono, ekonomi Indonesia tumbuh di  atas 5% per tahun.

Dari pertumbuhan ekonomi ini, sejak 2004 ada 7 juta penduduk Indonesia yang pendapatannya meningkat menjadi golongan kelas menengah. Ditambah lagi, komposisi penduduk Indonesia sedang mengalami bonus demografi. Sampai dekade 2030-an, lebih dari 60% penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Saat ini benar-benar menjadi periode emas negeri ini. Bahkan McKinsey memprediksi Indonesia akan melesat menjadi ekonomi terbesar ke-7 dunia.

Namun jika melihat sejarah prakrisis 65 dan 97 dan berbagai pujian untuk Indonesia waktu itu, bukankah wajar kalau kita waspada negeri ini berada di mulut krisis?

Tahun 2013 lalu, industri batu bara mulai mendapat ancaman. Harga batu bara mulai turun. Ditambah lagi adanya tambang batu bara di Mongolia membuat Tiongkok berpaling dari tambang Indonesia. Undang-Undang Minerba yang membatasi ekspor bahan mentah juga memukul sektor industri tambang.

Memang segi positifnya dalam jangka panjang daya saing Indonesia akan meningkat dengan tumbuhnya industri pengolahan bahan tambang (dan juga penggunaan batu bara domestiki bisa digenjot nantinya). Namun dalam jangka pendek kebijakan ini cukup memukul pelaku industri.

Industri migas juga mulai terkena krisis. Di dunia internasional, perusahaan penyedia jasa migas Schlumberger dan Haliburton sudah merumahkan puluhan ribu karyawannya. Penyebabnya: harga minyak bumi yang jatuh. Perusahaan migas mulai mengencangkan ikat pinggang.

Industri lain yang bergantung pada sektor migas tentu terkena imbasnya. Contohnya saja perbankan. Kredit macet korporat mulai muncul. Keuntungan perbankan menjadi tipis. Untung saja kredit retail sejauh ini masih tetap baik.

Pada krisis dunia tahun 2008, Indonesia masih belum terkena dampaknya karena masih terlokalisasi di level korporat. Perusahaan-perusahaaan besar cukup terguncang pada krisis 2008, namun UMKM mampu menyokong perekonomian. Alhasil krisis 2008 tidak terlalu terasa.

Namun tahun 2015 ini bisa jadi masyarakat mulai merasakan gejala krisis. Nilai rupiah jatuh menjadi 
Rp. 13.000 per US$. Ketergantungan terhadap barang impor membuat harga-harga meningkat. Tahun 2015 industri retail sedang stagnan. 

Padahal dengan melihat pertumbuhan tahun lalu yang 15%, pengusaha berinvestasi dengan harapan tahun ini naik 10%. Sektor properti bahkan turun 40%. Alasannya: masyarakat mulai mengurangi belanja. Pertanyaannya: Ada apa? Apakah Indonesia sedang berada di mulut krisis?

Sejauh ini saya baru melihat adanya perlambatan ekonomi. Pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi. Kondisi belum separah pra-65 dan 98. Namun tidak ada salahnya kalau kita waspada. Kencangkan ikat pinggang!

No comments :

Post a Comment